Berdoa Saja Tidak Cukup

Gunoto Saparie menyampaikan di Masjid Baitussalam, Ngaliyan, Semarang, Jumat malam, 30 April 2021 . Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Berdoa saja tidak cukup bagi setiap Muslim. Kita harus tetap berusaha atau berikhtiar. Kita tetap harus berjuang dan tidak santai-santai. Hal ini karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu berupaya mengubahnya sendiri.

Hal itu dikemukakan Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Wilayah Jawa Tengah Gunoto Saparie ketika menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di Masjid Baitussalam, Ngaliyan, Semarang, Jumat malam, 30 April 2021. Kultum berlangsung seusai salat tarawih dan sebelum salat witir yang diimami ustad Mudlomir.

Menurut Gunoto, doa merupakan kekuatan yang sangat dahsyat bagi orang Islam. Doa tidak membutuhkan biaya banyak. Ia murah, mudah, dan langsung didengar oleh Allah. Persoalannya, kita sering berdoa kalau sudah tidak berdaya, tidak ada jalan keluar. Kita baru ingat kepada Allah dan berdoa ketika dihadapkan pada masalah yang tak terpecahkan.

“Pada umumnya orang berdoa hanya ketika dalam keadaan berduka dan sedang dibelit masalah. Seakan doa hanya berupa keluhan dan permohonan, tanpa ada rasa syukur. Padahal doa seharusnya bukan sekadar keluh kesah dan pengakuan dosa. Ia juga merupakan ungkapan terima kasih kepada Allah, karena nikmat dan rahmat-Nya,” ujarnya.

Memang, lanjut Gunoto, tidak ada salahnya berdoa kepada Allah ketika duka mendera dan setumpuk masalah menimpa. Bukankah kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun, setiap pribadi berhak mengadu kepada Allah?

Gunoto mengatakan, ada orang yang terlalu sibuk, sehingga tidak sempat berdoa. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi, kalau kita menjadikan berdoa sebagai bagian dari jadwal harian. Kita, misalnya, berdoa segera setelah kita bangun pagi, malam sebelum tidur, atau setiap sebelum makan. Kita bisa berdoa kapan pun, dan sebanyak apa pun demi kehidupan rohaniah. Kita harus mencoba untuk berada dalam kondisi berdoa sepanjang hari, dengan cara menjaga agar tetap sadar akan relasi spiritual dengan Allah.

“Kita harus berdoa sesering mungkin, sebelum dan sesudah melakukan sesuatu. Kita harus selalu mengiringi segala aktivitas kita dengan doa. Kita harus selalu berdoa secara sungguh-sungguh. Insyaallah kita akan takjub dengan cara kerja Allah yang ajaib,” ujarnya.

Boleh Kapan Saja
Memang benar, demikian Gunoto, berdoa boleh kapan saja dan semuanya bisa dikabulkan Allah. Akan tetapi, perlu diingat, ada waktu mustajab untuk berdoa, di mana akan lebih dikabulkan Allah.

Ia menunjukkan, sepertiga malam terakhir merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Bahkan merupakan waktu yang paling mustajab. Sepertiga malam terakhir inilah waktu paling utama untuk menunaikan salat tahajud.

“Selain itu, waktu berdoa terbaik adalah setelah selesai salat lima waktu. Doa antara azan dan iqamat juga tidak akan ditolak oleh Allah. Ia merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Sujud juga merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Hari Jumat juga merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa,” katanya.

Gunoto menambahkan, ketika azan berkumandang termasuk juga waktu mustajab untuk berdoa. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menjawab azan dan setelahnya berdoa. Di samping itu, waktu turunnya hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa. Berdoa di Hari Arafah, hari di mana jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, yakni tanggal 9 Dzulhijjah, juga akan lebih dikabulkan Allah.

“Saat-saat menjelang berbuka puasa adalah saat-saat mustajab juga untuk berdoa. Bahkan sesungguhnya sepanjang waktu puasa adalah waktu mustajab untuk berdoa,” pungkasnya seraya menambahkan, jika dalam berdoa kita harus merendahkan diri serendah-rendahnya, bahkan merasa lemah selemah-lemahnya di hadapan Allah. st