Pelajaran Apa dan Bagaimana Sikapi Virus Corona

0
255

Oleh Drs KH Muhyidin

Sekretaris MUI Jateng

Sejak merebak beberapa waktu yang lalu, virus corona/covid-19 menjadi momok yang menakutkan bagi dunia global. WHO misalnya menjadikannya sebagai penyakit dengan penularan yang masif (pandemic).

Berawal dari kota Wuhan China, menyebar ke negara-negara Asia khususnya Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ke Timur Tegah khususnya Iran, ke Eropa khususnya Italia, bahkan Amerika Serikat. Saat ini sudah meluas ke lebih dari 100 negara.

Maka kini dideklarasikan virus corona sebagai ancaman global. Bahwa virus corona telah menjadi sebuah realita takdir yang tidak lagi terhindarkan. Dan karenanya di depan kita hanya ada satu pilihan, “hadapi”. Sejatinya memang demikian bahwa semua yang telah menjadi realita tidak mungkin terhindarkan, bahkan  termasuk realita kematian, setiap manusia pasti akan mati, maka mati pun harus dihadapi kalau memeng waktunya telah tiba.

Dampak besar corona bukan hanya soal  penyakit, tetapi berdampak sampingan cukup besar di  bidang keamanan dan ekonomi. Lihat, belum apa-apa pasar keuangan dunia goyah bahkan banyak yang ambruk.

Keresahan dan kekhawatiran yang ditimbulkan oleh virus corona benar-benar riil dan semakin menjadi-jadi. Tapi umumnya semua fokus pada apa itu corona dan bagaimana menghadapi penyebaran virus tsb. Tentu hal itu penting, tapi penting juga bagaimana menemukan pelajaran atau hikmah dibalik itu, dan sikap nyata apa yang harus dilakukan sesuai yang diajarkan oleh agama kita.

Sejarah Wabah Menimpa Negeri Muslim

Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khoth-thob ra, di sekitar tahun ke 17 Hijriyah, terjadi wabah penyakit menerpa kaum muslimin. Wabah itu bermula di suatu daerah bernama Amawas, sebelah barat Yerussalem,  sehingga sejarawan menamakannya dengan nama “wabah amawas”. Bersamaan dengan wabah tsb, terjadi bencana kelaparan melanda negeri kaum muslimin, karena sembilan bulan lamanya seluruh Jazirah Arab tidak diguyur hujan sama sekali. Sejarawan menyebut masa itu sebagai “tahun abu”, sebab banyak hamparan tanah setempat mengering dan hanya menghasilkan debu

Wabah amawas yang terjadi selama lebih/kurang satu bulan itu menjalar ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Total korban jiwa mencapai 25 ribu jiwa. Tercatat Basroh menjadi kota dengan jumlah korban terbanyak.

Di antara mereka yang gugur dari figur-figur penting adalah ; Abu Ubaidah bin Jarroh, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Haris bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail. Sapuan wabah amawas meliputi kawasan tempat tinggal tentara muslimin di Syam, sehingga Jendral Kholid bin Walid ikut terdampak wabah itu, bahkan 40 orang anaknya meninggal dunia setelah terjangkit penyakit itu.

Sementara Haris bin Hisyam terkena wabah amawas setelah mengadakan perjalanan dari Madinah ke Syam/Suriah, yang dalam kafilahnya terdapat 70 orang anggota keluarganya. Hampir seluruhnya meninggal, hanya 4 orang yang selamat.

Umar bin al-Khoththob menyadari adanya wabah amawas pada saat perjalanan dari Madinah menuju Syam/Suriah bersama sejumlah pemimpin militer termasuk Abu Ubaidah bin Jarroh, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Sesampai di Sar dekat Tabuk, Umar mendapat informasi dari ketiga tokoh tsb ihwal wabah amawas. Lantas Umar memimpin musyawarah untuk menentukan apakah perjalanan ke Suriah diteruskan atau balik ke Madinah. Saat itu terjadi beda pendapat, sebagian mendesak agar perjalanan diteruskan, sebagian yang lain meminta Umar untuk kembal ke ibu kota Madinah.

Keesokan harinya, usai memimpin shalat shubuh, Umar menyeru kepada seluruh peserta rombongan, saya akan kembali ke Madinah, maka pulanglah kalian. Namun keputusan Umar didebat oleh Abu Ubaidah, karena pemimpin militer ini diketahui masih memiliki sejumlah pasukan di barak-barak tempur di Suriah. Kata Abu Ubaidah, wahai Umar, kita akan lari dari taqdir Allah …? ya, lari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah juga, jawab Umar.

