Puasa, Pemicu Energi Positif

Oleh : Moh Yusuf Faizin
BULAN purnama telah muncul menyinari gelapnya Bumi tanda bahwa bulan penuh berkah ini sudah memasuki pertengahan bulan. Sebentar lagi bulan penuh berkah ini akan segera berakhir. Nafsu akan berkeliaran kembali, setan akan berkeliaran kembali, dan dunia semakin berontak dengan keadaan memasuki zaman akhir. Dengan menipisnya kouta bulan Ramadan, apa yang sudah kita lakukan?

Manusia hakikatnya adalah makhluk yang berasal ruh yang lembut. Otak manusia, nafsu manusia, perasaan manusia berasal dari zat halus yang diciptakan khusus oleh Allah Swt yang hanya bertugas beribadah kepada-Nya dan pada dasarnya nanti akan kembali kepada sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita memperindah badan kita yang hanya berasal dari tanah dan bersifat tidak kekal. Fokus kita hidup di dunia hanya pembenahan jiwa, inti dari manusia yang nantinya jiwa itu akan kembali kepada Allah Swt. Karenanya, manusia perlu alat untuk pembenahan jiwa. Salah satu pembenahan jiwa itu adalah puasa.

Puasa merupakan mata pelajaran tua yang diberikan Allah swt kepada umat manusia. Allah Swt memerintahkan puasa bukan hanya kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya, namun sejak zaman dahulu Dia telah memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa. Seperti pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Peribadatan lama ini bukan hanya dilakukan oleh nabi Muhammad dan ummatnya saja, namun juga dilakukan oleh para nabi-nabi terdahulu. Salah satunya nabi Adam. Nabi Adam diperintah oleh Allah Swt untuk melakukan puasa ayyam al-bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 pada saat bulan purnama. Dan juga puasa ayyam as-sud pada tanggal 27, 28, 29. Nabi Idris juga melakukan puasa dengan memakan makanan yang tidak bernyawa yang kita sebut sebagai puasa mutih. Nabi Nuh berpuasa ketika menebang pohon untuk persiapan membuat kapal besar dan juga berpuasa ketika proses pembuatan kapal. Nabi Musa berpuasa ketika naik di bukit Tursina saat mau bertemu dengan Allah Swt. Adapun nabi Dawud, melakukan 1 hari puasa 1 hari tidak berpuasa dan sampai sekarang masih diikuti oleh umat nabi Muhammad Saw.

Di samping karena puasa ini peribadatan lama, maka ibadah puasa bukan hanya dilakukan oleh orang muslim. Namun juga dilakukan oleh agama lain. Pada agama Zoroaster melakukan puasa 3 bulan ketika tuhan mereka berkelahi antara tuhan terang dan tuhan gelap yang akhirnya dipercaya sebagai munculnya gerhana Bulan dan Matahari. Umat Hindu melakukan puasa Upawasa, yakni melakukan puasa tanpa makan, tanpa minum, tanpa menyentuh wanita untuk jalan menuju muksa. Umat Budha juga melakukan puasa penyempurnaan 8 jalan menuju nirwana. Orang Yahudi berpuasa ketika peringatan Yongkipur. Bahkan orang Nasrani juga berpuasa saat Jumat agung sebelum paskah.

Perintah Allah yang bukan hanya ditujukan kepada umat nabi Muhammad Saw saja menunjukkan bahwa pentingnya puasa bagi manusia yang hidup di Bumi. Manusia yang terdiri dari dua unsur yakni unsur rohani dan unsur jasmani memerlukan pembersihan jiwa melalui puasa, baik puasa rohani maupun puasa jasmani. Puasa jasmani hanya sekedar mehahan makan dan minum. Adapun inti puasa ada pada puasa rohani yang mana jiwa utama manusia ada pada rohani, jiwa yang melekat pada badan manusia yang nantinya itu akan kembali ke pemiliknya. Puasa bertujuan untuk melatih ruh dalam diri agar dapat mengatur hawa nafsu yang selalu bergejolak, melatih jiwa untuk senantiasa dekat kepada Allah. Hakikatnya puasa bukan hanya dimiliki oleh jasmani namun juga rohani yang kita sebut dengan ruh.

Bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, pengendalian diri saat berpuasa menjadi sesuatu yang penting. Pengendalian diri dalam bentuk kesabaran dalam menahan diri dari muatan kemauan manusia yang berlebihan perlu dilandasi oleh niat. Niat, yaitu perbuatan yang diniatkan karena Allah merupakan kajian pokok dalam membawa seorang yang berpuasa pada makam atau kedudukan bertakwa, karena dilandasi oleh keimanan dan ia siap untuk diperintah oleh Allah yang Maha Rahman. Orang yang beriman akan terlihat manakala ia siap menerima perintah dari Tuhannya tanpa memandang berat atau ringannya perintah tersebut dan hal itu dinyatakan sebagai wujud kepatuhan dan bukti keimanan.

Puasa juga dapat memunculkan energi positif yang muncul dalam diri. Biasa kalau kita tidak berpuasa akan mudah marah, tersinggung, namun saat berpuasa sifat marah itu hilang dengan sendirinya. Hal ini menunjukan bahwa puasa memang suatu aktifitas yang dapat mengatur jiwa kita. Dengan menambah kualitas takwa kita, parameter berpuasa telah dapat kita peroleh. Inti dari pada puasa adalah dapat mengendalikan jiwa untuk selalu ingat kepada sang pencipta.

Pada hakikatnya puasa bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadan, namun puasa harus selalu dapat kita lakukan setiap saat. Dengan menahan keinginan yang menyebabkan jauh dari Allah Swt. segala keinginan yang timbul dalam hawa nafsu menyebabkan kita akan semakin jauh dari sang pencipta. Dunia tidak akan ada habisnya jika nafsu masih hidup dan bergejolak dalam diri. Semoga dalam bulan Ramadan tahun ini kita bisa meraih kesuksesan berpuasa, menjadi diri yang selalu beriman dan sukses meraih rida Allah Swt.

Moh Yusuf Faizin, Santri Life Skill Daarun Najaah, Mahasiswa S2 Ilmu Falak UIN Walisongo. Jatengdaily.com–st

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here