By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: FOTO: Beternak Bebek, Tahan Banting saat Pandemi
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Foto

FOTO: Beternak Bebek, Tahan Banting saat Pandemi

Last updated: 15 Februari 2021 09:08 09:08
Jatengdaily.com
Published: 15 Februari 2021 09:06
Share
SHARE

BOYOLALI (Jatengdaily.com) – Di tengah masa pandemi COVID-19, usaha ternak bebek warga Sindon, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali ini relatif aman. Permintaan telur bebek maupun bebek pedaging masih stabil hingga sekarang, meski sempat terhambat sebentar saat awal pandemi.

Tak heran warga Sindon juga masih rajin menggeluti usaha beternak bebek, termasuk Slamet (60). Menurut Slamet yang kini beternak dibantu anaknya tersebut, permintaan telur bebek masih tinggi artinya tetap laku dijual di saat pandemi. Rata-rata harga telur bebek dari peternak sekitar Rp 2.000/biji.

Begitupula ketika peternak ingin meremajakan dan kemudian menjual bebeknya juga masih cepat laku dengan harga yang bagus sekitar Rp 50-Rp60 ribu untuk jantan/ekor dan Rp 85 ribu/ekor untuk betina.

Para peternak bebek di Sindon ini rata-rata menggeluti usahanya secara turun temurun. Bahkan sudah ada yang sampai empat generasi turunan. Dan memang terbukti beternak bebek lebih menguntungkan meskipun juga tetap ada risiko yang ditanggung, seperti bebek mati atau kesulitan mencari lahan untuk angon.

Para peternak bebek di Sindon Boyolali ini masih giat menjalankan usahanya karena relatif tak terdampak pandemi COVID-19. Namun mereka juga harus kerja keras dengan menggunakan sistem angon atau menggembala untuk menekan pengeluaran pakan bebek.


Sistem angon bebek ini juga sudah dilakukan para peternak bebek termasuk Slamet sejak puluhan tahun silam. Mereka akan mencari lahan sawah bekas panen dan melepaskan bebeknya di lokasi tersebut untuk mencari makan seperti keong, hama dan lainnya.


Dengan sistem angon ternyata menjadi salah satu kunci peternak bisa bertahan di masa pandemi. Mengingat mereka tak mengeluarkan biaya terlalu besar untuk membeli konsentrat pakan bebek yang kadang harganya tinggi. Pakan konsentrat cuma diberikan ketika masih berumur satu sampai dua minggu. Setelah itu bebek diangon di sawah.


Para peternak bebek juga harus kerja keras mencari lahan sawah bekas panen yang kini juga semakin menyempit. Tak heran mereka juga harus siap membawa ratusan ekor bebeknya ke luar kota sampai Sukoharjo, Klaten dan lainnya agar memperoleh lahan sawah tempat angon bebek.


Modal angon bebek yang vital saat ini adalah mempunyai gerobak kandang yang ditarik dengan sepeda motor. Dengan cara ini, bebek bisa diangon hingga luar kota untuk mencari pakan. Ini berbeda dengan dulu, kalau angon keluar kota harus mondok atau cari lahan sewa dan berhari-hari baru pulang rumah. Foto-foto: Jatengdaily.com/yanuar

You Might Also Like

FOTO: Dayu Tak Kalah Menakjubkan dari Sangiran
FOTO: Melihat Puncak Merapi dari Beberapa Sisi
FOTO: Sisa Jalur KA Betal di Dasar Waduk Gajah Mungkur
FOTO: Lampion Imlek Solo – Kebersamaan dalam Keberagaman
Penyemprotan Disinfektan Kawasan Strategis di Boyolali Berlangsung Sampai 2 Juli
TAGGED:bertahan saat pandemi covidbeternak bebekkabupaten boyolali
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?