Saat keduanya beradu argumentasi datanglah Abdurrahman bin ‘Auf, mengingatkan kepada mereka berdua ihwal sabda Nabi saw ; “idza sami’tumut-tho’una bi ardlin, fala tadkhuluha, wa idza waqo’a bi ardlin wa antum fiha, fala takhruju minha”. (muttafaqun ‘alaih); artinya, apabila kalian mendengar wabah tho’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri, sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.

Hadis ini menjadi panduan normatif bagaimana sikap menghadapi wabah penyakit. Hadis lain terkait dengan penyakit , Nabi mengajarkan doa, sebagaimana hadis diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad yang shohih ; “allahumma inni a’udzu bika minal-baroshi wal-jununi wal-judzami wa sayyi-il asqom”, artinya, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit belang, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk lain.

Alangkah bijaknya seandainya manusia bisa mengambil ‘ibroh (pelajaran) dari kasus corona ini. Karena sejatinya bagi orang beriman tak satu peristiwapun yang terjadi dalam hidup kecuali memiliki hikmah-hikmah (wisdoms), yang mengingatkan sekaligus menyingkap beberapa fakta tentang manusia itu sendiri. Adapun diantara fakta tentang manusia yang terungkap oleh kasus corona ialah sbb.

Pertama, bahwa manusia, siapapun, kapanpun, dan dimanapun sangat terbatas dalam segala hal. Corona, barangkali berwujud sesuatu yang lemah, tapi manusia yang kerap merasa hebat nampak tidak mampu menghadapinya. China dan Amerika saat ini merupakan dua negara yang memiliki kekuatan terbesar dunia, ternyata juga ketar-ketir. Alquran mengingatkan, “wa kanal-insanu dlo’ifa”, dan manusia itu lemah (terbatas). “manusia lemah”

Kedua, bahwa ilmu dan pengetahuan manusia tentang hidup dan segala yang terkait dengan hidup sangatlah terbatas  dan sedikit. Kalau sekiranya ilmu pengetahuan manusia tidak terbatas, tentu sebelum   kasus corona ini  terjadi sudah dipersiapkan perangkat untuk menangkalnya. Buktinya setelah sekian nyawa melayang, obatnya juga belum ditemukan. Alquran mengingatkan “wa ma utitum minal-‘ilmi illa qolila”, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit. “ilmu pengetahuan terbatas”

Ketiga, bahwa manusia memiliki tabiat cenderung “panik”. Panik adalah sebuah sikap yang karena kekhawatiran berlebihan, maka bereaksi tanpa pertimbangan yang sehat. Reaksi tanpa pertimbangan sehat ini membawa kepada ragam akibat yang tidak sehat. Kita menyaksikan, panik inilah yang membuat banyak manusia yang bereaksi diluar batas, misalnya memborong barang-barang kebutuhan dari pertokoan sehingga ada pihak lain yang dirugikan. Al quran menyatakan ; “wa kanal-insanu ‘ajula” (tergesa-gesa). “banyak orang yang panik”

Keempat, bahwa manusa itu sangat rapuh dan labil dalam segala hal. Dengan meluasnya berita tentang corona di media masa, bahkan siang malam tiada henti berita itu, menyebabkan banyak orang yang kemudian mengalami goncangan jiwa. Saat ini rumah-rumah sakit membludak, bukan karna corona, tapi lebih karena ketakutan berlebihan.

Al quran menyebutkan dua penyakit berbahaya manusia ; al-khauf wal-hazan (ketakutan dan kesedihan). “banyak orang yang labil”.

Kelima, bahwa manusia itu memiliki tendensi egoistik yang tinggi. Tendensi inilah yang kemudian berpotensi melahirkan berbagai manipulasi dalam hidup. Lihat, betapa sebagian orang menggunakan kesempatan musibah corona ini untuk meraup keuntungan pribadi dengan memanipulasi harga barang-barang keperluan dasar untuk menghadapi corona. Masker misalnya tiba-tiba habis di pasaran dan hanya ditemukan dengan harga berlipat-lipat. Al quran qs al-fajr : 20 mengingatkan ; “wa tuhibbunal-mala hubban jamma”, artinya dan kamu mencintai harta dengan cinta yang berlebihan. “mencari keuntungan dibalik musibah corona”

