Bulog dan Ketahanan Pangan Era COVID-19

(Catatan Kecil HUT ke-54 Bulog)
Oleh:Moh Fatichuddin
Statistisi Ahli Madya
BPS Provinsi Bengkulu

SENIN 10 Mei 2021 Perum Bulog (Badan Urusan Logistik) merayakan HUT nya yang ke 54, usia yang tidak bisa dikatakan muda untuk suatu organisasi, berbagai kondisi bangsa telah Bulog lalui. Bulog dibentuk pada 10 Mei 1967 berdasarkan keputusan presidium kabinet No.114/U/Kep/5/1967, bertujuan mengamankan penyediaan pangan dalam rangka menegakkan eksistensi Pemerintahan baru. Pada tanggal 21 Januari 1969 berdasar Keppres No. 39 Tahun 1969, tugas Bulog direvisi yaitu menstabilkan harga beras.

Setelah mengalami beberapa perubahan regulasi akhirnya mendasarkan pada Keputusan Presiden No.29 tahun 2000, tugas pokok Bulog adalah melaksanakan tugas Pemerintah di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras (mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah – HPP), serta usaha jasa logistik sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Selanjutnya pada 20 Januari 2003, LPND Bulog berubah statusnya menjadi Perusahaan Umum (Perum) Bulog berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 2003 tentang Pendirian Perusahaan Umum BULOG dan Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2003 tentang Perubahan atas PP No.7 Tahun 2003 pasal 70 dan 71.

Di HUT ke 54 ini, Bulog mengusung tema Satu Tekad Untuk Ketahanan Pangan. Sebuah tema yang menggambarkan visi Bulog Menjadi Perusahaan Pangan yang Unggul dan Terpercaya dalam Mendukung Terwujudnya Kedaulatan Pangan.

Peran Penting Bulog
Peran Bulog saat ini dibagi menjadi dua, pertama pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO). Peran Bulog sebagai PSO adalah menjaga stabilitas harga dan pasokan berbagai komoditas pangan utama pada tingkat konsumen dan produsen. Komoditas utama tersebut antara lain beras, jagung dan kedelai (Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perusahaan Umum (Perum) Bulog dalam rangka Ketahanan Pangan Nasional). Komoditi-komoditi yang sangat dibutuhkan masyarakat dan sangat dekat dengan sentuhan “politik”.

Metode Kerangka Sampel Area (KSA) BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2020 produksi beras nasional mecapai angka 31,33 juta ton beras, mengalami kenaikan 0,07 persen dibanding posisi 2019. Sementara untuk periode bulan Januari-April tahun 2021 Potensi produksi beras nasional mencapai 4,86 juta ton lebih tinggi 26,53 persen dibanding periode yang sama di tahun 2020. Kalau dilihat dari kenaikan produksi beras yang terjadi maka dapat dikatakan posisi stok beras nasional aman. Bagaimana dengan harga gabah dan harga beras, apakah masih menguntungkan bagi petani namun tetap terjangkau oleh masyarakat?

Selama periode Desember 2019-Desember 2020 survei BPS mencatat rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan terendah terjadi di Bulan April sebesar Rp 4.692 per kilogram sedangkan untuk Gabah Kering Giling (GKG) angka terendah terjadi pada bulan November yakni Rp 5.440 per kilogram. Angka-angka tersebut masih berada di atas angka Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Berdasar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 HPP untuk GKP adalah Rp 4.200 per kilogram di tingkat petani dan Rp 4.250 per kg di tingkat penggilingan. Sedangkan HPP untuk GKG sebesar Rp 5.250 per kilogram di tingkat penggilingan dan Rp 5.300 per kilogram di Gudang Perum Bulog.

Sementara harga beras di penggilingan pada periode yang sama, untuk kualita premium terjadi di Bulan November yakni Rp 9.715 per kilogram dan medium pada Bulan Juli sebesar Rp 9.316 per kilogram. Angka-angka tersebut lebih tinggi dibanding angka HPP yang mencapai Rp 8.300 per kilogram di Gudang Perum Bulog. Dari angka-angka tersebut dapat dikatakan bahwa posisi petani mungkin cukup aman, meski hal ini perlu ditelaah lebih dalam mengingat tingginya komposisi petani gurem dan subsisten di Indonesia.

