Melemahnya Sektor Transportasi Selama Pandemi

Oleh : Laeli Sugiyono
Statistisi Madya pada BPS
Provinsi Jawa Tengah

MELEMAHNYA sektor transportasi diakibatkan adanya pembatasan pergerakan masyarakat oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Meskipun geliat ekonomi sebagian telah bergerak karena fenomena ramadhan, adanya pembagian tunjangan hari raya (THR), dan distribusi zakat infak shodakoh (ZIS), sektor tansportasi tetap belum ada sinyal perbaikan justeru semakin terperosok.

Ketua Presidium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda Indonesia) Igun Wicaksono memperkirakan, pendapatan pengemudi ojek online selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menurun sebanyak 30-50 persen.

Pengemudi Gocar maupun Grabcar mengeluh sepinya penumpang yang telah menyebabkan beberapa pengemudi melakukan negosiasi untuk relaksasi pembayaran cicilan hutang pada perusahaan leasing mobil kredit, dan tidak sedikit pengemudi mengembalikan kendaraan yang merugi hingga jutaan rupiah.

Di saat ramadhan yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi dari sisi permintaan juga masih belum cukup memulihkan permintaan sektor transportasi teruatama di minggu pertama dan kedua ramadhan.

Perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan I-2021 masih mengalami kontraksi sebesar -0,87 persen (y on y). Lapangan usaha dengan kontraksi terdalam dialami oleh lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar -31,04 persen.

Dalam laman https://ekonomi.bisnis.com diberitakan bahwa Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Agus Taufik Mulyono, berpendapat bahwa pada tahun 2021 ini transportasi masih menjadi salah satu sektor usaha yang terdampak oleh pandemi COVID-19.

“Untuk itu, operator transportasi harus inovatif dan kreatif agar mampu tetap bertahan. Tantangan juga masih akan dihadapi terkait kepatuhan penerapan protokol kesehatan pada angkutan pribadi dan sewa,” paparnya.

Dia memperkirakan bahwa jumlah permintaan penumpang masih akan mengalami penurunan. Sementara itu, sektor logistik atau angkutan barang akan mulai mengalami pertumbuhan.

Sekalipun sektor transportasi masih terseok seok, pelaku usaha pendukung sektor ini seperti ojek online yang berbasis ekonomi digital masih tetap semangat, seperti yang dirilis oleh Survei Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukan bahwa Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat gotong royong pekerja yang ada di ekosistem ekonomi digital.

Wakil Kepala LD FEB UI Paksi Walandouw mengatakan bahwa walaupun pandemi COVID-19 telah berlangsung dalam tiga bulan terakhir, tetapi dalam laporan tersebut mengungkapkan bahwa baik perusahaan Gojek, mitra pengemudi maupun konsumen yang ada dalam satu ekosistem saling membantu.

“Riset ini menunjukkan di tengah kesusahan yang sedang melanda akibat pandemi, semangat saling membantu inilah yang kami lihat sebagai adanya sikap resiliensi, bahu-membahu membantu, sekaligus optimisme bahwa bencana bisa dilewati bersama,” tuturnya lewat rilis resminya, Rabu, (27/5/2020).

Berdasarkan uraian artikel tersebut diatas maka kelompok pengemudi ojek online ini kiranya perlu mendapat bantuan ekonomi seperti bantuan ekonomi sektor UMKM dalam skema pemulihan ekonomi. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here