Menyambut PTM Aman

Oleh: Usman Roin *

SEKOLAH tatap muka (terbatas) sudah dimulai. Animo menyambut hal itu, penulis dapatkan saat obervasi dibeberapa titik sekolah yang ada di Bojonegoro, dan saat ke Semarang dalam rangka menyelesaikan suatu hal.

Yang tampak saat pagi tiba adalah, orang tua hilir mudik mengantarkan anaknya ke sekolah, lengkap dengan seragam khas yang dikenakan. Ini artinya, pembelajaran tatap muka (PTM), walau terbatas bagi yang sudah pernah melaksanakan uji coba, ternyata sangat ditunggu kehadirannya oleh orang tua di tengah situasi pandemi yang belum usai namun sudah turun level. Yakni, bagi daerah yang menerapkan PPKM Level 1-3.

PTM yang sudah dimulai, tentu memberi kelegaan sedikit pada orang tua saat pembelajaran daring masih diterapkan. Setidaknya, bukan lagi orang tua “yang mengerjakan” tugas anaknya saat belajar.

Bukan pula, orang tua dibuat pusing melihat anaknya yang lekat dengan gadget dengan dalih “belajar”. Padahal, aktifitas belajarnya telah rampung secara singkat, dan beralih pada main game secara berjemaah.

Fakta tersebut, penulis temukan dari laman facebook Muh Zen Adv yang merupakan anggota dewan di Jawa Tengah. Di video tersebut, Muh Zen menanyakan kepada anak-anak yang lagi sibuk dengan gadgetnya di teras rumah.

Jawaban singkat pertanyaan sang dewan, anak-anak yang sedang bergerombol di teras rumah tersebut daringnya hanya dua jam. Yakni mulai dari pukul 08.00-10.00 Wib. Adapun sisanya, dibuat untuk melemaskan jari jemari melalui permainan video game yang ada di gadget masing-masing mereka. Alhasil, walau PTM masih terbatas, setidaknya tensi orang tua sudah mulai turun perihal perilaku di atas.

Taat Prokes

Meskipun PTM terbatas sudah dimulai, ketaatan prokes selama siswa di sekolah adalah yang utama. Dari keluarga sendiri, mulai dari saat datang di sekolah, siswa telah memakai masker, syukur ditambah face shield dan dibekali hand sanitizer menjadi lebih baik sebagai upaya proteksi diri.

Jika demikian, edukasi prokes terhadap pencegahan Covid-19, sudah di mulai terlebih dahulu dari lingkungan keluarga. Apalagi, belum sepenuhnya siswa divaksin. Tentu langkah preventif menyambut mulainya pelaksanaan PTM terbatas, perlu diawali pelaksanaan prokes dari keluarga terlebih dahulu.

Meminjam bahasa Haidar Bagir (2019:60), jika anak dalam lingkungan positif, pelaksanaan hal positif (prokes) akan mudah dijalankan.

Pasca prokes terimplementasi nyata di keluarga, sekolah sebagai lingkungan belajar lanjutan, memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan pengawasan prokes kepada siswa.

Mulai dari saat kedatangan, siswa diminta dan diarahkan untuk cuci tangan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengecekan suhu badan, serta kala menuju ke ruang kelas, meraka tetap diawasi tanpa berkerumun. Ini artinya, saat menuju ke ruang kelas masing-masing, siswa tetap dalam kondisi jaga jarak.

Menurut epidemolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo, saat PTM terbatas dimulai, sekolah harus memasang media informasi menyangkut prokes. Sebagai contoh memasang stiker, mana kursi yang yang boleh ditempati untuk tetap menjaga jarak antara siswa satu dengan lainnya.

Adapun saat pembelajaran, khususnya pada akhir pembelajaran, guru tidak lupa mengingatkan terkait pentingnya prokes. Mulai dari masker harus tetap dalam kondisi menutup mulut dan dagu, cuci tangan sebelum dijemput pulang, serta segera mandi dan berganti pakaian sesampainya di rumah.

Adapun bagi sekolah, jika pembelajaran sudah selesai, tim gugus tugas Covid-19 internal sekolah segera menyemprot ruang kelas, serta area yang dilalui siswa saat PTM menggunakan cairan disinfektan.

Tujuannya tidak lain untuk menghambat perkembangan virus corona yang menemper pada permukaan benda. Hal yang lain, standar opersional prosedur (SOP) prokes di sekolah bukan sekadar SOP, melainkan SOP yang dijalankan secara sistematis, terprogram, sebagai upaya menyambut PTM terbatas tetap aman dan sehat.

Akhirnya, menjaga prokes adalah bagian dari ikhtiar kolektif sifat kegotongroyongan yang menjadi karakteristik masyarakat Indonesia, guna mewujudkan tata sehat kemanusian menuju hidup normal kembali. Amin. Jatengdaily.com-she

* Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri Bojonegoro dan Pengurus Majelis Alumni IPNU Bojonegoro.