Selanjutnya komiditas jagung yang hampir merata di seluruh Indonesia ada tanamannya, namun lokasi tanaman dan jenis jagung yang diusahakan belum ditemukan “kondisi” yang pasti. Apakah ditanam dilahan pertanian sawah, pertanian bukan sawah, apakah merupakan tanamn sela diantara tanaman tahunan perkebunan. Atau tanaman yang diusahakan masyarakat di lahan kehutanan, menunggu tanaman keras kehutanan itu “dewasa”.

Jenis jagung yang ditanam apakah merupakan jagung pipilan, jagung manis atau jagung muda saat panen. Kedelai tidak jauh berbeda dengan jagung, permasalahan yang dihadapi adalah Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kedelainya sendiri, masih harus mendatangkan dari negara lain.

Kedelai bagi sebagian penduduk Indonesia merupakan bahan baku makan favorit tempe. Tempe dapat dikatakan menu utama bagi mereka, industry kecil penghasil tempe masih menggunakan kedelai impor. Masyarakat belum tertarik untuk mengusahakan kedelai, berbagai usaha dilakukan untuk menarik minat mereka. Lembaga perguruan tinggi melakukan penelitian yang menghasilkan varietas unggul untuk kedelai seperti Devatra 1 dan Devatra 2. Varietas yang tahan akan hama penyakit dan dapat menghasilkan produksi lebih tinggi.

Peran yang kedua dari Bulog adalah pelayanan komersial yang meliputi perdagangan, unit bisnis dan anak perusahaan. Misi yang diemban dalam pelayanan komersial ini adalah dalam kerangka menjaga stabilitas harga pangan pokok beras, jagung dan kedelai. Sedang untuk komoditi pangan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, daging sapi, dan lainnya dapat dilakukan oleh Bulog maupun BUMN lainnya. Peran komersial Bulog ini meruapakan salah satu alternative jawaban terhadap kebutuhan pangan yang meningkat seiring dengan penambahan penduduk.

Ketahanan Pangan
Menurut Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, arti Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Pentingnya ketahanan pangan (Food Security System) dalam menunjang kedaulatan suatu negara tidak diragukan lagi. Tanpa kecukupan pangan, suatu negara tidak bisa beradab dan bermartabat. Bank Dunia mendefinisikan ketahanan pangan sebagai akses terhadap kecukupan pangan bagi semua orang pada setiap saat untuk memperoleh tubuh yang sehat dan kehidupan efektif. Bagaimana Ketahanan pangan nasional di era COVID-19 ini?

Sensus penduduk 2020 menuliskan jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Konsumsi beras per kapita 78,48 kg/kapita/tahun (Susenas Maret 2019) dan konsumsi di luar rumah tangga 29,98 kg/kapita/tahun (Survei BAPOK 2017) maka kebutuhan beras nasional adalah 29,31 juta ton. Kalau angka kebutuhan tersebut dibandingkan dengan produksi beras di atas maka terjadi surplus 2,02 juta ton beras.

Jika melihat kenaikan angka produksi beras di Januari-April 2021 terhadap periode yang sama di 2020, maka sangat mungkin di 2021 Indonesia masih mengalami surplus beras. Kondisi surplus ini mengindikasikan bahwa kondisi ketahanan pangan nasional dalam keadaan baik.

Indikator lain yang mungkin menggambarkan ketahanan pangan adalah peran sektor pertanian terhadap ekonomi nasional, tingkat kesejahteraan petani serta kemiskinan. Indicator-indikator tersebut dapat menjadi petunjuk bagaimana keterjangkauan masyarakat terhadap produk pangan yang tersedia.

