Lailatul Qadar Mengubah Takdir Lebih Baik?

Oleh: Ahmad Rofiq

NANTI malam kita memasuki malam dua puluh satu, malam ganjil  pertama, di sepuluh hari terakhir Ramadhan 1442 H. Boleh jadi nanti malam adalah bagian dari malam yang kita nanti-nantikan kehadirannya. Sepuluh hari lagi kita ditinggalkan oleh Ramadhan bulan berkah, kasih sayang, dan pengampunan-Nya. QS. Al-Qadar (97): 1-5 sudah menjelaskan tentang kemuliaan Lailatul Qadar adalah “lebih mulia dari 1.000 bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan”.

Prof. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an yang dikutip Wikipedia.org. menjelaskan bahwa kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni: pertama, penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada QS. Ad-Dukhan: 3-5: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami. Kedua, kemuliaan.

Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada QS. Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: “Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat”. Ketiga, Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: “Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)”.

Soal kapan waktunya, para Ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat, malam lailatul qadar itu terjadi pada malam 27 Ramadhan. Dasarnya, diambil dari kata lailatul qadar itu disebut tiga kali. Kata lailatul qadar berbahasa Arab, terdiri dari 9 huruf, dikalikan tiga, menjadi dua puluh tujuh. Seorang Ulama Sufi terkenal Abu Yazid al-Busthamy, juga menyatakan bahwa “lailatul qadar” terjadi pada tanggal 27 Ramadhan.

Riwayat dari ‘Aisyah ra, mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadan: “Rasulullah saw beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan Beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Para Malaikat atas ijin Allah, akan turun membawa kasih sayang dan penentuan taqdir baru bagi hamba-hamba Allah yang terkasih menjadi lebih baik, apabila hamba-hamba-Nya memohon kepada-Nya. QS. Al-baqarah (2): 186 menegaskan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Dalam pemahaman munasabah ayat, ayat 186 ini, menjelaskan hamba-hamba yang berpuasa di bulan Ramadhan. Karena itu, di malam penuh kemuliaan inilah, sebagai hamba-hamba yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya, diberi kesempatan untuk memohon perubahan nasib menjadi lebih baik. Tentu terkabulnya doa dan permohonan hamba, dengan syarat memenuhi segala perintah, beriman dan selalu berada dalam kebenaran.

Riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah r.a. Ia berkata, saya bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apa pendapat Engkau, seandainya aku menemukan malam lailatul qadar, maka do’a apakah yang aku ucapkan pada malam itu? Rasullullah SAW menjawab: “Berdo’alah dengan mengucapkan, “Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii” artinya “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Mulia, dan menyukai memberikan pengampunan, maka ampunilah kesalahanku” (H.R. Lima Imam hadits, kecuali imam Abu Daud).

Doa di atas tentu mengandung pesan, agar kita sebagai hamba-hamba Allah yang berusaha menjadi hamba terbaik, muttaqin, maka menjadi hamba yang selalu mohon maaf dan pemaaf, adalah misi utama ibadah puasa dan doa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karena itu, identitas terpenting orang yang bertaqwa adalah “menahan amarah dan pemaaf kepada orang lain” (QS. Ali ‘Imran (3): 134). Tidak mudah marah, tidak mendendam, tidak iri dan hasud, dan selalu berusaha membuka ruang hati dari sifat-sifat negatif lainnya.

Sifat lembut (layyin) dan pemaaf inilah, yang menjadi modal utama keberhasilan Rasulullah saw dalam membawa risalah Islam. Orang yang senantiasa memohon maaf dan ampunan kepada Allah, harapannya juga akan menjadi pemaaf dan jauh dari sifat dan sikap pendendam. Itulah hakikat orang yang bertaqwa, dan orang yang bertaqwa kepada Allah, akan diberi jalan keluar, diberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka (QS. Ath-Thalaq (65): 2-3).

Karena itu, Rasulullah saw menegaskan “Orang Islam (yang sesungguhnya) adalah orang yang mampu menjaga keselamatan (kenyamanan) orang Islam lainnya dari (tutur kata) lisan dan tangan (kekuasaan)-nya”. Semoga kita diperkenankan oleh Allah Rabbul ‘Arsy untuk mendapatkan lailatul qadar dan kasih sayang-Nya, dan di akhir Ramadhan, kita benar-benar ber-Idul Fitri, benar-benar kembali kepada kesucian, karena kita sudah menjadi pemaaf dan senantiasa menahan amarah. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Penasehat Lembaga Amil Zakat Masjid Agung (Lazisma) Jawa Tengah, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman dan Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah.Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here