Nuzulul Quran dan Jati Diri Beragama

Oleh: Ahmad Rofiq

ALLAH ‘Azza wa Jalla menegaskan, bahwa di dalam buan Ramadan, diturunkan Alquran, untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara ang hak dan yang bathil. Lebih lengkapnya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS. Al-Baqarah (2): 185).

Seberapa hati dan pikiran kita bersenang hati menerima dan menjalankan ibadah puasa? Sudah barang tentu tergantung pemahaman kita akan keutamaan dan makna bulan Ramadhan ini. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, masih cukup prihatin, karena masih banyak saudara kita yang seolah tanpa halangan syar’i, mereka tidak berpuasa, dan kadang secara demonstratif dilakukannya di hadapan khalayak.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Ini tidak mudah, karena urusan kualitas keberagamaan seseorang, itu menjadi urusan dia sendiri kepada Allah Sang Khaliq. Pada akhirnya, itu menjadi tanggung jawabnya sendiri di akhirat kelak. Di sinilah relevansi, bahwa “iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang”. Karena itu, sapaan wahai orang-orang yang beriman (QS. Al-Baqarah (2): 183) menjadi fondasi dan dasar seseorang yang bisa dan mampu merasakan lezatnya puasa.

Abu Ishaq Ibrahim al-Syathiby menegaskan, perintah puasa dan ibadah lainnya, merujuk pada al-awamir dan al-nawahi (perintah dan larangan) dalam Alquran. Hamba-hamba yang cakap melakukan perbuatan hukum itu, akan dapat menjalankannya dengan baik, manakala memahami makna dan kandungan perintah atau larangan tersebut. Bagaimana mereka bisa menikmati ibadah puasa, kalau mereka tidak memahami dengan bai kapa hikmah dan keuntungan di balik makna puasa itu sendiri.

Ini sejalan dengan riwayat Ibn Abbas, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Seandainya umatku memahami rahasia dan keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan, sungguh mereka akan mengharapkan setahun penuh menjadi bulan Ramadhan. Karena kebaikan dikumpulkan, ketaatan diterima, doa-doa akan diijabahi, dosa-dosa diampuni, surga digelar untuk mereka”. Apakah mereka tidak pernah mendengar penjelasan hadits tersebut.

Kepatuhan seorang hamba akan seluruh perintah Allah, dan meninggalkan semua larangan-Nya, adalah jati diri dari seseorang beragama. Perintah puasa itu, karena di dalamnya ada makna dan hikmah yang sangat penting, bagi kehidupan manusia. Melatih kejujuran, kedisiplinan, memperkuat iman, membangun kepedulian sosial, dan melatih kedermawanan. Di dalam diri manusia, akan ada perlawanan, yakni sifat dan sekaligus penyakit kikir, bakhil, yang terus bersemayam dalam diri manusia.

Rasulullah saw menegaskan: “(Pahala) puasa seorang hamba, digantung di antara langit dan bumi dan tidak akan dinaikkan kepada Allah, hingga ia tunaikan zakat fitrahnya” (Riwayat As-Suyuthi dari Jarir bin Abdillah). Dalam Riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw memfardhukan zakat fitrah, untuk menyucikan orang yang puasa dari (ucapan dan perbuatan) yang sia-sia dan memberi makan orang-orang miskin, barang siapa menunaikannya sebelum shalat (‘Idul Fitri) maka zakat diterima, dan barang siapa menunaikannya setelah shalat (‘Id) maka termasuk sedekah biasa”.

Oleh karena itu, marilah pada kesempatan di bulan penuh berkah ini, kita maksimalkan ibadah puasa kita dengan menyempurnakannya dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Selain tadarrus, juga menghadiri kegiatan majlis ilmu, karena dengan demikian apa yang kita peroleh di bulan puasa ini, akan menjadi tabungan dan investasi besar bagi masa depan kita. Dengan kita merenungkan hikmah diturunkannya Alquran pada bulan Ramadan, kita terus dalam sinaran petunjuk Allah, dan mampu melihat yang benar dan yang batil, dan mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan meraih kebahagiaan, kebahagiaan saat mengakhiri puasa dan menunaikan zakat fitrah, dan kebahagiaan pada saat berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang kembali kepada fitrah, hamba-hamba yang meraih kemenangan dan kebahagiaan, semoga Allah menerima ibadah kita, dan kita semua sepanjang tahun, dan senantiasa berada dalam kebaikan dan keberkahan.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Anggota Dewan Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah, alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com–st

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here