Jejak VOC dan Mataram dalam ‘Bau’

Oleh Sunaryo Broto
SAYA biasanya kagum pada penulis yang bisa membuat novel dengan seting sejarah. Ini bukan penulis biasa. Dia bisa menyusuri jejak sejarah waktu menuliskan nama-nama, kejadian, lokasi saat itu, suasana dan segala perniknya. Dan itu tak mudah. Harus konsisten. Tak bisa sembarangan memungut nama terkini untuk setting waktu lampau. Juga idiom atau bahasa lokal atau kutipan. Tak sembarangan. Bisa diprotes pembaca kalau tak tepat. Pembaca yang beragam akan sangat kritis.

Saya sudah membaca buku cerita atau novel dari Kho Ping Ho, Sang Megantantra pada setting era Airlangga dengan patih Narotomo pada tahun 1000an, cerita SH Mintardja dengan setting era Ken Arok pada Kerajaan Singsari pada era 1200-an, Pelangi di Singasari dan lanjutannya sampai era kerajaan Islam Demak, Pajang sampai Mataram pada tahun 1500-an. Bisa dibayangkan pada kekuasaan Sultan Hadiwijaya (1568-1583), Sutowijaya di Mataram (1586-1601), Benawa Prabuwijaya di Pajang (1586-1587).

Banyak juga pada era Majapahit tahun 1400-an dengan pusaran kisah dari pendiri Raden Wijaya, patih Gadjah Mada sampai Hayam Wuruk dan kejatuhannya. Juga buku tetraloginya Pramoedya Ananta Toer dengan buku awal Bumi Manusia yang mengurai era tahun 1880, kelahiran Sang Pemula tokoh jurnalistik pertama Indonesia dengan tokoh Minke yang berani melawan Belanda dengan tulisan. Novel Bau melengkapi kisah setting sejarah pada era Gubernur Jendral VOC, Jan Pieterzoon Coen (1619-1623 dan 1627-1629) dan masa awal raja Mataram Islam ke-3, Sultan Agung (1613-1645).

Novel Bau karya Gunoto Saparie ini diterbitkan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu. Tebal buku 146 halaman termasuk biodata penulis yang sudah dikenal sebagai sastrawan kelahiran Kendal dan juga Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT). Saya mengenalnya sewaktu ada acara Munsi (Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia) III di Jakarta pada November 2020. Dia senior saya sekitar 10 tahun, kelahiran tahun 1955. Sebelumnya saya pun sudah mengetahui namanya lewat berbagai tulisan cerpen dan esai sastra di Suara Merdeka. Maka untuk mengenal lebih dekat saya membeli buku novelnya pada akhir 2020, tetapi baru sempat membacanya pada September 2021 pada masa pensiun. Langsung asyik sampai habis. Tentunya disambi pekerjaan lainnya,
Tak Sepenuhnya Pahlawan

Silakan membayangkan saat itu. Demak masih menjadi pelabuhan yang penting sisa peninggalan era Demak Bintoro. Ada tokoh utama dalam buku ini yang tidak sepenuhnya pahlawan tapi punya sikap, melawan Kompeni. Dia manusia biasa yang kadang salah atau emosi. Tokoh ini tak banyak dikenal, bernama Baurekso, dari bekas bajak laut menjadi Adipati Kendal pada era awal Sultan Agung.

Simak nama-nama, Coen yang ambisius, Van Rijn, orang tua yang kalem dan arif, Appolonius Schatte yang tak terkendali, Pieter Both yang banyak tahu. Mereka saling berdialog menggambarkan suasana saat itu. Belakangan muncul nama Jacques Spix, Antonio van Diemen sebagai teman diskusi. Tradisi diskusi dalam memutuskan sesuatu sudah ada sejak era awal VOC. Juga studi dalam memahami sesuatu masalah. Itu proses pengambilan keputusan. Dan tak semua tokoh Belanda setuju dengan langkah yang diambil VOC. Saat itu VOC masih belum kuat menjajah, masih berselisih dengan EIC (East Indie Company) Inggris dan Portugis. Ketiga penjajah yang jejaknya ada di Indonesia.

Sering disebut dalam buku ini tentang bangunan loji. Bangunan lojinya masih di beberapa tempat, Banten, Batavia, Banda, Gresik, Surabaya, baru membangun loji di Jepara. Dari Wikipedia, Loji (loge, factory, atau factorij) berasal dari kata Portugis feictoria yang berarti tempat tinggal, kantor, atau gudang tempat bangsa tersebut melakukan kegiatan perdagangan di kota-kota seberang laut. Saya pernah tinggal lama di komplek PG (Pabrik Gula), bangunan rumah karyawan yang berdinding tebal, lantai tegel, di belakang ada doorloop ruang terbuka disebut loji. Makanya saya akrab dengan loji dan bisa membayangkan.

