Oleh : M Yamani
Statistisi Ahli Muda BPS Kota Semarang
INFLASI adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang.
Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi. Hingga saat ini inflasi merupakan gejala ekonomi yang menjadi perhatian banyak pihak. Maksudnya dalam hal ini inflasi tidak hanya menjadi perhatian masyarakat umum, tetapi juga menjadi perhatian dunia usaha, bank sentral, dan pemerintah.
Sedemikian pentingnya inflasi menyebabkan rilis inflasi setiap awal bulan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mendapatkan perhatian dari masyarakat luas.
BPS Provinsi Jawa Tengah dalam rilis inflasi terakhir menyebutkan pada November 2021, Jawa Tengah mengalami Inflasi sebesar 0,34 persen. Dari enam kota IHK di Jawa Tengah, semua kota mengalami inflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tegal sebesar 0,46 persen diikuti oleh Kota Purwokerto sebesar 0,40 persen; Kota Cilacap sebesar 0,36 persen; Kota Surakarta sebesar 0,33 persen; Kota Semarang sebesar 0,33 persen; dan inflasi terendah terjadi di Kota Kudus sebesar 0,31 persen.
Penyumbang Inflasi
Inflasi bulan November 2021 sebesar 0,34 persen, lebih tinggi dibandingkan November 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Tingkat inflasi tahun kalender November 2021 sebesar 1,05 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun November 2021 terhadap November 2020 sebesar 1,51 persen.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,78 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,64 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,63 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,29 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,23 persen; kelompok transportasi sebesar 0,20 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,19 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,17 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,10 persen; dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen. Sedangkan kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan indeks (relatif stabil).
Andil Inflasi adalah besarnya sumbangan setiap komoditas yang mengalami fluktuasi harga terhadap inflasi atau deflasi yang terjadi di suatu kota. Dari 11 kelompok pengeluaran, kelompok yang memberikan andil/sumbangan Inflasi yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,19 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,04 persen; kelompok transportasi sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga dan penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,02 persen; dan kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok kesehatan, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya masing-masing sebesar 0,01 persen. Sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dan pendidikan tidak memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi Jawa Tengah.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau merupakan andil/sumbangan Inflasi terbesar. Komoditas pada kelompok ini yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, adalah telur ayam ras sebesar 0,09 persen, minyak goreng sebesar 0,08 persen dan cabai merah sebesar 0,07 persen. Ketiga komoditas ini juga mendominasi andil/sumbangan inflasi pada enam kota IHK di Jawa Tengah. Inflasi di Kota Tegal utamanya disebabkan naiknya harga telur ayam ras, minyak goreng dan cabai merah dengan andil/sumbangan inflasi 0,15 persen; 0,11 persen dan 0,09 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Purwokerto yaitu telur ayam ras, minyak goreng dan cabai merah sebesar 0,13 persen; 0,10 persen dan 0,05 persen. Kota Cilacap mengalami inflasi yang utamanya disebabkan kenaikan harga minyak goreng; telur ayam ras dan cabai merah sebesar 0,11 persen; 0,09 persen dan 0,04 persen. Beberapa komoditas yang memberikan andil/sumbangan terbesar terhadap inflasi di Kota Surakarta antara lain telur ayam ras, minyak goreng dan cabai merah sebesar 0,11 persen; 0,09 persen dan 0,05 persen.
Inflasi di Kota Semarang utamanya disebabkan naiknya harga cabai merah, telur ayam ras, minyak goreng dengan andil yang sama 0,08 persen. Kota Kudus mengalami inflasi yang utamanya disebabkan kenaikan harga telur ayam ras, cabai merah dan minyak goreng sebesar 0,11 persen, 0,06 persen dan 0,05 persen.
Lantaran ketiga komoditas memiliki pengaruh yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat, maka perlu dilakukan strategi yang mencakup Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif (4K) di masa pandemi COVID-19.
Selain itu, dengan menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Implementasi strategi difokuskan untuk menjaga kesinambungan pasokan sepanjang waktu dan kelancaran distribusi antardaerah, antara lain melalui pemanfaatan teknologi informasi dan penguatan kerja sama antardaerah. Jatengdaily.com-yds


