SEMARANG (Jatengdaily.com)– Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar Summer Course Program bertemakan “European and Asian Business Model: Challenges, Barriers, and Opportunities.”
Summer course ini diikuti sedikitnys 600 mahasiswa, 113 diantaranya adalah mahasiswa asing, dengan menghadirkan pembicara-pembicara hebat dari sejumlah universitas dari luar negeri.
Mereka adalah Prof. Dr.Ing. Jan Veuger dan Prof. Timber Haaker, dari Saxion University of Applied Sciences, The Netherlands, Dr. Yifan Zhong, dari Curtin university, Australia, Prof. Dr. Ali Smida dari Sorbonne University Paris Cite, France, dan Prof. Ying Chyi Chou dari Tunghai University, Taiwan,
Juga Dr. Pok Wei Fong dan Dr. Omar Hamdan Alkharabsheh dari Universiti Tunku Abdul Rahman, Malaysia, Prof. Shimada Yuzuru, dari Nagoya University, Japan, Dr. Chung-Ming Chang dari Chang Gung University, Taiwan,
Juga Azilah Anis, Ph.D dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia, Dwi Winarsih, Ph.D dari Universite de La Rochelle, France, dan Prof. Dr. Che Ruhana Binti Isa dan Assoc. Prof. Dr. Ervina Binti Alfan dari University of Malaya, Malaysia,
Juga Dr. Kaouther Ben Jemaa. Prof. Dr. Faouzi Bensebaa, Prof. Dr. Michel Dimou, Dr. Elhem Hammami dari IDHEP (Institut de Développement et des Hautes Études de Paris), Paris, France
Dekan FEB Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. mengatakan, summer course dengan partisipasi dari sejumlah pakar dari luar negeri ini merupakan sesuatu yang luar biasa.
‘’Merupakan kehormatan bagi saya untuk menyambut Anda semua dalam program Summer Course 2021. Acara ini merupakan program tahunan kami yang akan dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu mulai tanggal 5 Juli sampai dengan tanggal 23 Juli 2021. Kami sangat senang dengan partisipasi Pembicara terkemuka dari universitas mitra kami di luar negeri,’’ jelasnya, dilansir Sabtu (10/2/2021).
Lebih lanjut Dekan tidak lupa bersyukur atas terselenggaranya acara ini. ‘’Saya sangat bersyukur dalam situasi pandemi ini, kita tetap bisa mengadakan acara Summer Course walaupun harus dilakukan secara online. Semoga situasi pandemi ini tidak mempengaruhi semangat kita untuk terus belajar, dan mendorong kita untuk menatap ke depan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Ini adalah acara kedua kami setelah sukses mengadakan Summer Course di tahun sebelumnya, dan dengan bangga kami informasikan bahwa kami memiliki lebih dari 600 peserta yang terdiri dari pelajar asing dan juga pelajar Indonesia dalam acara ini,’’ jelasnya.
Dekan juga berharap agar diskusi ini bermanfaat. ‘’Semoga kita semua mendapatkan ilmu baru dan berharga melalui program kuliah tiga minggu ini,’’ jelasnya.
Dalam kesempatan ini, dibahas terkait dengan bagaimana tren model bisnis Eropa dan Asia dan tantangan, hambatan, dan peluangnya.
Dr. Pok Wei Fong dari Universiti Tunku Abdul Rahman, Malaysia sebagai pembicara pertama dalam kesempatan ini banyak bicara terkait dengan e-commerce business models dan strategi kesuksesannya.
Menurutnya, era digital seperti saat ini, bisnis e-commerce merupakan hal yang menarik. Orang mulai nyaman menggunakan e-commerce karena dengan berbelanja online, manusia tidak lagi harus pergi
Namun yang perlu diperhatikan dari bisnis e-commerce adalah terkait dengan website, teknologi di bidang IT, penjualan atau market, informasi dan komunikasi serta pengelolaanya, juga harus mampu menguasai media sosial. Peran media sosial menurutnya sangat penting, sebab mampu menjaring konsumen dalam hal ini.
Bisnis e-commerce menurutnya, meski komprehensif, kuncinya adalah bagaimana pemasaran itu menarik konsumen lewat media sosial. Yang tidak kalah penting, adalah bagaimana mekanisme pola kerja untuk bisa sampai pada konsumen.
Dimulai dari konsumen yang pesan dari online store, kemudian toko-toko yang tergabung dalam startup tersebut secara otomatis mengirim pesanan ke pemasok atau supplier, kemudian dari supplier barang dikirim ke konsumen dengan pola pengiriman yang terkontrol dan aman. Diakui, saat ini tidak sedikit juga sejumlah tutorial yang mengajarkan bagaimana bisnis e-commerce.
Bisnis e-commerce menurutnya, saat ini sudah membentuk jaringan dengan sejumlah negara khususnya terkait dengan penjualan produk-produknya. Hal ini juga melibatkan sejumlah perusahaan-perusahaan yang turut andil berkontribusi dalam pengembangan bisnis online ini.
Dia mencontohkan, bagaimana ekonomi digital di negaranya, Malaysia mengalami booming, pada lima tahun terakhir ini. Pendapatan dari sektor ini juga menyumbang angka nominal yang tidak sedikit.
Dia mencontohkan di Malaysia business to consumer (B2C) platform tertinggi di negaranya, yakni Lazada (78,4%), Sopee (77,3%), mudah.my (63,6%), Lelong.my (53,4%), GoSHOP (38,6%), ezbuy (23,3%) dan PrestoMall (9,1%). she