Pada awal kepemimpinan Raden Mas Rangsang, raja ke-3 Mataram yang kelak menyerang Kompeni Belanda di Sunda Kelapa atau Batavia sampai dua kali tahun 1628 dan 1629. Patih Singaranu juga disebut yang hanya menempel peran saja. Baureksa, mantan bajak laut dijadikan bupati di Kendal yang wilayahnya meliputi Pekalongan sampai Pati. Semarang, Demak, Kudus, Pati sampai Jepara. Bau sayang pada keluarganya, istrinya Srini dan anaknya Sundana dan Suwandana yang belajar di pesantren.

Berarti era Islam sudah menyentuh pendidikan. Latar Bau juga digambarkan humanis, dengan sahabatnya Isabella yang orang Portugis, lalu menjadi pelacur sejak kapalnya Crocodila tenggelam dan mati muda tertembak ditemani Bau lalu dimakamkan di sekitar Benteng Portugis di Jepara. Bentengnya masih ada. Ditemani kerabatnya Purbasara, Pilang dan Joko Sutono. Juga teman yang lain, Yodipati, Selomerta, Welang, sering berdiskusi dan bercengkerama. Nama-nama itu bisa menggambarkan nama-nama pada era itu.

Waktu disebut jelas, 22 September 1613, berarti ada bukti otentik Coen berlabuh di Pelabuhan Jepara. Lewat Karta, pembantu Coen yang dulu teman dekat Bau, Karta memanggilnya Joao Boa. Coen minta izin membangun loji di Jepara untuk melebarkan perdagangan beras dengan penduduk. Coen mulai berkonflik dengan Bau dengan membangun loji yang tidak seperti maunya Bau, kecil dan dari bambu. Coen mengirim Speelman yang kasar dan bertubuh besar sebagai Kepala Loji Jepara supaya bisa mengimbangi watak Bau. Speelman gagal.

Diskusi Coen dengan Kepala Loji Banten, Andries Soury untuk mencari jalan keluar. Lalu mengirim Steven Doenssenn yang lembut sebagai Kepala Loji Jepara untuk menghadapi Bau. Konflik tidak selesai. Konflik ini terus dibangun sampai melebar ke Pangeran Wijayakrama di Sunda Kelapa dan Patih Kasahidana, melibatkan Thomson, Kepala Loji Inggris. Tentunya nama-nama ini nyata. Juga pada Juli 1615. Andries Soury dan Steven Doenssen tiba di Jepara, yang menambah konflik Bau dengan Coen.

Ditambah informasi, Adipati Surabaya, Jayalengkara, Adipati Reksadana di Gresik, Adipati Rangga Tohjiwa di Malang, Tumenggung Kapulungan di Pasuruan, Jayasupantha di Tuban, Martanegara di Sedayu dan lain-lain wilayah Timur mulai tidak tunduk pada Mataram. Hal yang begini lalu dikompori Coen dalam rangka mengadu domba karena Coen baru bermusuhan dengan Mataram.

Lihat perkataan Coen kepada Both, “Banyak orang Kompeni yang menyebut aku lebih suka mencari musuh katimbang kawan. Bahwa kita di India Timur justru lebih suka mencari sahabat katimbang musuh. Tanamkan kepercayaan pada Adipati jayalengkara bahwa Kompeni merupakan sahabat yang layak dipercaya.” Ini cara politik devide et impera cara VOC. Juga perkataan utusan Mataram yang setelah paham apa yang diperlihatkan oleh Karta di sekitar pemukiman Kompeni, “Bagaimana jahatnya Kompeni…”

Ada beberapa info yang tentunya perlu studi dari penulisnya. Houtman, pelaut Belanda yang pertama kali berlabuh di India Timur di Banten yang lalu berkonflik dengan masyarakat setempat. VOC juga memobili massa kalau kekurangan prajurit. Para serdadu yang dibentuk dari bekas budak disebut mardijker. Satuan dalam prajurit kalau perang, tiap sepuluh dipimpin oleh lurah prajurit, seratur orang dipimpin penatus, seribu orang dipimpin penewu. Tiap penewu memiliki bendera yang disebut tunggul.

