By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Hikmah di Balik Puasa Ramadan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Tausiyah

Hikmah di Balik Puasa Ramadan

Last updated: 20 April 2021 17:28 17:28
Jatengdaily.com
Published: 20 April 2021 17:28
Share
SHARE

Oleh : Nurul Amalia

BERSYUKUR kita telah dipertemukan kembali dengan Ramadan. Puasa Ramadhan wajib hukumnya bagi kaum muslim. Yakinkan niat dan hati bahwa kita dapat melewati bulan suci Ramadan dengan ihklas, dan insya Allah kita akan “lulus” dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Kita telah menjalankan perintah Allah dengan penuh tanggung jawab dan penuh dengan keihklasan, selama kita berpuasa dan memperbanyak ibadah semata-mata hanya karena Allah.

Berbahagialah kita sebagai umat muslim, karena di samping kita berpuasa Ramadhan kita juga telah berhasil menabung pahala, dan insya Allah dosa-dosa kita di ampuni oleh Allah SWT, sebagaimana hal ini di jelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya : “Barang siapa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan semata-mata karena Allah dan mengharap ganjaran dari pada-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”.

Pasti dalam fikiran kita terbesit sedikit pertanyaan untuk kita renungkan bersama. Apabila bulan suci Ramadan telah usai, Bagaimana kita menyikapi hari-hari ke depan, setelah kita kembali kepada fitrah dan kesucian ? Bulan suci Ramadhan adalah sebagai titik kembali kepada fitrah yang sejati. Dari puasa Ramadhan kita bangun komitmen ketaatan bukan hanya untuk satu tahun ke depan, namun juga kita membangun komitmen untuk ketaatan seumur hidup seperti ketaatan yang kita bangun selama puasa Ramadan.

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya dengan sabdanya yang berbunyi: “Qul aamantu billahi tsummastaqim..” katakanlah aku beriman kepada Allah dan beristiqomahlah. Hikmah dan pelajaran dari Ramadan setidak nya dapat kita pertahankan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita menjadi pribadi yang selalu bersih dan fitri serta pribadi yang menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

Hikmah dan pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari nilai-nilai Ramadan yakni “Mengendalikan nafsu dari maksiat”, selama Ramadan kita telah berhasil mengendalikan nafsu dari maksiat. Itu menunjukan bahwa hawa nafsu sebenarnya sangat lemah. Manusia bukan mahluk yang dikendalikan oleh nafsu, melainkan manusialah yang mengendalikan nafsunya.

Allah SWT menegaskan bahwa hanya dengan takut kepada Allah secara jujur seseorang dapat mengendalikan nafsunya. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah temapt tinggal nya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41)

Hikmah dan pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari nilai-nilai Ramadan yakni “Menjauhi harta yang haram”, selama Ramadan kita telah berpuasa satu bulan lama nya. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengambil yang haram. Perhatikan firman Allah SWT: “Katakanlah, tidak sama buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu sangat menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 100)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa harta yang haram itu sebagai khobits atau kotoran yang menjijikan. Artinya, seandainya harta haram itu Allah perlihatkan berupa kotoran niscaya manusia berakal tidak akan mengambilnya. Karena yang khobits itu tidak akan pernah sama dengan ath-thayyib atau yang halal baik sekalipun jumlahnya lebih sedikit.

Karena yang khobits dapat merusak tatanan kehidupan, sementara ath-thayyib dapat memnumbuhkan dan menyebarkan kebaikan. Oleh sebab itu, Allah perintahkan agar bertaqwa: “fattaqullah yaa ulil albaab.” Taqwa tidak akan tercapai apabila seseorang masih mengkonsumsi harta haram. Dengan kata lain, hanya dengan menjauhi harta haram seseorang akan mencapai level ketaqwaan.

Hikmah dan pelajaran ketiga yang dapat kita ambil dari nilai-nilai Ramadan yakni “Menundukkan Syaiton”, dalam hal ini kita telah membuktikan selama bulan puasa Ramadan syaiton dijadikan lemah dan tidak berdaya. Kita menjumpai masjid-masjid menjadi ramai selama Ramadhan. Dan di berbagai tempat seperti rumah-rumah, kantor dan di pusat-pusat ibadah, terdengar suara menggema orang-orang membaca dan tadarus Alquran. Itu semua termasuk bukti nyata bahwa syaiton sebenernya sangat lemah.

Allah menegaskan: “Sesungguhnya tipu daya syaiton itu sungguh lemah.” (QS. An-Nisa: 76). Maka tidak pantas orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat masih mengikuti ajakan dan bisikan-bisikan syaiton.

Hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil di akhir ialah “Meninggalkan dosa-dosa dan kemaksiatan”, puasa Ramadan ialah bulan penuh perjuangan untuk menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan. Setidkanya kita telah berhasil membuktikan selama Ramadhan untuk meninggalkan segala bentuk dosa dan kemaksiatan. Bahkan kita berusaha menjauhi sekecil apapun perbuatan yang sia-sia.

Kita berusaha secara maksimal untuk menjadikan setiap detik yang kita lewati memberikan makna dan menjadi ibadah kepada Allah SWT. Setiap saat kita dzikir, jauh dari pembicaraan dusta atau kebohongan. Pandangan kita selalu tertuju kepada ayat-ayat suci Al-Qur’an dan terjaga dari segala yang di haramkan. Langkah kaki kita senantiasa terhantar menuju masjid, dan tangan kita senantiasa banyak memberikan sedekah.

Puasa Ramadan telah menjadi contoh kehidupan hakiki dan kepribadian hakiki seseorang muslim yang sejati. Dan itulah rahasia mengapa Allah SWT menjadikan amalan-amalan Ramadan sebagai tangga menuju ketaqwaan.

Dan itu tidak lain karena dari bulan yang suci ini akan lahir kesadaran maksimal seorang muslim sebagai hamba Allah. Kesadaran yang menebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia, menyelamatkan mereka dari kedzaliman dan aniaya, dan mengajak mereka kembali kepada jalan Allah. Karena itulah fitrah manusia yang sesungguhnya.

Nurul Amalia, Mahasiswa Ilmu Falak FSH UIN Walisongo Semarang dan Santri Life Skill Daarun Najaah.Jatengdaily.com–st

You Might Also Like

Mengkaji Tugas Ulama
Gagasan Keislaman Buya Yunahar Ilyas
Pudarnya Sikap Meneladani Rasulullah SAW
Menjaga Takwa, Menuju Kesetiaan Pancasila
Jaga Kebahagiaan Fitri dari Kebangkrutan
TAGGED:Hikmah di balik RamadanLife skill Daarun NajaahUIN Walisongo
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?