Pergeseran Jumlah Pengangguran di Sragen

Oleh: Sendi Irawan, SST

Fungsional Statistisi Pertama pada Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen

sirawan@bps.go.id , sendi.irawan29@gmail.com

Instagram       : @sendi.irawan29

SELAIN data kemiskinan yang sangat ditunggu oleh pemerintah, tentunya adalah data ketenagakerjaan. Karena dengan data ini dapat dilihat berapa jumlah penduduk bekerja, jumlah pengangguran, serta berbagai indikator ketenagakerjaan lainnya, seperti kegiatan formal/informal, pekerja anak dan sebagainya.

Hal ini sangat berkaitan erat dengan berhasil atau tidaknya program yang telah dilakukan oleh pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis keadaan ketenagakerjaan di Indonesia. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan pada Tahun 2019. Pada Agustus 2019, TPT turun menjadi 5,28 persen dibandingkan  Agustus 2018 sebesar 5,34 persen. Hal ini juga berbanding lurus dengan TPT Kabupaten Sragen yang pada Agustus 2019 turun menjadi 3,34 persen dari sebelumnya 4,82 persen pada Agustus 2018.

Kondisi ini tentu menjadi angin segar bagi pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen, karena beberapa program yang telah dilakukan dapat menurunkan TPT sebesar 1,48 persen poin. Namun di satu sisi, jika kita amati lebih dalam masih ada fenomena yang perlu menjadi perhatian, yaitu pergeseran jumlah pengangguran terbanyak dari segi lulusan pendidikan.

Pada Agustus 2018, lulusan SMK menjadi penyumbang terbesar pengangguran dengan TPT mencapai 1,55 persen diikuti lulusan SMA dengan TPT 1,15 persen, dan lulusan Diploma sebagai penyumbang terkecil pengangguran dengan TPT 0,12 persen.

Sedangkan pada Agustus 2019 justru lulusan SD dan SMP menjadi penyumbang terbesar pengangguran dengan TPT 0,89 persen dan lulusan Diploma tetap menjadi penyumbang terkecil pengangguran dengan TPT 0,07 persen di Kabupaten Sragen.

Khusus untuk lulusan Diploma sebagai penyumbang terkecil pengangguran mungkin salah satu faktornya karena jumlah lulusan Diploma lebih sedikit dibanding lulusan yang lain yaitu sebesar 2,05 persen dari angkatan kerja. Namun hal yang menarik tentu adalah tingginya penurunan pengangguran untuk lulusan SMK dan SMA serta kecilnya penurunan pengangguran untuk lulusan SD, dan justru bertambahnya pengangguran untuk lulusan SMP, yang menyebabkan lulusan SD dan SMP sebagai penyumbang terbesar pengangguran pada Agustus 2019.

Di satu sisi pemerintah daerah telah berhasil membuat program yang dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan SMK dan SMA, mungkin beberapa di antaranya dengan adanya kegiatan JobFair, kegiatan pelatihan berbasis kompetensi dan dibukanya banyak lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA dan SMK.

Akan tetapi di sisi lain pemerintah daerah juga perlu memperhatikan kondisi lulusan SD dan SMP yang pada Agustus 2019 menjadi penyumbang terbesar pengangguran, mungkin ada beberapa program yang perlu dievaluasi sehingga jumlah pengangguran dapat terus menurun dan penurunannya sejalan, apalagi lulusan ini masih mendominasi angkatan kerja di Kabupaten Sragen dengan 44,50 persen-nya lulusan SD dan 19,68 persen-nya lulusan SMP.

Melihat fenomena di atas pemerintah daerah harus menggali lebih dalam program-program apa saja yang perlu dievaluasi atau ditingkatkan. Jika dilihat dari status pekerjaan pada pekerjaan utama, pada Agustus 2018 penduduk Kabupaten Sragen yang bekerja dengan status berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh sebesar 43,77 persen serta penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan dan pekerja bebas sebesar 44,26 persen sedangkan sisanya adalah pekerja keluarga.

Pada Agustus 2019 penduduk yang bekerja dengan status berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh turun menjadi 39,25 persen serta penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan dan pekerja bebas naik menjadi 51,60 persen sedangkan sisanya adalah pekerja keluarga.

Dari data tersebut hal yang mungkin dapat dilakukan pemerintah daerah adalah dengan mengadakan pelatihan keterampilan kepada lulusan SD dan SMP sehingga mereka dapat membuka usaha dengan memanfaatkan keterampilannya, membantu menciptakan lapangan usaha yang potensial sesuai dengan kemampuan lulusan SD dan SMP, serta bekerja sama dengan perusahaan agar melakukan penerimaan tenaga kerja yang dapat mengakomodasi lulusan SD dan SMP serta pengurangan PHK.

Dengan demikian pengangguran yang tinggi pada lulusan tersebut dapat teratasi, apalagi jika kita lihat kondisi Agustus 2019, jumlah buruh/karyawan dan pekerja bebas semakin meningkat dibanding Agustus 2018.

Dilihat dari lapangan usaha, sektor pertanian Kabupaten Sragen masih mendominasi dibandingkan sektor-sektor usaha yang lainnya, namun pada Agustus 2019 ada peningkatan yang cukup signifikan pada sektor industri. Hal tersebut juga bisa menjadi acuan pemerintah daerah untuk menentukan program yang tepat.

Di sektor pertanian, pemerintah daerah mungkin dapat memberikan bantuan berupa modal usaha berupa alsintan, pupuk ataupun benih namun harus dikelola secara profesional sehingga tepat sasaran.

Untuk sektor industri, pemerintah daerah mungkin perlu lebih memperhatikan sektor industri mikro dan kecil serta industri rumahan, yaitu dengan memberikan suntikan modal, alat, inovasi produk ataupun memfasilitasi pemasaran produk, karena secara umum lulusan SD dan SMP masih banyak yang bekerja pada kedua sektor ini. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here