630 Ribu Pemudik Masuk Jateng

Gubernur Ganjar Pranowo bersama Ketum MUI Jateng, KH Ahmad Darodji dalam program ulama menyapa di TVKU. Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sebanyak 630 ribuan pemudik dari berbagai daerah diperkirakan telah masuk Jateng. Mereka tiba sejak sebelum diberlakukan penyekatan di perbatasan Jateng dengan provinsi lain, 6 Mei 2021 lalu.

Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo menyebutkan, jumlah pemudik yang masuk Jateng mulai dirasakan sejak awal-awal Ramadan. Pada 5 Mei 2021 merupakan puncaknya, kemudian 6 Mei 2021 jumlah pemudik yang masuk Jateng mulai turun drastis karena mulai diberlakukan penyekatan. Pada 7 Mei 2021, sedikit naik lagi dibandingkan sehari sebelumnya.

Dia menilai secara umum ada ketaatan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah terkait larangan mudik. “Saya cek di perbatasan, tidak ada yang positif covid-19. Pemudik yang telah sampai tujuan juga melapor ke aparat pemerintah setempat,” kata Ganjar dalam program Ulama Menyapa yang ditayangkan secara live oleh TVKU Semarang, Senin (10/05/2021).

Acara yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan TVKU tersebut juga menampilkan narasumber Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Achmad Darodji. Dialog berdurasi satu jam mulai pukul 16.00 itu dipandu host Myra Azzahra.

Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Achmad Darodji menilai, secara umum masyarakat sudah patuh pada anjuran pemerintah di masa pandemi ini. Kalau pun ada yang belum taat, hal itu wajar dan tinggal ditegur. “Wajar kalau ada yang belum taat karena persentase jumlah aparat dan masyarakat Jawa Tengah jauh tidak berimbang,” kata dia.

Pihaknya juga tak pernah berhenti untuk menyampaikan tausiyah agar masyarakat taat pada protokol kesehatan. Para ustadz dan khatib juga terus menyampaikan pada jamaahnya.

Terkait larangan mudik, Kiai Darodji kembali mengingatkan, Islam mendahulukan pencegahan dibandingkan pengobatan. Dengan demikian mencegah mudarat (dampak buruk) lebih diutamakan dibandingkan mengambil manfaat. “Dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih,” kutip Kiai Darodji.

Dia mencontohkan, silaturahmi membawa banyak manfaat yakni memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, dijauhkan dari api neraka, mendekatkan diri pada Allah, menjaga kerukunan, serta menjadi makhluk yang mulia.

“Namun kita diminta menghindari bahaya dulu sehingga harus memilih mencegah dampak buruk daripada mengambil manfaat. Apalagi Allah memberikan kemudahan dengan adanya teknologi informasi agar silaturahmi virtual tetap bisa dijalankan,” papar Kiai Darodji.

Demi mencegah dampak buruk, lanjut Darodji, shalat id tahun ini digelar dengan protokol kesehatan ketat. Shalat id di Lapangan Pancasila Simpanglima ditiadakan karena akan sulit pengaturannya. Namun tiga masjid besar di Kota Semarang yang menjadi barometer, menggelar shalat id dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Ketiganya yakni Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid Raya Baiturrahman (MRB), dan Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman. Berdasarkan rapat tiga masjid, disepakati durasi shalat dan khutbah maksimal 20 menit. Setelah selesai, jamaah tidak perlu bersalam-salaman dengan berjabat tangan.

Hal yang sama juga disampaikan Ganjar Pranowo. Larangan mudik didasari pada pencegahan penyebaran virus covid-19.

Dia menyebut larangan juga tidak akan lama. pemerintah juga jauh-jauh hari menyampaikan pengumuman sehingga masyarakat bisa mempersiapkan diri sejak awal.

Ganjar tidak menepis, ekonomi menjadi bagian yang sangat terdampak. Tidak hanya di Indonesia, seluruh dunia juga mengalami nasib sama. Karena itu jika ingin menangani, ada prioritas salah satu dulu, yakni mencegah penyebaran virus corona.

Meski demikian, lanjut Ganjar, pihaknya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi secara online. Menjelang lebaran, UMKM bisa membuat parsel. Pihaknya juga menyiapkan media sosialnya sebagai tempat promosi bagi UMKM setiap Minggu melalui “Lapak Ganjar”. Peminatnya ternyata tidak hanya UMKM Jateng, namun banyak juga dari luar provinsi.

Pemprov Jateng, lanjut Ganjar, juga terus memberikan pelatihan dan pendampingan pada UMKM mulai dari cara produksi, pengemasan hingga pemasaran. Ketika pandemi dan pasar konvensional sepi, ada pasar digital yang ramai untuk jual-beli. Produk ditempatkan di market place, baik yang unicorn maupun buatan Indonesia untuk dipasarkan secara online. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here