Refleksi Akhir 2020 dan Awal 2021

5 Min Read


Oleh Dr. H Multazam Ahmad,MA
Sekretaris MUI Jateng

SETIAP orang yang beriman dalam beberapa kesempatan dan waktu, hendaklah berhenti sejenak untuk muhasabah atau menghitung-hitung diri dan amal yang telah dilakukan pada hari-hari yang lalu, kemudian berusaha memperkuat keinginan untuk dapat memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Sebagai orang yang beriman, harus menyiapkan diri hari esuk yang lebih baik. Allah SWT telah mengingatkan kita melalui muhasabah atau intruspeksi diri untuk mempersiapkan menyongsong hari esuk yang lebih baik. Allah SWT berfirman:  


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  (QS.  Al-Hasyr: 18)

Sesungguhnya hari-hari yang berlalu, bulan-bulan yang datang silih berganti, dan tahun-tahun berakhir kemudian datang tahun yang baru, semuanya berjalan dan berlalu dengan maksud dan mengandung  tujuan yang jelas dari Allah. Allah berfirman:


أحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115)

Penciptaan ini alam raya beserta isinya, termasuk manusia yang ada di dalamnya, serta berlalunya hari dan waktu yang datang silih berganti, bukanlah untuk dilalui dengan bentuk permainan dan kesia-siaan belaka. Tentunya bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah hari-hari itu dilalui dengan senang –senang. Sebaliknya bagi orang yang beriman kepada Allah, tentunya diharapkan dengan pergantian hari dan waktu diisi melalui dengan ketaatan yang dilakukan dan dijalankan… Dalam ayat yang lain Allah menegaskan: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُوْلِي الألْبَابِ


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran: 190)


Dalam kehidup manusia mempunyai tahapan dan dilalui setapak demi setapak namun pasti, dan kehidupan di dunia ini pasti akan  berangkat menuju akhirat, dan semua akan mendekat menuju kepada kematian. Itulah orang yang beruntung adalah yang selalu menghitung dirinya, maka beruntunglah mereka yang selalu memperbaiki diri dan istiqomah, memohon ampun kepada  Allah dari segala dosa dan salah.  Allah berfirman:
 مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِّلْعَبِيدِ


“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushilat: 46)
Allah memberi waktu yang cukup longgar 24 jam Pertanyaanya mengapa manusia banyak mengalami kerugian?

Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa dan iman yang berkualitas,tanpa diimbangi dengan menghisabatau menghitung dirinya atas apa yang telah diperbuatnya. Apa yang harus dilakukannya  dalam semua hal, lalu kembali kepada Allah dari dosa, dan bertobat dari kukurangannya dalam melakukan ibadah. Karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas.
فَعَن شَدّادِ بنِ أَوسٍ  رَضِيَ اللهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم-  أَنَّهُ قَالَ: الكيِّسُ مَنْ دَانَ نَفسَهَ وعَمِلَ لِما بَعْدَ المَوتِ، والعَاجِزُ مَنِ أَتْبَعَ نَفسَهُ هَواها وتَمنَّى علَى اللهِ الأَمانِي


Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw.  bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstospeksi diri dan beramal untuk kematiannya.  Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”


Rasulullah ini menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan saja untuk melakukan amal sholeh dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, lemah karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan demikian kesadaran dari kekhilafan itulah yang akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala ia melakukan taubat dngan sebenar-benarnya. Rosulullah bersabda:
آدمَ كُلُّ بَنِي خَطاءٌ، وخَيْرُ الخَطَّائينَ التَّوابونَ
 Rasulullah saw. bersabda: “ Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik oang yang salah adalah yang bertaubat.”  (HR. Ibnu Majah dan Darimi)

Khalifah Umar bin Al-Khattab  ra pernah mengucapkan kalimat yang sangat populer untuk menjadi renungan bersama:
حَاسِبوا أَنفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحاسَبوا، وزِنوها قَبْلَ أَنْ توزَنوا، وتأَهبوا لِلعَرْضِ الأَكبَرِ علَى اللهِ


“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar. Jatengdaily.com–st

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.