Keenam, bahwa manusia itu perlu sadar zaman. Dunia kita adalah dunia global yang ditandai oleh satu hal yang disebut “ketergantungan” (interdependence), ketergantungan satu sama lain.  Corona awalnya terjadi di Wuhan – China, kini hampir semua bagian dunia ikut merasakan akibatnya. Bahkan Amerika tersadarkan kebutuhan obat-obatannya terancam krisis karena selama ini 80 % bahan bakunya diproduksi oleh China, negara asal corona. Amerika yang super power saja punya ketergantungan, apalagi

TUNTUNAN ISLAM

Dalam Islam, menyikapi realita hidup, apa saja, yang baik maupun yang buruk, besar atau kecil, termasuk isu corona, selayaknya dihadapi dengan 5 (lima) hal.

a.   Pertama, ketika ada sesuatu yang dianggap tidak menguntungkan, atau sebuah musibah, ada kemungkinan hal itu merupakan bagian dari balasan atau peringatan atas kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan (kesalahan kolektif). Karenanya menghadapi corona bagi seorang muslim yang pertama harus dilakukan adalah memohon maghfiroh kpd Allah swt, perbanyak istighfar. Sebab jangan-jangan ini terjadi karena kelalaian demi kelalaian yang selama ini kita lakukan dalam hidup. “banyak istighfar”

b.   Dari masa ke masa, Allah mengingatkan manusia akan kuasa-Nya yang tiada terbatas dengan cara memperlihatkan keterbatasan manusia. Manusia yang sering merasa memiliki kehebatan, kekuatan, keilmuan, ragam inovasi, kekayaan dsb, terbukti memiliki keterbatasan dan kelemahan yang nyata. Buktinya kasus virus corona, dan corona bukan yang pertama kalinya, karena dalam dekade ini saja telah ada kasus virus AIDS/HIV, kemudian flu burung. Semua itu mengingatkan manusia akan kuasa Allah, sekaligus menyadarkan manusia akan kekurangan dan keterbatasannya. “kuasa Allah dan keterbatasan manusia”

c.   Ketiga, sesungguhnya alam semesta dan segala isinya ini berada dalam kontrol tunggal, digerakkan oleh Allah yang memegang kendali langit dan bumi.

Maknanya, bahwa kasus corona ini harusnya semakin menguatkan keyakinan bahwa apa yang diperbincangkan di seantero dunia, tak akan berdampak kecuali memang diizinkan oleh Allah pengendali langit dan bumi ; “ma ashoba min mushibatin illa bi idznillah, wa man yu’min billah yahdi qolbahu ….”. bahwa diantara orang-orang yang berhubungan atau kontak dengan penderita corona, ada yang tertular dan ada yang tidak tertular. Lihat, dari 77 ABK (anak buah kapal) Diamond Princess yang berasal dari Indonesia (WNI)  hanya 9 orang yang positif, 68 orang lainnya negatif. Hal ini sekaligus bisa menjadikan hati kita menemukan ketenangan di tengah keresahan. “terkena penyakit atau tidak terkena, tergantung izin Allah”

d.   Keempat, nampak ada keindahan Islam yang bercirikan “kamil wa mutakamil” ; lengkap dan saling melengkapi. Bahwa dalam menyikapi corona tentu mengharuskan ikhtiar menjaga agar tidak menyebar. Ikhtiar itu dimulai dari ilmu, belajar dari mereka yang ahli pada bidangnya. Para ahli selama ini mengatakan bahwa salah satu cara terbaik untuk membentengi diri dari kemungkinan penularan corona adalah dengan selalu menjaga kebersihan dan kecucian. Bersyukurlah kita bahwa agama kita mengajarkan kebersihan dan kesucian itu ; “at-thoharoh wan-nadhofah”, ada bersuci dari hadas, ada mensucikan najis, ada wudlu, ada mandi, dsb. “indahnya ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan dan kesucian”

e.   Kelima, salah satu bentuk ikhtiar selain yang disebut di atas, adalah dengan menengadahkan tangan ke atas, menundukkan hati, memohon kepada Allah swt yang mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini untuk intervensi. Itulah doa

Percayalah, doa itu senjata yang ampuh, kekuatan yang dahsyat, dan karenanya jangan pernah remehkan doa. Dan Allah berjanji akan mengabulkan doa hambanya. Qs. Ghofir : 60 “wa qola robbukum ud’uni, astajib lakum …….” .

Hadis lain mengingatkan ; “hashshinu amwalakum biz-zakati, wa dawau mardlokum bish-shodaqoti, wa a’iddu lil-bala-i ad-du’a”. Kita disuruh persiapan menghadapi bencana/wabah dengan doa.