Sedangkan untuk senopati agung memiliki tanda-tanda kebesaran berupa umbul-umbul, bendhe dan tombak yang punya tuah kesaktian. Siasat ajaran Kamandaka tentang gelar pasukan menghadapi musuh di medan laga. Ada 33 bentukan perang, di antaranya garudhawyuha, gajahmeta, karkatawyuha, sucinadi, supit urang, empritnebo, jurang grawah. Namun siasat perang ini tidak efektif kalau menghadapi Kompeni yang sudah menggunakan senjata meriam dan bedil. Siasat perang itu sangat populer waktu era Demak, Pajang sampai Mataram. Lihat di cerita Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja.
Bau dan Pembayun
Ada yang layak dicatat. Dialog Bau dengan putri angkatnya, Pembayun. “Mengapa kamu tidak memahami ajaran yang kuberikan? Soal makan tidur dan seterusnya sebenarnya hanya soal kecil. Bukan dengan makan dan tidur kita memberi makna terhadap hidup ini…” Berarti bila ada orang masih hanya mengurusi makan dan tidur, dia belum bermakna he..he..

Ada juga dialog waktu Pambayun, anak angkat Bau, setelah Bau ngeblem selama 3 hari dan lemas lalu menyinggung tentang lagu “Sluku-Sluku Bathok.” Bau jujur, merasa seperti ela-elo dalam tembang itu. Orang yang diberi kekuasaan tetapi bingung. Dia punya kewajiban tetapi mengelak, menganggap kwajiban itu bukan kewajibannya karena tidak memberikan keuntungan apa-apa kepadanya. Sebaliknya, dia cepat mencampuri urusan yang tidak termasuk kewajibannya, kalau urusan itu memberikan keuntungan padanya. Ini sindiran kondisi terkini. Berapa banyak pemimpin seperti itu?

Ada kesalahan kecil dari lirik lagu “Sluku-Sluku Bathok, …payung motha, ditulis mata. Kutipan lagu Sluku-Sluku Bathok karya Sunan Kalijaga sekitar tahun 1450 yang layak kutip karena lagu itu sudah terkenal pada era itu sampai sekarang.

Masih berlanjut dialog yang menarik, “Mengapa manusia harus lahir ke tengah kehidupan duniawi yang penuh tantangan ini? Mengapa bapak dan ibu mengharapkan lahirnya bayi-bayi baru ke tengah kehidupan ini? Padahal mereka tahu kehidupan ini tak langgeng. Mereka tak akan lama menunggui anak-anak yang dilahirkan.

Mereka sendiri fana dan sebentar lagi akan mati. Apakah bayi-bayi itu dilahirkan sekadar untuk menyiksa batinnya? Untuk membuatnya sedih, menangis, nelangsa ditinggal mati orang tuannya? Apakah dia sengaja membiarkan anak-anaknya yang dicintai itu menghadapi kesengsaraan dalam kehidupan di jagad ini? Mengapa dia tidak menemui anaknya di alam ruh saja? Supaya anaknya tidak menderita menghadapi kehidupan dan bebas dari ancaman dosa-dosa?”

Buku ini bagus makanya bisa dimengerti begitu terbit mendapat penghargaan Prasidatama 2020 kategori novel dari Balai Bahasa Jawa Tengah (BBJT). Meski tokoh Bau yang digambarkan ada kegagalan, tidak berhasil menangkap Adipati Gresik Reksadana dan perang dengan Sukadana (Kalimantan Barat). Itu manusiawi. Tapi setidaknya, Pembayun menganggap berhasil karena hatinya bergetar bertemu dengannya. Pembayun hanya jatuh cinta pada pahlawan. Baureksa telah menanjadi pahlawan bagi Pembayun, Mungkin juga bagi kedua anak kandungnya, Sundana dan Suwandana. Bau sudah menjadi tokoh penentang Kompeni pada saat yang lain masih takut melawannya.

Ada penutup cerita yang juga menarik, Baureksa ingat ajaran tentang huruf alif. Alif menyatakan tentang Gusti Allah. Dari Dialah kehidupan berawal. Bukan manusia yang menghendaki dirinya lahir. Bukan manusia pula yang menentukan kapan kehidupan berakhir. Manusia saderma nglakoni, sekadar menjalani.

Ada sedikit masukan. Kalau toh disebut kesalahan, itu bukan kesalahan penulis. Sepenuhnya editor buku, halaman 181 dan 182 dimuat rangkap. Juga ada beberapa salah ketik ejaan atau bahasa, di bawah 10 salah ketik. Selebihnya, luar biasa penulis tekun meneliti sejarah sebagai latar cerita dan mengangkat tokoh lokal, kampung halamannya untuk dikenalkan ke publik. Tak mudah membuat hal ini. Tabik!

*Sunaryo Broto adalah sastrawan, tinggal di Bontang, Kalimantan Timur. Jatengdaily.com-st