Acara Infotainment Menginspirasi Perpecahan Keluarga

Oleh : Nur Khoirin YD

TELEVISI kita atau berbagai media tiap hari menayangkan berita artis atau publik figur dalam acara infotainment. Apa saja yang dilakukan artis bisa menjadi berita menarik yang ditunggu-tunggu oleh fansnya. Mulai dari kamar pribadinya, mobil mewahnya, hobynya, menu makanannya, gaya pakaiannya, gaya pacarnya, dan bahkan hal-hal yang bersifat privasi diobral habis menjasi konsumsi publik. Tidak jarang infotainment memberitakan keretakan rumah tangga dan konflik keluarga si idola dengan sangat detail.

Anehnya, si artis dengan tidak malu menceritakan aib keluarga, dan justru menjadi modus untuk mendongkrak popularitas. Artis ketika popularitasnya menurun tidak jarang membuat sensasi, yang paling mudah adalah memberitakan keretakan rumah tangganya atau dengan berselingkuh. Dan ternyata masyarakat kita sangat menggemari infotainment ini. Terbukti ratingnya terus meningkat dari tahun ke tahun, dan bahkan setiap tahun digelar awards, untuk memberikan penghargaan kepada produsen maupun tv yang menayangkan.

Melengkapi infotainment, sinetron atau film pendek yang tayang di berbagai televisi juga banyak yang menggambarkan kehidupan rumah tangga yang pecah. Perilaku artis yang suka kawin cerai. Kisah-kisah yang diangkat sering tidak realistis. Mengisahkan anak-anak yang hidup hanya dengan ibunya karena bapaknya selingkuh dengan perempuan lain.

Atau sebaliknya, anak-anak hidup hanya dengan bapaknya, sedangkan ibunya kabur dengan laki-laki lain. Penggambaran anak muda yang tidak jelas profesinya, tetapi tiba-tiba menjadi manajer kaya, gaya hidupnya glamuor, menjadi rebutan para cewek cantik, berganti-ganti pacar, pergaulan bebas, hamil sebelum nikah, anak yang berani dengan orang tua, dan terutama kisah-kisah perselingkuhan yang selalu menjadi bumbu-bumbu cerita.

Tontonan Menjadi Tuntunan
Infotainment dan sinetron yang mengisahkan keluarga broken ini kemudian disiarkan dan ditonton oleh jutaan orang melalui layar kaca dan semua media dengan sangat mudah dan murah. Siapa saja dari semua kalangan, dari anak-anak, remaja, sampai orang tua, dari orang awam di desa sampai orang pintar di kota, bisa menonton dari kamar-kamarnya yang paling dalam.

Para pemirsa ini tidak hanya mendapatkan tontonan, tetapi tidak jarang menjadi tuntunan yang menginspirasi dan mempengaruhi hidupnya. Banyak orang karena keterbatasan pendidikan, pengalaman, dan kemampuan berfikir, tidak bisa menyaring atau menyeleksi mana yang baik untuk ditiru dan mana yang harus menjadi pelajaran untuk dihindari. Orang kemudian dengan mudah meniru gaya hidup artis idola yang sering ditonton, baik dalam berpakaian, pergaulan, dan juga prinsip-prinsip hidup.

Publik figur ini ternyata sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Artis tidak hanya memberikan hiburan melalui peran-perannya dalam cerita fiktif sinetron atau film, tetapi menjadi guru yang efektif. Ucapannya digugu (dipegangi) dan tingkah lakunya ditiru. Maka tidak heran banyak orang mudah bercerai karena meniru artis yang suka kawin cerai. Masyarakat memandang, artis idolanya yang menjadi janda atau duda juga tidak apa-apa.

Malah tambah keren dan populer. Perselinghukan yang memicu keretakan rumah tangga juga banyak meniru artis yang selingkuh. Gaya pacaran dan pergaulan bebas juga sering terinspirasi oleh gaya hidup artis yang bebas. Hamil di luar nikah sudah biasa dan bukan aib. Tidak dikatakan modern dan gaul jika tidak pacaran. Doktrin-doktrin begini yang turut merusak moral generasi bangsa.

Pengaruh yang dibawa oleh publik figur yang sangat efektif ini seharusnya diarahkan untuk memberi edukasi masyarakat yang lebih positif. Membangun keluarga modern yang kokoh. Sinetron atau film kita, selain sebagai tontonan, juga bisa menjadi sarana yang efektif untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat, agar lebih maju, disiplin, kompetitif, produktif, dan modern, tetapi tetap dalam bingkai etika-etika yang terjaga.

Komisi Penyiaran Harus Lebih Selektif

Mayoritas masyarakat kita belum pandai menyaring mana tontonan yang baik dan mana yang tidak layak. Oleh karena itu disarankan, agar lembaga sensor film atau Komisi Penyiaran Indonesia, lebih selektif dalam meloloskan film atau sinetron. Cerita-cerita yang meskipun fiktif, yang sekiranya memberikan dampak buruk harus distop. Infotainment semestinya tidak dimanfaatkan sebagai modus popularitas, tetapi yang lebih positif, seperti sportivitas dan membangun etos kerja yang tinggi. Info-info tentang konflik rumah tangga dan perselingkuhan harus dijauhkan dari pemberitaan untuk konsumsi publik, karena akan memberikan pengaruh buruk bagi pelestarian keluarga.

DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/ Advokat Syari’ah, Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st