Ekonomi Bersemi di Tengah Pandemi

Oleh Irma Nur Afifah, SST, MSi
Sastisti Muda BPS Kabupaten Kendal

PEMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali yang semula berlaku 13-20 Juli, diperpanjang secara bertahap hingga akhir Agustus 2021. PPKM dimaksud sebagai upaya mencegah makin meluasnya penyebaran Covid-19 yang telah menelan banyak korban jiwa dan kerugian, baik secara mental maupun material. Harapannya situasi bisa lebih kondusif dan mampu menekan angka pasien Covid-19 dan angka kematian yang melonjak tajam seperti pra PPKM akibat munculnya varian baru yang sangat menular.

Tak dapat dipungkiri bahwa Covid-19 masih menghantui, menjadi pandemi paling parah dan mencatatkan duka mendalam yang terjadi di Indonesia pertengahan tahun ini. Pandemi telah banyak menyisakan catatan peristiwa yang memilukan. Mulai dari krisis paling krusial yaitu kesehatan yang telah menciptakan efek domino menjadi krisis multidimensi secara global. Efek domino akibat krisis kesehatan terjadi tidak hanya pada bidang sosial namun juga ekonomi yang berimbas pada kesejahteraan rakyat. Lantas bagaimana kondisi ekonomi global dan nasional selama masa pandemi ini?
Ekonomi Global
BPS telah merilis kondisi perekonomian melalui Berita Resmi Statistik (BRS) pada 5 Agustus lalu. Pada rilis tersebut Margo Yuwono Kepala BPS menyampaikan bahwa quarter 2 (q2)-2021 perekonomian secara global mengalami peningkatan, terlihat dari pergerakan Purchasing Managers Indeks (PMI) yang meningkat yaitu sebesar 56.6, lebih tinggi dibanding q1 yang sebesar 54.8. Harga-harga komoditas makanan (gandum, minyak kelapa sawit dan kedelai) juga mengalami kenaikan dan komoditas hasil tambang (timah, aluminium, dan tembaga) naik di pasar internasional baik secara q-to-q (quarter to quarter) maupun y-on-y (year on year).

Aktivitas masyarakat pada q2-2021 mengalami peningkatan. Pergerakan mobilitas penduduk mulai terlihat pada pemulihan transportasi, meskipun tidak sama dengan kondisi normal di 2019, yaitu angkutan laut terlihat lebih baik di banding q2-2020, meski lebih rendah dibanding q2-2019. Moda kereta api, q2-2021 juga lebih baik dibanding q2-2020. Mobilitas sangat penting sebagai klarifikasi bahwa pergerakan tersebut berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi, yaitu distribusi barang dan jasa. Data pariwisata dengan indikator tingkat hunian kamar selama q2-2021, juga lebih baik dibanding q2-2020, meski lebih rendah dibanding q2-2019. Secara rata-rata tingkat hunian kamar q2-2021 mengalami peningkatan dibandingkan q1-2021 dan q2-2020.

Mobilitas yang membaik akan mendorong sektor pariwisata diantaranya terlihat dari tingkat hunian kamar sehingga supply chan sektor pariwisata akan mendorong sektor ekonomi lainnya. Catatan peristiwa lainnya adalah peningkatan konsumsi masyarakat dan investasi, volume penjualan mobil terlihat pada q2-2021 terjadi peningkatan. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan pendapatan, terlihat juga pada peningkatan pph 21 sebesar 5 persen, peningkatan ppn barang mewah sebesar 8 persen.
Ekonomi Bersemi
Perekonomian Indonesia yang diukur dari angka pertumbuhan ekonomi (PE) PDB nasional, secara q-to-q tumbuh 3,31 persen. Jika dibandingkan pada q2-2020 atau y-on-y tumbuh 7,07 persen. Secara kumulatif c-to-c tumbuh 3,10 persen. Secara q-to-q pada q2-2021 tumbuh 3,31 persen artinya perekonomian Indonesia q2 dibanding q1 tumbuh 3,31 persen, sementara pada q2-2020 mengalami kontraksi yang dalam yaitu -4,19 persen. Selama 3 tahun berselang dalam kondisi normal perekonomian Indonesia polanya selalu mengalami peningkatan di sekitar 4 persen. Seperti PDB adhk pada tahun 2020 konstraksi -5,32 persen hal ini karena terbatasnya mobilitas dan pergerakan hampir di semua sektor.

Secara keseluruhan PE menurut lapangan usaha tumbuh positif, hal ini sejalan dengan perbaikan mobilitas masyarakat. Pertanian meski kecil tumbuh sebesar 0,38 persen, yang disupport oleh sub sektor perikanan yang tumbuh tinggi sebesar 9,69 persen, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap tumbuh. Diikuti sub sektor peternakan, tumbuh sebesar 7,07 persen hal ini karena produksi unggas meningkat seiring meningkatnya permintaan baik domestik maupun luar negeri. Sumber berseminya pertumbuhan ekonomi tertinggi pada q2-2021 y-on-y adalah dari kategori industri, yakni sebesar 1,35 persen. Disusul perdagangan 1,21 persen, transportasi dan pergudangan 0,77 persen, akomodasi dan makan minum 0,54 persen dan lainnya 3,20 persen.

PDB dari sisi pengeluaran, tercatat bahwa nilai Indeks Keyakinan Konsumen pada q2-2021 sebesar 104.42 sedangkan q2-2020 sebesar 82,14. Perdagangan eceran tumbuh 11,62 persen, penguatan terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, sandang; suku cadang dan aksesoris; BBM serta barang lainnya. Penjualan wholesale mobil penumpang dan sepeda motor naik signifikan yaitu 904,32 persen dan 268,64 persen. Jumlah penumpang angkutan rel, laut dan udara masing-masing tumbuh sebesar 114,18 persen, 173,56 persen, dan 456,51 persen. Realisasi belanja modal APBN tumbuh 45,56 persen, PMTB tumbuh 3,46 persen.

Pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh didorong oleh peningkatan realisasi belanja barang dan jasa serta belanja pegawai APBN tumbuh sebesar 82,10 persen dan 19,79 persen. Hal ini didorong oleh berbagai program penanganan Covid-19, diantaranya pelaksanan vaksinasi, pengadaan alat uji medis, penyemprotan disinfektan, testing dan tracing serta program lainnya. Secara spasial struktur perekonomian Indonesia pada q2-2021 masih didominasi kelompok Provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 57,9 persen.

Pertumbuhan ekonomi q2-2021 dari sisi lapangan usaha ditandai dengan meningkatnya semua kategori lapangan usaha, demikian hal nya dari sisi pengeluaran semua komponen tumbuh positif. Meski demikian bagaimana dengan q3-2021 nanti, akankan tumbuh bersemi sebagaimana q2-2021 ini, mengingat pemberlakuan PPKM darurat di terapkan mulai Juli 2021, kemungkinan hal ini akan memberikan preasure sebagai akibat terbatasnya pergerakan dan mobilitas masyarakat karena PPKM level 1-4. World ekonomi outlock memprediksi bahwa ekonomi global akan tumbuh sebesar 4,91 persen pada q3-2021 mendatang. Jatengdaily.com–st