Mewujudkan Keluarga Samara Tidak Cukup Hanya dengan Cinta

(Menyongsong Muswil BP4 Provinsi Jawa Tengah)

Oleh : Nur Khoirin YD

NAIKNYA angka perceraian dari tahun ke tahun harus menjadi keprihatinan dan perhatian semua pihak. Di Jawa Tengah pada tahun 2020, menurut data Badan Pusat Statistik (SM, 16 September 2021), angka perceraian mencapai 37, 2% jika diperbandingkan dengan angka perkawinan. Di Kota Semarang angka perceraian pada tahun yang sama mencapai 32,2%.

Kondisi ini sangat paradoks dengan tujuan perkawinan itu sendiri. Karena kekuatan dan masa depan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan keluarga. Keluarga yang kokoh akan menjadi penyangga negara yang kuat. Sebaliknya, keluarga yang lemah dan rusak akan menggerogoti pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka membangun ketahanan keluarga yang kokoh dan tangguh merupakan kebutuhan mendasar suatu bangsa.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Kemenag tahun 2017, faktor terpenting yang memicu terjadinya perceraian dipengaruhi oleh ketidaksiapan, kurangnya pengetahuan dan keterampilan pasangan dalam mengelola perkawinan dan mengatasi konflik rumah tangga dan keluarga. Faktor inilah yang sering tidak disadari dan luput dari solusi.

Cinta Saja Tidak Cukup
Faktor mendasar yang menyebabkan perkawinan berakhir dengan perceraian adalah minimnya bekal pengetahuan para calon penganten dalam mengelola keluarga yang baik. Bagaimana meletakkan dasar-dasar dan tujuan perkawinan, cara memenuhi kebutuhan keluarga, cara membagi peran suami istri, cara mendidik anak agar tumbuh menjadi generasi yang unggul, cara menyelesaikan konflik rumah tangga, dan sebagainya. Pengetahuan mengenai hukum-hukum perkawinan dan teknik mengelola keluarga inilah yang tidak dimengerti oleh calon pengantin.

Calon pengantin yang akan memasuki hidup baru dalam lembaga keluarga umumnya hanya bermodalkan cinta, bahkan adalakanya terpaksa. Apa yang dibayangkan oleh para calon pengantin dari tujuan menikah adalah menikmati cinta, melakukan hubungan suami sitri yang sudah dipendam lama. Ini tidak salah. Tetapi kalau hanya pemenuhan kebutuhan cinta, maka dalam hitungan bulan sudah wareg dan bosan, karena hanya itu-itu saja. Bahkan sudah mulai berpikir membandingkan yang lain, mungkin lebih enak. Orang bilang rumpat tetangga lebih hijau daripada rumput rumah. Intinya, cinta saja tidak cukup untuk menghantarkan terwujudnya rumah tangga yang lestari, sakinah, mawaddah warahmah (Samara).

Dalam Islam, setidaknya ada empat pilar yang harus ditegakkan agar perkawinan tetap kokoh, meskipun badai datang mengguncang, yaitu: Pertama, zawaj atau berpasangan, perkawinan harus dimiliki berdua, saling menutupi kekurangan-kekurangan (QS. al-Baqarah/ 2:187). Kedua, mitsaqan ghalizhan, perkawinan merupakan janji yang kokoh, komitmen lahir batin, sehingga tidak mudah diputuskan tanpa atau dengan alasan-alasan yang sepele (QS. an-Nisa/ 4:21). Ketiga, mu’asyaroh bil-ma’ruf, saling mempergauli pasangan dengan baik, kedudukan yang seimbang dan berbagi peran (QS. an-Nisa/ 4:19). Keempat, memutuskan dan menyelesaikan masalah dengan prinsip musyawarah: (QS. al-Baqarah/ 2:223). Pilar-pilar inilah yang harus terus disosialisasikan dan ditanamkan kepada para calon pengantin dan semua keluarga Indonesia.

Bimbingan Perkawinan
Tujuan pernikahan yang mulia dan indah ini sering tidak terwujud dalam kenyataan. Hubungan suami istri dilanda kemelut percekcokan dan perselisihan yang terus-menerus. Cinta sebagai fondasi roboh. Kepercayaan sebagai pengikat berbalik menjadi cemburu dan curiga. Pergaulan suami istri diliputi dendam dan kebencian. Maka kandaslah bahtera rumah tangga sebelum mencapai pantai harapan. Padahal bubarnya perkawinan sudah terbukti menimbulkan dampak-dampak buruk, tidak hanya bagi pasangan suami istri, tetapi terutama bagi anak-anak.

Sebab kandasnya rumah tangga antara lain adalah karena kekurangsiapan pasangan calon pengantin dalam mengelola rumah tangga yang baik. Seperti tidak memahami hakikat dan tujuan perkawinan, hak-hak dan kewajiban suami istri, mengelola keuangan keluarga, dan cara-cara menyelesaikan konflik. Sebagian besar calon pengantin hanya membayangkan indahnya malam pertama, tetapi tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan pahit yang akan terjadi dan sara menyelesaikannya.

Berangkat dari pemikiran inilah, maka Kementerian Agama RI telah menyusun langkah-langkah strategis, dengan memperkuat struktur kelembagaan dan program-program pembinaan yang berkesinambungan. Sejak tahun 2017 telah ditetapkan struktur baru yaitu Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, guna memperkuat peran dan fungsi KUA-KUA yang menjadi garda terdepan pembinaan keluarga di tingkat kecamatan.

Program jangka panjang yang dicanangkan adalah dengan mewajibkan para calon pengantian yang akan menikah mengikuti kursus atau bimbingan perkawinan. Aturan itu tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 373 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin. Hukum baru yang terpenting dalam peraturan Dirjen itu adalah, bahwa sertifikat bimbingan perkawinan menjadi syarat pencatatan perkawinan. Artinya, bagi pasangan yang tidak mengikuti bimbingan perkwinan, maka tidak bisa dicatatkan perkawinannya, alias tidak diakui menurut hukum.

BP4 Bengkel Keluarga
Ibarat kendaraan, keluarga juga memerlukan bengkel, yaitu tempat melakukan servis secara rutin dan memperbaiki kerusakan-kerusakan karena aus sebelum rusak parah dan macet. Sampai era 90-an, di setiap Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan masih terpampang nama Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan, yang terkenal dengan sebutan BP4. BP4 ketika itu rajin menerbitkan baku saku, buletin dan majalah sebagai sarana penyuluhan dan pembinaan keluarga agar tetap lestari.

Sekarang peran BP4 sebagai bengkel keluarga sudah tidak tampak atau hilang. Di era kemajuan teknologi komunikasi sekarang ini, justru godaan-godaan rumah tangga semakin banyak, perceraian meningkat pesat, kenakalan remaja dan orang tua juga marak, maka kahadiran BP4 semakin diperlukan. BP4 harus dihidupkan lagi, setidaknya di setiap kecamatan harus tersedia layanan konsultasi dan mediasi yang ditangani secara modern oleh ahli-ahli yang profesional. Sekarang orang tidak tahu harus curhat dan konsultasi ke mana jika keluarganya mengalami tanda-tanda disharmoni. BP4 harus dihidupkan kembali sebagai ihktiar mewujudkan tujuan perkawinan yang ideal.

* Dr H Nur Khoirin YD MAg, Dosen UIN Walisongo, Advokat Syari’ah, dan Pengurus BP4 Provinsi Jawa Tengah, tinggal di Tambakaji RT 08 RW 01 Ngaliyan Kota Semarang, HP 08122843498.Jatengdaily.com-st