By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kisah Riang di Syahrul Masjid
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Tausiyah

Kisah Riang di Syahrul Masjid

Last updated: 29 April 2021 14:34 14:34
Jatengdaily.com
Published: 29 April 2021 14:34
Share
SHARE

Oleh : Anis Agung Nurkholisa
KEUTAMAAN lain di bulan yang dirindukan, masjid bahkan surau menjadi tempat idaman setiap insan. Sedari sahur hingga berbuka puasa, meriahnya lentera jalan di setiap sudut pandang. Hiruk piruk tua muda menyebut asma-Nya, penuh kasih tanpa balas yang didapatnya. Begitu merdu lantunan anak kecil mengagungkan Muhammad-Nya, di setiap waktu shalawat menjadi pengisi siang malamnya.

Fajar hingga petang membaca kalam, membagikan takjil menjadi kebiasaan. Buka bersama dengan alas daun pisang, tarawih indah tambahan tawa riang anak kecil dengan kebahagiaan, silaturahmi karena sering bertemu dengan lengkung setengah lingkaran, berlomba lomba memberikan jaburan terbaik di setiap posonan.

Masihkah ada yang memberikan kata kurang berkenan kepada anak kecil saat meramaikan masjid? Tawa riangnya mungkin mengganggu kekhusyukan, canda dan keseruan bersama temannya membuyarkan lantunan bacaan. Tetapi sungguh spesialnya mereka, mungkin kita terlupa Rasulullah kebanggaan kita hingga turun dari mimbar untuk mendekati cucunya yang tengah berlarian dengan senangnya. Dengan lembutnya Beliau turun lalu menggendongnya dan kembali melanjutkan khutbah.

Atau cerita Rasulullah yang amat kita tunggu syafaatnya sedang sujud dalam sholatnya yang indah, cucu tercinta Hasan dan Husein bermain menaiki punggungnya. Ketika ada sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein, maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya. Apabila shalat telah selesai, Rasulullah memangku kedua cucunya.

Siapa yang akan melanjutkan kebiasaan meramaikan masjid yang usang? Jika bukan anak-anak yang kita biasakan, jika bukan kita yang mengajaknya dengan niat mereka dapat mensejahterakan, satu tindakan yang kita lakukan bersama mereka, menjadi memori tak terlupakan dan bermakna hingga mereka tua.

Mega menjadi lebih indah, fajar menjadi lebih teduh, candra menjadi lebih terang, rinai beberapa kali datang pun tetap tenang dan menenangkan. Kedalaman penuh khidmat dari satu bulan yang di istimewakan, memenuhi masjid dingin yang hangat karena kebersamaan. Desaku, ramadhan terindahku.
Anis Agung Nurkholisa, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Semarang dan Santriwati Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah. Jatengdaily.com–st

You Might Also Like

Jadwal Puasa Berbeda, Umat Islam Jangan Bingung
‘Audisi’ Fatwa Astrazeneca
Berharap Peran BWI dalam Pemberdayaan Wakaf
Puasa dan Membangun Kasih Sayang
Kita Wajib Mencontoh Nabi Muhammad SAW
TAGGED:Kisah Riang di Syahrul MasjidLife skill Daarun NajaahPGSD UnnesPusa bulan yang dirindukanUnnes
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?