Pentingnya Pendidikan Entrepreneurship

Oleh: Eli Sufiati, SE
Statistisi Ahli Pertama BPS Kab.Kendal

TIDAK dapat dipungkiri pandemi COVID-19 berdampak signifikan terhadap meningkatnya jumlah angka pengangguran. Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional (SAKERNAS) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2021, jumlah pengangguran atau Tingkat Pengangguran terbuka (TPT) mencapai 6,49 persen atau setara dengan 9,10 juta orang.

Tingkat pengangguran terbuka menurut kategori pendidikan didominasi oleh lulusan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 11,13 persen. Selanjutnya pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 9,09 persen, pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 6,45 persen, pendidikan Universitas sebesar 5,98 persen, pendidikan Diploma I/II/III sebesar 5,87 persen dan pendidikan dengan tingkat pengangguran terbuka paling rendah adalah pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 3,61 persen.

Untuk menekan jumlah pengangguran lulusan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 tentang Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Dengan membuat peta jalan pengembangan pendidikan SMK, menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum pendidikan SMK dengan kompetensi sesuai pengguna lulusan (link and match).

Selain itu meningkatkan jumlah dan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan SMK, meningkatkan kerja sama dengan Kementrian / Lembaga, Pemerintah Daerah, dan dunia usaha / industri, meningkatkan akses sertifikasi lulusan pendidikan SMK dan akreditasi pendidikan SMK serta membentuk kelompok kerja pengembangan pendidikan SMK.

Tiga tahun sejak dilaksanakannya revitalisasi SMK, belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Lulusan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi penyumbang terbesar jumlah pengangguran di Indonesia. Lulusan pendidikan SMK yang digadang-gadang menjadi solusi utama untuk mengurangi jumlah pengangguran malah menjadi penyumbang terbesar jumlah pengangguran.

Belum optimalnya pelaksanaan revitalisasi SMK menjadi penyebab utama tingginya jumlah pengangguran usia produktif tersebut. Dan target dari revitalisasi SMK itu sendiri yang masih berorientasi pada penciptaan tenaga kerja di sektor industri saja.

Nadiem Makarim dalam salah satu visinya mengatakan bahwa penciptaan lapangan pekerjaan akan menjadi prioritas dalam lima tahun kedepan. Akan menciptakan institusi pendidikan yang bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga mencetak SDM yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut penulis, sosok Nadiem sebagai pengusaha dan pendiri Gojek yang sukses inilah yang mendorongnya untuk menciptakan pendidikan yang berbasis entrepreneurship / kewirausahaan.

Ahli ekonomi J.Schumpeter mengatakan entrepreneurship sangat diperlukan untuk mengatasi pengangguran. Pentingnya wirausahawan dalam kegiatan ekonomi suatu negara, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Para pengusaha merupakan golongan yang akan terus menerus membuat pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi.

Menurut ketua umum perhimpunan waralaba dan lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Supit mengatakan Indonesia masih membutuhkan minimal 4 juta pengusaha baru, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia (KOMPAS.com). Mengacu pada data Kementerian Perindustrian, jumlah entrepreneur / pengusaha di Indonesia masih sangat rendah yaitu sekitar 3,47 persen (Merdeka.com).

Dengan menambah wirausaha baru permasalahan ekonomi bisa di minimalisir. Hadirnya entrepreneur – entrepreneur baru khususnya dari lulusan pendidikan Sekolah Menengah kejuruan (SMK) akan membuka lapangan kerja baru di sektor formal maupun informal dan dapat mengurangi jumlah pengangguran, meningkatkan pendapatan masyarakat dan produktivitas manusia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Agustus 2021 jumlah penduduk yang bekerja di kegiatan formal sebanyak 53,14 juta orang (40,55 persen) dan yang bekerja di kegiatan informal sebanyak 77,91 juta orang (59,45 persen). Kegiatan sektor formal mencakup mereka yang berusaha dengan dibantu buruh tetap / dibayar sedangkan kegiatan informal mencakup mereka yang berusaha sendiri, berusaha di bantu buruh tidak tetap / buruh tidak dibayar.

Pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah, untuk menjadikan lulusan pendidikan menengah ke atas (SMA sampai dengan tingkat Universitas) khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai entrepreneur – entrepreneur muda yang sukses. Dengan modal Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar, Indonesia akan mampu bersaing dengan Negara tetangga seperti singapura, Malaysia dan Thailand, di mana Singapura dengan jumlah entrepeneurnya sudah mencapai angka 8,76 %, Malaysia 4,74 % dan Thailand 4,26 %. Jatengdaily.com-yds