Sektor pertanian selama kurun 2016-2019 memberi peranan cukup signifkan terhadap perekonomian nasional, meski semakin menurun angkanya. Pada tahun 2015 peranan sektor pertanian mencapai 13,49 persen, mengalami penurunan hingga tahun 2019 peranannya 12,72 persen.

Peranan sektor pertanian menempati posisi ke 3 (tiga) setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Meski sektor pertanian mengalami penurunan peran, tidak demikian dengan industry makanan dan minuman. Selama kurun waktu tersebut terjadi kenaikan dari 5,61 persen di Tahun 2015 menjadi 6,25 di 2019.

Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai salah satu indicator kesejahteraan petani menunjukkan angka yang perlu perhatian. NTP secara total di bulan April 2021 mengalami penurunan dibanding bulan Maret yaitu dari 103,29 di Maret menjadi 102,93 saat April, turun sekitar 0,35 persen. Jika dibaca lebih dalam lagi, NTP tanaman pangan bulan April berada di posisi kurang dari 100 yaitu 96,24 terjadi penurunan dibanding bulan sebelumnya yakni 97,39. NTP padi lah ternyata yang menyebabkan rendahnya tanaman pangan.

Hal ini terjadi karena adanya kenaikan indek harga yang dibayar oleh petani padi, sebaliknya indek harga yang diterima oleh petani padi mengalami penurunan signifikan. Informasi akan adanya impor beras mungkin memicu terjadinya penurunan indek harga yang diterima petani tersebut. Semoga dengan angka potensi produksi beras Januari-April 2021 yang surplus di atas, impor beras tidak akan terjadi.

Kemiskinan merupakan keadaan yang sangat berpengaruh terhadap keterjangkauan pangan. Pada September 2020 angka kemiskinan Indonesia mencapai 27,35 persen, mengalami kenaikan yang signifikan dibanding kondisi September 2019 yakni 24,79 persen. Angka garis kemiskinan September 2020 juga mengalami kenaikan dari 440.538 pada September 2019 menjadi 458.947 pada September 2020. Kenaikan angka kemiskinan sangat mungkin sebagai dampak dari pandemic COVID-19 yang sedang terjadi.

Masyarakat diharuskan tinggal di rumahyang sangat mungkin meningkatkan tingkat konsumsi pangannya. Perusahaan dan kegiatan usaha banyak yang merugi bahkan tutup, sehingga pemutusan kerja bagi karyawannya tidak terelakan lagi. Pengangguran Februrai 2021 berada pada posisi 6,26 persen, lebih rendah dibanding posisi Agustus 2020 yakni 7,07 persen. Namun angka tersebut lebih tinggi sangat berarti dibanding Februari 2020 saat virus corona belum “booming”.

Pengendalian Harga
Mencerna indikator-indikator tersebut perlu kiranya peran Bulog ditingkatkan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan. Peran sebagai pengendali harga pangan menjadi “keyword”, seakan sia-sia andai harga produk pangan yang dihasilkan petani lebih rendah. Sangat mungkin dalam perjalanannya akan menemui berbagai kendala seperti budaya ijon, pedagang pengepul yang “serakah”, aksesibilitas wilayah geografis yang menjadi kendala sendiri. Namun dengan sinergitas dengan pihak terkait dan regulasi yang tepat maka kendala-kendala tersebut dapat teratasi.

Pandemic covid-19 yang awalnya sebagai wabah, dapat dirubah menjadi peluang. Kenaikan kebutuhan pangan menjadi tantangan tersendiri bagi Bulog dalam pemenuhannya. Pengambilan kebijakan oleh Bulog hendaknya mempertimbangkan posisi kebutuhan naik dan ketersedian dari petani pun dapat mengikuti kenaikan. Kebijakan yang mendasarkan pada kondisi lapangan, pengaruh politik sangat mungkin akan mengiringi. Sehingga kebijakan harga yang diambil adalah kebijakan yang menguntungkan petani namun tetap terjangkau oleh konsumen/masyarakat.
Selamat HUT ke 54 buat BULOG, Sukses Satu Tekad Untuk Ketahanan pangan. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here