Focus Group Discussion Dewan Profesor Senat Akademik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, bertajuk Pendidikan Budaya Anti Radikalisme Mahasiswa Undip. Foto: she

SEMARANG  (Jatengdaily.com) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Dr Drs Boy Rafly Amar MH mengatakan, penyebaran paham radikalisme saat ini dilakukan melalui dunia maya.

‘Perlu diwaspadai, penyebaran paham radikalisme lewat dunia maya makin kuat. Dunia maya menjadi tempat strategis yang menyasar pengguna generasi muda, untuk menyebarkan radialisme,’’ jelasnya Selasa (4/8/2020), dalam Focus Group Discussion (FGD) Dewan Profesor Senat Akademik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, bertajuk Pendidikan Budaya Anti Radikalisme Mahasiswa Undip.

Menurutnya, jika dilihat saat ini sebanyak 70 persen warga negara Indonesia selama tujuh jam sehari menggunakan internet. Sedangkan sebagian besar pengguna internet itu adalah generasi muda, kaum milenial. Sehingga tidak sedikit akun, website, dan konten yang harus diwaspadai sebagai perkembangan radikalisme, yang bisa  jadi rujukan masyarakat Indonesia.

Tindakan teror diakui Boy sebagai pertarungan antara ideologi Pancasila dan non Pancasila. Ideologi gerakan radikalisme pun melakukan sejumlah propaganda dari kelompok jaringan terorisme global yang menyebarkan permusuhan dan ditularkan lewat dunia maya ke penduduk Indonesia.

‘’Oleh karena itu kampus juga harus terus waspada, tegas dan melakukan pengawalan ketat pada mahasiswanya. Salah satu upaya yang dilakukan bisa lewat  bela negara dengan pemahaman kebangsaan ideologi Pancasila dan membangun semangat nasionalisme di dalamnya,’’ jelasnya.

Kampus Terpapar Radikalisme

Sementara itu  Rektor Undip Prof Dr Yos Johan utama SH MHum mengatakan,  tidak bisa dipungkiri, puluhan kampus di Indonesia saat ini diduga terpapar radikalisme. Kondisi ini perlu diwaspadai.

‘’Saya melihat betapa mahasiswa kita betul-betul mepet-mepet bahaya. Gerakan radikalisme  tidak nampak di kampus, masif dan berstruktur dan ada dukungan dari pihak lain, sehingga membahayakan betul,’’ jelasnya.

Prof Yos mengatakan, gerakan rdikalisme di kampus berkamulflase dengan memanfaatkan kegiatan mahasiswa. ‘’Untuk merekrutnya pun dilakukan dengan semua cara yang dianggap halal, bohong fitnah, mahir medsos, militanisme anggota kuat, playing victim, mengauasai tempat ibadah, cari masalah untuk menyudutkan pihak kampus, dan menggiring opini silent majority untuk melawan pimpinan kampus dalam segala hal.

Menurutnya, oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melawan untuk memberantasnya. Penindakan tegas, dan harus diputus mata rantainya, jadikan radikalisme menjadi musuh bersama. Bahkan kita PT harus tegas jika memang  mahasiswa dan dosen dan lainnya, terpapar dan terindiaksi, maka jangan bertele-tele, cukup dipanggi sekali dan keluarkan. ‘Radikalisme dan agama beda. Jadi jangan taku bertindak tegas, jangan karena takut dianggap anti agama dan gaya orde baru, cari amannya saja, menganggap kampusnya  baik-baik saja, maka harus tegas,’’ jelasnya.

Radialisme tidak hanya berakar pada agama saja, akan tetapi juga bisa berakar kepada paham-paham liberalisme, komunisme, bahkan seks bebas. Oleh karenanya, daya dukung PT sangat dibutuhkan dalam meminimalisir munculnya radikalisme di kampus.

Menurut Prof Yos, adanya gerakan radikalisme tak dipungkiri disebabkan banyak faktor. Dari mulai kebebasan akademk yang tak terbatas, pencarian bebas ilmu tanpa pembimbing, kebebsan berserikat, penghargaan pada tokoh perubahan, banyaknya waktu luang tanpa kegiatan dan liberalisasi penddidikan. Sedangkan tahap-tahap radikalisme di kampus biasanya, dimulai adanya kelompok mahasiswa yang senasib dan berkembang pada upaya perlawanan kepada tirani sosial.

Sementara itu Brigjen Umar Effendi Direktur Keamanan Negara Baintelkam Polri, memaparkan sedikitnya 10 kampus di Indonesia saat ini diduga kuat terpapar gerakan radikalisme. Dari survei Badan Intelejen Negara, tiga perguruan tinggi (PT) diantaranya jadi basis penyebaran gerakan radikalisme.

‘’Kecenderungan di kampus, intoleransi dikembangkan dengan menggunakan kendaraan dakwah. Antara terorisme dan radikalisme yang berkambag saat ini ada indikasi yang masuk komunitas ini adalah orang-orang yang pandai,’’ jelasnya.

Dan dari penelitian yang dilakukan terakhir, justru saat ini gerakan radikalisme lebih dibungkus dengan gaya milenial. ‘’Anggota kelompok mereka sekarang modis. Sekarang tidak menonjolkan penampilan fisik seperti dulu, tapi lebih bergaya milenial.  Misalnya, tidak lagi memakai pakaian panjang, namun memakai celana jeans. Bahkan ada aplikasi bagaimana caranya mereka berpacaran kekinian, dan itu sangat milenial. Mereka  menikah sambil kuliah, kelompok ini masuk ke dalam tatanan milenial dengan cara mereka. Sasaran rekrutmennya adalah mahasiswa yang tidak punya teman dan saudara, kemudian mereka megikuti pelatihan. Jika  sudah  masuk akan sangat sulit untuk keluar, ini yang perlu diwaspadai,’’ jelasnya.

Lantas bagaimana cara penanganannya? Menurut Umar Effeni,  dulu masjid mushala jadi tempat yang nyaman bagi mereka yang kumpul dan menyusun stretegi untuk berkumpul dan membuka jaringan. Namun setelah rektor tegas seluruh kegiatan dihentikan, maka, mereka kehilangan tempat. Ada indikasi saat ini justru tempat kos jadi tempat yang rawan. Serangan mereka di tempat kos. Oleh karenanya, kalangan kampus harus melakukan pengecekan dan kontrol yang ketat pada kegiatan kampus, kampus harus tegas dengan aturan-aturannya.  Kegiatan kemahasiswaan selesai, ya selesai,penggunaan  tempat-tempat di bawah otoritas kampus harus seijin rektor,’’ jelasnya.

Kampus juga diharapkan mampu memperbanyak kegiatan untuk menumbuhkan gerakan nasionalisme. Juga melakukan evaluasi terkait dengan kegiatan internal dan eksternal kemahasiswaan, misalnya penggunaan tempat-tempat kampus.

‘’Jangan sampai di kampus kita terlena mahasiswa membuat kegiatan keagamaan, namun ada upaya untuk menggerogoti nasionalisme. Juga melibatkan sejumlah stakeholder dan tokoh di luar kampus, untuk diajak bersama-sama mencegah paham-paham radikalisme dan hal-hal yang mengarak pada ancaman teror. Juga saat memilih pejabat di lingkungan kampus harus benar-benar clear, jangan sampai yang punya agenda lain untuk  menggerakkan mahasiswa. Kita juga bisa meningkatkan sinergi dengan kepolisian untuk mensosialisasikan rawannya paham-pahan fundamental dan teror,’’ jelasnya. She

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here