By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kasus Kematian Babi di Klaten Karena Virus African Swine Flu Tak Tulari Manusia
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Kasus Kematian Babi di Klaten Karena Virus African Swine Flu Tak Tulari Manusia

Last updated: 7 Januari 2021 14:18 14:18
Jatengdaily.com
Published: 7 Januari 2021 14:18
Share
Ilustrasi babi. Foto: dok
SHARE

KLATEN (Jatengdaily.com)– Kasus penemuan bangkai babi yang dibuang ke sungai di Klaten masih ramai jadi pembicaraan. Hasil observasi tim teknis Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten yang turun ke lapangan menyebutkan babi-babi itu mati karena virus African Swine Fever (ASF). Virus ASF itu hanya menjangkiti binatang babi dan tidak menular bagi manusia.

Sekretaris DPKPP Kabupaten Klaten, Mursita mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir karena virus ini tidak berbahaya bagi manusia. Faktanya, virus ASF bukan termasuk penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

“Salah satu ciri-ciri hewan babi yang terjangkit virus ini adalah hilangnya nafsu makan, dan virus ASF ini tidak menular pada manusia. Istilahnya tidak zoonosis,” jelas Mursita, dalam siaran persnya, Kamis (7/1/2021).

Mursita mengatakan, untuk menghentikan penularan virus, babi yang sehat harus dipisahkan dari babi yang terjangkit virus ASF. Kemudian babi yang mati karena virus akan dimusnahkan lalu dikubur agar virusnya tidak menular.

“Virus ASF dapat menyebar melalui beberapa faktor antara lain adalah kontak langsung, serangga, dan pakan yang terkontaminasi,” sambung Mursita.

Mursita menambahkan petugas DPKPP Klaten telah melakukan edukasi ke peternak babi agar virusnya tidak menyebar, sehingga dapat mengurangi kerugian secara ekonomi. Mereka juga diimbau untuk menjaga kebersihan kandang ternaknya.

Dilansir dari website Kementerian Pertanian Republik Indonesia, untuk mengurangi penularan virus ASF, peternak harus menyediakan pakan bersih yang terhindar dari serangga atau binatang lainnya. Kebersihan air dan juga kandang babi harus selalu dijaga dengan melakukan disinfeksi kandang tiga kali sehari.

Kasus pembuangan bangkai babi yang dibuang di sungai mencuat pertengahan Desemeber 2020 lalu. Lokasi penemuan bangkai babi di aliran sungai di Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom dan Kali Lunyu Klaten tengah. Saat ini kasus tersebut sedang ditangani pihak berwajib untuk dimintai pertanggungjawabannya secara hukum.

You Might Also Like

Seminar Online Manajemen Laboratorium PAI #Seri 1
Jawa Tengah Masih Kekurangan 16.458 Dokter
Miliki Posko Terbanyak, Kasus Aktif COVID-19 Jateng Turun
Masyarakat Grobogan Diminta Waspadai Penipuan yang Menggunakan Foto Anggota Polri
Untuk Jamin Hak Keselamatan Publik, Komnas HAM Minta Pilkada Ditunda
TAGGED:Kasus Kematian Babi di KlatenVirus African Swine Flu Tak Tulari Manusia
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?