MUI, Ulama, Pelita, dan Derita Umat

Oleh: Ahmad Rofiq

HARI ini, Sabtu, 17/7/2021 bertepatan dengan 7/Dzul-Hijjah/1442 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah menggelar acara Pengukuhan Pengurus masa khidmat 2021-2026. Acara digelar di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, dengan blended yakni daring dan luring. Yang hadir secara luring hanya 24 orang, terdiri dari Dewan Pertimbangan 2 orang, Dewan Pimpinan Harian, dan Ketua-ketua Komisi, selebihnya dilakukan secara daring.

Pengukuhan dilakukan oleh Ketua MUI Pusat Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, yang juga ketua Baznas. Acara yang disambung dengan ta’aruf (perkenalan), biasanya disambung dengan rapat kerja. Akan tetapi karena situasi pandemi Covid-19, tampaknya, jika boleh mengusulkan, bisa digunakan untuk brain-storming, tukar fikiran, atau halaqah zoomiyah, untuk memberi solusi bagi rakyat yang terkena dampak PPKM Darurat. Khususnya masyarakat kecil, yang menjemput rizki untuk makan dan keburuhan sehari-hari keluarganya, dengan menggantungkan kerja harian, namun tidak bisa lagi mereka lakukan, akibat PPKM, usaha mereka terhenti.

Sementara kebutuhan dasar manusia seperti makan, minum, dan tempat berteduh, meminjam teori piramida Abraham Maslow, tidak bisa ditunda. Sementara mengandalkan pemerintah, tampaknya juga sudah sangat berat, apalagi masih banyak hal yang harus diselesaikan. Bahkan kata Ketua BPK pun sudah memberikan warning, pemerintah perlu waspada, khawatir tidak mampu membayar utang.

Oleh karena itu, pada momentum pengukuhan ini, kebetulan yang mengukuhkan Ketua Baznas Pusat, dan ketua umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji, M.Si. juga ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah, melalui acara halaqah fujaiyah zoomiyah atau diskusi dadakan secara zoom, dapat mengambil langkah-langkah kongkrit untuk menolong meringankan beban ekonomi saudara-saudara kita. Karena MUI modalnya fatwa, tausiyah, dan imbauan, maka formulasinya, ketua MUI Pusat memerintahkan kepada ketua Baznas Pusat, dan Ketua Umum MUI Jawa Tengah memerinahkan ketua Baznas Jateng:

1). Mengajak bekerjasama dengan apparat dan pemangku kepentingan, sampai ke tingkat RT dan RW untuk a). Memberikan bantuan sembako kepada warga yang terdampak plus alat pelindung diri meskipun minimal, seperti masker, hand sanitizer, dan sabun. b). Membuat dapur umum, dan mengajak para relawan yang memiliki keterampilan dan kemauan, untuk masak dan menyiapkan makan siap saji dengan hampers atau box untuk siap disistribusikan. c). Sekiranya, kekurangan petugas, distribusi bisa dilakukan dengan mengutamakan keluarga yang sedang dalam isolasi mandiri, dengan mengirim scan keterangan Rapid Antigen, dan alamat, agar petugas dapat mengirim ke alamat yang bersangkutan.

Boleh jadi ini usulan yang agal aneh, karena MUI bukanlah ormas yang memiliki massa besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Akan tetapi yang terpenting adalah niat, komitmen, dan Kerjasama. Kiranya tidak susah dan tidak sulit, jika ada dana besar yang berhasil dihimpun oleh Basnas Provinsi Jawa Tengah dan seluruh Baznas Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah. Meskipun dalam situasi normal distribusi zakat, mal utamanya, adalah untuk pemberdayaan ekonomi secara produktif, akan tetapi situasi akibat PPKM Darurat, tampaknya juga melahirkan kedaruratan ekonomi Sebagian warga kita.

Ulama dan Pelita Umat 
Ulama kata Rasulullah saw, adalah pelita umat. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: “Ada empat hal menjadi pilar/penyangga kehidupan dunia: ilmunya ulama, adilnya umara, kedermawanan aghniya, dan doanya fuqara. Kalau tidak ada ilmunya ulama, sungguh rusaklah orang-orang yang jahil (tidak berilmu), kalau tidak ada adilnya umara, sungguh akan saling memangsa (memakan) antara satu manusia atas lainnya, kalau saja tidak ada kedermawanan aghniya, rusaklah para fuqara, dan kalau tidak ada doanya fuqara’ maka rusaklah para aghniya’ (Al-Khaubawy).

Ilmu adalah cahaya (pelita atau suluh). Ketika umat dalam suasana “kegelapan” baik karena pandemi Covid-19, atau karena pandemi akibat defisit peradaban, keteladanan, dan pandemic perekonomian, maka saatnya Ulama hadir secara nyata, tidak hanya sekedar melalui lantunan doa, apalagi menjadi problem aitu sendiri, akan tetapi memberi solusi, untuk mengatasi derita umat, yang makin hari makin memprihatinkan. Belum lagi jika saatnya vaksin Covid-19, belum semua dapat, namun kabarnya bulan depan, vaksin harus berbayar dan mahal. Mudah-mudahan sih yang terakhir ini, hoax adanya. Untuk makan saja susah, bagaimana jika mereka untuk mendapatkan vaksin, harus membayar.

Boleh jadi pengukuhan MUI Provinsi Jawa Tengah ini, sekaligus diniatkan untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri atas kelahiran dan keberadaan MUI di masyarakat. Apakah kehadiran mereka ini sudah mencerminkan prilaku keulamaan, yang disebut “ahli waris para Nabi” atau “waratsatul albiyâ’”. MUI sejak kelahirannya 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia, MUI mengundang kontroversi. Meskipun MUI mewadahi hampir dari seluruh ormas Islam yang sevisi dan semisi dengan MUI itu sendiri untuk mengusung Islam wasathiyah (moderat), namun produk-produk fatwa yang dikeluarkannya, akan mengundang khilafiyah.

Sejalan dengan karakter fiqh itu, sendiri, munculnya kontroversi tentu sangat wajar. Dalam fiqh berlaku kaidah “man lam yasyumma râihata l-khilâf lam yasyumma râihata l-fiqh” artinya “barangsiapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, ia tidak mampu mencium aroma fiqh. Artinya, dalam fiqh itu, sah adanya, perbedaan pendapat, karena perbedaan pemahaman, situasi dan kondisi, dan juga paradigma dan perspektif persoalan yang menyertainya.

Umat yang sedang menderita karena dampak PPKM Darurat sekarang ini, tidak cukup hanya dengan pelita atau nasehat, karena dalam suasana menderita, memberikan nasehat, termasuk keimanan dan kesabaran sekalipun, tanpa memberikan sentuhan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, hanya akan mubadzir alias muspro. Karena itu, Dewan Pimpinan MUI baik Pusat maupun Provinsi Jawa Tengah, ajaklah dan melangkahlah secara nyata, sebagaimana formulasi yang diusulkan umat seperti di atas.

Selamat berkhidmat untuk umat, dan terus menjadi mitra pemerintah yang kritis, agar bangsa, rakyat, dan umat ini merasa terayomi, mendapat manfaat, dan semoga terselamatkan masa depan mereka, tetap terjaga iman mereka dan syukur dapat meningkat ketaqwaan mereka. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com-st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here