SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ribuan penyair menjadikan Kota Semarang sebagai sumber ilham karya-karya puisi mereka. Bukan hanya dari Semarang atau Jawa Tengah saja, tetapi juga penyair dari seluruh Indonesia. Bahkan ada sejumlah penyair luar negeri, seperti Belanda, Inggris, dan Prancis, yang mengambil Semarang sebagai bahan pengucapan artisitik puisi-puisi mereka.
Demikian kesimpulan yang bisa ditarik dari pendapat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie, dosen Planologi Universitas Islam Sultan Agung Mohammad Agung Ridlo, dan penyair Sri Boentoro. Mereka berbicara pada acara Bianglala Sastra Semarang TV dengan topik Semarang dalam Puisi Indonesia di Ngesrep, kemarin.
Dipandu oleh Ketua Kumandang Sastra Driya Widiana MS, acara itu juga menampilkan pembacaan puisi oleh siswa SMP Kristen YSKI Semarang Abra Washista dan mahasiswa Teknik Kimia Undip Faiha Nabiilah.
Menurut Gunoto, para penyair yang tertarik menulis tentang Semarang bukan hanya yang mencipta puisi berbahasa Indonesia, namun juga yang berbahasa Jawa. Meskipun tidak banyak, sejumlah geguritan (puisi berbahasa Jawa) banyak ditulis para penggurit kita. Hal ini karena Semarang memang menarik, baik dari segi wisata, budaya, dan sebagainya.
Mohammad Agung menambahkan, para penyair diharapkan tidak hanya menuliskan yang indah-indah saja tentang Semarang. Hal-hal yang tidak indah pun harus dituliskan. Namun, meskipun isinya tidak indah pengungkapannya pun harus indah.
“Semarang memiliki beberapa hal yang tidak indah, seperti banjir, rob, longsor, dan sebagainya. Para penyair harus menuliskannya. Tentu saja dengan kata-kata yang puitis,” ujarnya seraya menambahkan, agar puisi-puisi tersebut dapat dibaca oleh para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan di kota ini.
Membangun Semarang, lanjut dia, haruslah dengan hati. Puisi-puisi tentang Semarang seharusnya menggerakan para pemangku kepentingan untuk bekerja dalam pembangunan dengan hati. Baik sejak perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan.
Sri Boentoro berpendapat, Semarang pada masa kolonial Belanda boleh dikatakan merupakan kota penting setelah Batavia. Karena itu tak mengherankan kalau Semarang menjadi sumber inspirasi karya-karya para seniman. Bukan hanya bagi para penyair dan sastrawan saja, tetapi juga para pencipta lagu dan pelukis.
“Saat itu sejumlah penyair Belanda, Inggris, dan Prancis datang ke Semarang. Mereka bukan hanya sekadar berwisata, namun menulis puisi tentang kota ini. Mereka menulis puisi bukan hanya berdasarkan studi pustaka, tapi melengkapinya dengan terjun langsung ke lapangan. Ada semacam observasi atau riset,” tandasnya.
Baik Gunoto, Agung, dan Boentoro sependapat mengenai perlunya kegiatan Lomba Baca dan Tulis Puisi “Semarang dalam Sajak” yang pernah ditradisikan tiap tahun pada 1970-an oleh Teater Kuncup pimpinan Djawahir Muhammad dihidupkan lagi. Harus diakui, hal itu menghasilkan sejumlah penyair dan pembaca puisi yang bagus. Ugl–st


