in

Mendadak Islami di Bulan Suci, Tak Salah

OLeh: Gus Anies Maftuhin

FENOMENA mendadak islami kita jumpai di seluruh sendi kehidupan masyarakat kita saat bulan suci tiba. Bak cendawan di musim hujan, tiba tiba bermunculan pribadi pribadi yang berpenampilan agamis dalam hal busana, perilaku dan juga perkataan.

Suasana sosial, ekonomi dan politik juga demikian adanya: serempak menebarkan atribut dan slogan slogan keagamaan. Ruang ruang publik pun, baik yang virtual (media sosial, media hiburan) maupun verbal (pasar, mal atau pusat perbelanjaan, dan perkantoran) penuh berhiaskan simbol simbol keislaman.

Lihat saja misalnya program program acara di televisi. Hampir semuanya berlomba-lomba menyuguhkan acara religi. Sampai-sampai, acara yang bukan religi pun dikemas sedemikian rupa agar penampilan para host, talent dan latar belakang program terlihat religi dan memancarkan keimanan atau kesalehan.

Bagi penulis, ini adalah fenomena yang menggembirakan, menyejukkan dan insya Allah mengandung banyak kebaikan, atau setidaknya bisa menjadi momentum banyak orang untuk melakukan perbaikan perbaikan diri dalam ucapan dan tindakan.

Secara ilmu pun fenomena “mendadak agamis” ini tak bisa disalahkan. Dasarnya juga ada. Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Sahabat Jabir pernah berkata : janganlah menjadikan hari-hari puasa sama saja dengan hari-hari tidak puasa.”

Dan secara sosial politik, fenomena ini bisa dimaknai sebagai syiar dan menjadi momentum untuk membangkitkan semangat perubahan dan kemajuan bersendikan moral dan nilai nilai kebaikan.

Singkatnya, fenomena yang baik ini tak lain merupakan berkah bulan suci Ramadhan yang layak disyukuri. Yakni, dengan tidak mencibir atau nyinyir terhadap siapa pun yang terlihat mendadak agamis di bulan yang penuh Rahmat ini.

Dengan bahasa lain, marilah kita berkhusnudzon bahwa fenomena mendadak religi ini bisa benar benar menjadi titik balik banyak orang untuk berubah dan bertobat dari masa lalu masing masing yang mungkin kurang baik secara moral dan agama.

Betapapun, khusnudzon adalah perilaku batin dan pikir yang juga perlu kita latihkan pada diri kita di bulan puasa ini. Selain itu, khusnudzon (baik sangka) kita yang ikhlas pun bisa menjadi doa kita untuk negeri tercinta ini agar lebih baik dalam segala hal ketika manusia manusianya pun berusaha menjadi lebih baik.

*Pengasuh Pondok Pesantren Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI) Salatiga dan Pegiat Literasi Islam. Jatengdaily.com-st

Written by Jatengdaily.com

Polres Demak Bantu Aktivasi Aplikasi SIMIRAH Agen Minyak Goreng Curah

Tingkatkan Income Tambahan, Untag Edukasi Pembuatan Yoghurt Skala Rumah Tangga