Ternak Ayam Arab dengan musik, kini dibudidayakan di Tegal. Foto: Wing

TEGAL (Jatengdaily.com)- Musik merupakan suara yang disusun sehingga mengandung irama, nada dan keharmonisan. Namun, apa jadinya jika musik dipadukan dengan budidaya Ayam Arab petelur. Ternyata, cara ini sangat ampuh dan mulai dilirik sejumlah kalangan, termasuk di Kota Tegal.

Baru-baru ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal melalui Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan (DKPPP) setempat melakukan pelatihan pengembangan ternak ayam arab petelur. Ini dilakukan, untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat menengah ke bawah.

Namun, ada yang menarik dan sedikit unik dari pelatihan tersebut. Dimana dalam praktiknya, para peternak wajib menyalakan sebuah musik pada saat akan beraktivitas di dalam kandang. Hal ini dibenarkan Kepala Bidang Peternakan DKPPP Kota Tegal, Heru Prasetya Sabtu (18/1/2020).

“Kami bentuk sepuluh kelompok dengan anggota 10 orang. Masing-masing sudah kami beri pelatihan teori hingga praktik, serta pembelajaran langsung di Tulungagung, Blitar dan Malang, Jawa Timur selama beberapa hari,” katanya.

Lebih lanjut Heru menerangkan, dalam pelatihan tersebut, pihaknya sengaja menggandeng peternak dari Jawa Timur yang lebih dulu telah sukses menerapkan budidaya ayam arab petelur. Dimana dalam prosesnya, setiap kandang ayam wajib diberikan pengeras suara yang tersambung dengan pemutar musik.

Adapun berbagai jenis musik yang diputar, dilakukan pada saat peternak akan beraktivitas di dalam kandang. Hal ini dilakukan, guna mengurangi gangguan pada ayam yang dapat stres sewaktu-waktu. Dengan demikian, tingkat ketenangan ayam dapat berdampak pada daya tahan tubuh, sehingga melancarkan proses bertelur.

“Ayam Arab ini mudah stres. Jika sudah stres, maka proses bertelurnya akan terhambat. Dengan diputarkan musik, ternyata ayam-ayam bisa tenang dan tidak merasa terusik,” sebutnya.

Setelah memberi bantuan berupa kandang dengan isi 500 ekor ayam arab serta 60 kantong pakan, DKPPP Kota Tegal juga membentuk tim medis dan tim pendampingan. Dengan tujuan, untuk mengetahui perkembangan budidaya ayam arab petelur selama pelatihan.

“Dari segi medis, kami siapkan tim khusus yang siap melakukan tindakan bila diperlukan. Ada juga tim pendamping yang terus memantau perkembangan di lapangan. Sehingga dengan begitu pelatihan ini diharapkan benar-benar bisa mendongkrak ekonomi masyarakat kecil,” tukasnya.

Salah satu peternak Ayam Arab petelur, Aminudin mengatakan, selain menyalakan musik saat beraktivitas di kandang, makan dan minum ayam juga harus dijaga. Hal itu dilakukan, guna mencegah hewan ternak terjangkit penyakit serta virus.

Untuk minuman, warga Pasir Agung RT 13/ RW 10 ini mengaku, harus mengganti maksimal dua hari sekali. Sedangkan untuk pakan, setiap hari dikontrol agar ternak tidak kelaparan.

“Setiap hari makan dan minumnya dikontrol. Siapa tahu ada ayam yang sakit juga, nanti kita lapor ke tim medis DKPPP,” ungkapnya.

Berberda dengan telur Ayam Ras, harga jual telur Ayam Arab diakui Aminudin lebih mahal. Sebab, telur ayam arab dijual per butir, dengan harga kisaran Rp 1.600 hingga Rp 2.000. Sementara telur ayam ras, dijual dengan sistem kiloan.

“Telur ini dijualnya per butir, bukan kiloan. Beda dengan telur ayam biasa. Makanya pola pemeliharaannya juga khusus, dari mulai pakan dan minum, sampai dengan diberikan musik,” bebernya. wing-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here