“perkuat doa”

FATWA MUI no 14 thn 2020, tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah covid-19.

a.   Setiap orang wajib ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yg dpt menyebabkan terpapar penyakit, krn hal itu mrpk bagian dari tujuan pokok beragama (dloruriyyat al khomsah)

b.   Orang yang telah terpapar virus corona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tdk terjadi penularan kpd org lain. Baginya shalat jumat dpt diganti dg shalat dhuhur. Dan haram baginya melakukan ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat 5 waktu, shalat taraweh, shalat ied di masjid atau tempat umum lain, serta menghindari pengajian umum dan tabligh akbar.

c.   Orang yg sehat dan blm diketahui atau diyakini tdk terpapar virus corona/covid-19, hrs memperhatikan hal sbb

(1)  Dlm hal ia berada di suatu kawasan yg potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, mk ia boleh meninggalkan shalat jumah dan menggantinya dg shalat dhuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat 5 waktu, taraweh, dan ied di masjid atau tempat umum lain

(2)  Dlm hal ia berada di suatu kawasan yg potensi penularannya rendah berdasar ketetapan yang berwenang, mk ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimna biasa, dan wajib menjaga diri agar tdk terpapar virus corona/covid-19, seperti ; (a) tdk kontak fisik langsung ; bersalaman, berpelukan, cium tangan, (b) membawa sajadah sendiri, dan (c) sering membasuh tangan dengan sabun.

d.   Dlm kondisi penyebaran virus corona/covid-19 tdk terkendali di suatu kawasan yg mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumah di kawasan tsb sampai keadaan menjadi normal kembali, dan wajib menggantinya dg shalat dhuhur di tempat masing-masing. Dmk juga tdk boleh menyelenggaran aktifitas ibadah yg melibatkan orang banyak dan diyakini dpt menjadi media penyebaran seperti jamaah shalat 5 waktu, shalat taraweh dan ied di masjid atau tempat umum lainnya serta menghadiri pengajian umum dan majlis ta’lim.

e.   Dlm kondisi penyebaran virus corona/covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat jumah, dan boleh menyelenggarakan aktiftas ibadah yg melibatkan orang banyak, seperti jamaah shalat 5 waktu, shalat taraweh dan ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta mengahadiri pengajian umum dan majlis ta’lim, dg tetap menjaga diri agar tdk terpapar virus corona/covid-19.

f     Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kpd Allah swt dg memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca qunut nazilah di setiap shalat fardlu, memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kpd Allah agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan mara bahaya, khususnya dari wabah virus corona/covid-19.

KHOT IMAH

a.   Kita jangan berpura-pura kebal, atau tidak peduli, atau sengaja menyembunyikan informasi kasus corona demi kepentingan lain. Lalu mengabaikan ikhtiar, tidak melakukan ikhtiar sama sekali. Tapi juga tidak perlu panik, yang penting waspada dan hati-hati.

Panik biasanya menimbulkan sikap berlebihan diluar kewajaran, sedangkan hati-hati akan membangun rasionalitas dan menemukan jalan keluar. Allhumma amin,

b.   Inilah saatnya kita melupakan perbedaan diantara kita, saling menyalahkan yang menimbulkan ketegangan dan konflik, hentikan unggahan-unggahan yang nyinyir, yang tidak pantas, yang hoax, yang menimbulkan masalah baru.

Yang kita utamakan adalah kekompakan, kesatuan, kebersamaan dalam menghadapi musuh corona yang tidak tampak. Mulai hari ini dan hari-hari berikutnya diperlukan kesetiakawanan sosial, terutama kepada masyarakat kelas bawah yang akan terkena dampak ekonomi dari kasus pendemi corona. Bagaimana menerapkan ajaran fastabiqul khairot, dan ajaran ta’awun ‘alal birri.

c.   Sesuai ajaran Nabi saw, para ulama kita membiasakan melakukan qunut nazilah di rokaat akhir shalat saat terjadi musibah besar menimpa masyarakat. Corona tergolong musibah besar itu. Begitupun  disaat ada bencana dan wabah kita dianjurkan membaca doa daf’ul-bala ; tolak bencana. Mari kita lakukan qunut nazilah dan doa daf’ul bala itu dengan penuh kekhusyu’an dan keikhlasan. Doa itu  untuk kita, untuk masyarakat dan bangsa, bahkan untuk umat manusia semua. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here