in ,

Petani Perempuan Sragen

Oleh: Indah Nurvitasari, SST
Statistisi Ahli Pertama
BPS Kabupaten Sragen

PROVINSI Jawa Tengah memperoleh penghargaan sebagai daerah dengan tingkat produksi beras tertinggi se-Indonesia tahun 2019. Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, penghargaan ini diperoleh karena Jateng, berhasil memproduksi panen padi 9.655.653 ton gabah kering giling (GKG), pada tahun 2019.

Jumlah tersebut, setara dengan produksi beras 5.539.448 ton beras. Selain provinsi Jateng yang memperoleh penghargaan, tiga kabupaten di Jawa Tengah juga memperoleh predikat produsen padi tertinggi. Salah satunya yaitu Kabupaten Sragen dengan 766.012 GKG yang menempati posisi sembilan tertinggi nasional.

Lebih lanjut Kabupaten Sragen tidak hanya memperoleh predikat produsen padi tertinggi tetapi juga merupakan salah satu lumbung pangan di Indonesia. Kabupaten Sragen menjadi lumbung padi peringkat ke-11 dalam skala nasional dan peringkat tiga di Provinsi Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Grobogan karena di kedua kabupaten tersebut memiliki area yang lebih luas lahan persawahannya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menyampaikan, untuk hasil panen tahun ini cukup berhasil. Sebanyak 410 ribu ton beras dihasilkan Kabupaten Sragen. Sedangkan gabah yang dihasilkan sekitar 640 ribu ton (Radarsolo.JawaPos.Com 9 April 2021).

Pencapaian Kabupaten Sragen baik di tingkat nasional maupun provinsi ini tidak lepas dari peran petani di Sragen. Bagaimana petani mengolah tanah sebelum ditanam, pengaturan pengairan, proses memilih bibit unggul, proses penanam bibit padi, proses pemupukan, hingga padi dapat dipanen tepat waktu harus dilakukan dengan disiplin.

Kenapa demikian, karena untuk meningkatkan produktivitas dan hasil panen, mustahil terwujud jika petani tidak disiplin. Petani Sragen juga menerapkan beberapa terobosan inovasi dan teknologi dalam bersawah. Salah satunya tanam padi dengan pola indeks pertanaman (IP) 400 atau tanam dan panen 4 kali setahun. Selain itu wilayah Kabupaten Sragen juga dipercaya untuk uji coba lokasi demplot penggunaan pupuk cair organik bersubsidi karena merupakan lumbung pangan di Indonesia dan Sragen lokasinya lebih strategis dan dinamis.

Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, tercatat ada 166.673 petani di Kabupaten Sragen. Terdiri dari 126.566 petani laki- laki dan 40.207 petani perempuan. Artinya sekitar 24 persen dari total merupakan petani perempuan. Peran petani perempuan memang tidak bisa dikesampingkan. Proses penanaman dan pasca panen petani perempuan memiliki peran yang dominan.

Selain itu jumlah rumah tangga usaha pertanian di Sragen dengan perempuan sebagai pemimpin dalam rumah tangga berjumlah sekitar 16.131 rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai ibu rumah tangga, sebagian perempuan di Sragen tidak hanya bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga. melainkan, perempuan juga menjadi pencari penghasilan.

Uniknya Petani Perempuan
Hal unik mengenai petani perempuan Sragen yaitu kebiasaan yang mereka lakukan memang sengaja tanam padi di malam hari di kala orang lain terlelap tidur. Alasannya menghindari siang hari yang terik dan mengejar ketersediaan air. Saat Kementerian Pertanian (Kementan) yang dipimpin Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi bersama anggota Komisi IV DPR RI Luluk Nur Hamidah mengunjungi desa Tangkil, Kepala Bidang Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Budi menyebutkan wanita-wanita hebat ini tak kenal lelah membuktikan dedikasinya yang luar biasa.

Mereka sudah menjadi kebiasaan di daerah tersebut tanam padi malam hari, dengan upah borongan semalam jasa penanaman yang mereka peroleh sekitar Rp 100 ribu.(liputan6.com 29 November 2020). Dalam kunjungannya Ibu Luluk Nur Hamidah juga merasa kagum dengan dedikasi petani perempuan Sragen yang saat orang tidur tetapi tetap memilih bekerja.

Disampaikan bahwa petani itu penolong negeri, menyediakan pangan buat kita. Dan harapannya lokasi tersebut bisa jadi model pertanian di wilayah lain. Pertama harus diangkat marwah petani dan kedua ini terlihat rahasia kuncinya Sragen bisa masuk 10 besar produksi beras karena ternyata cara kerja dedikasinya luar biasa.

Kendala 
Di balik suatu keberhasilan pasti ada banyak kendala yang dilalui. Begitu juga kendala-kendala yang dialami oleh petani perempuan Sragen. Pertama, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa dari total petani perempuan di Sragen, ada 31.650 petani perempuan atau sekitar 79 persen hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.

Artinya sebagian besar petani perempuan Sragen memiliki jenjang pendidikan terbilang rendah. Bisa jadi karena hanya tamatan SD atau bahkan ada yang tidak bersekolah hanya diterima bekerja di sektor lapangan pertanian. Yang notabennya tidak terlalu membutuhkan banyak pemikiran, cukup otot kuat untuk menyelesaikan pekerjaan pertanian dalam hal ini mengolah sawah. Sementara sektor lain misalnya industri (pabrik-pabrik di Sragen) mensyaratkan minimal harus tamatan SMP.

Kedua, dalam penggunaan internet sebanyak hanya 20.747 petani atau sekitar 12 persen dari total petani di Sragen yang mengakses internet. Sementara petani perempuan yang mengakses internet hanya 2.761 atau 7 persen. Hal ini senada dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan oleh petani perempuan. Makin rendah jenjang pendidikan yang ditamatkan, makin sedikit mereka mengakses internet.

Dalam proses pengelolaan pertanian (mengolah sawah) memang tidak memerlukan akses internet dalam praktek langsungnya. Namun tidak dapat dipungkiri juga, melalui akses internet, banyak bisa kita temukan teknik dan tips mengolah sawah yang tepat sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

Ketiga, keberadaan alat tanam padi yang tidak sedikit juga menggeser peran petani perempuan dalam proses penanaman. Sejak berdatangan alat tanam padi di Kabupaten Sragen, masyarakat mulai mempercayakan proses tanam padi pada alat tanam padi. Banyak keunggulan dari alat ini bila dibandingkan dengan cara tardisional yaitu meningkatkan efisiensi produksi, terutama efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja tanam.

Bisa dibilang lebih hemat tenaga dan hemat biaya ketika proses penanaman menggunakan alat tanam dibanding ditanam langsung oleh banyak petani perempuan. Bila semua proses tanam padi sudah dilakukan oleh alat tanam padi, maka akan hilang penghasilan petani perempuan Sragen selama ini terutama petani perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Efeknya, bisa jadi penduduk miskin yang ada di Sragen akan bertambah.

Teknologi
Masih banyak lagi kendala– kendala yang dihadapi oleh petani perempuan Sragen selain yang disebutkan di atas. Sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Sragen. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang. Saat puncak panen raya padi yang berlangsung Maret hingga April 2021 harga gabah petani justru anjlok. Dampaknya bagi petani, musim panen bukan mendapat untung, tapi malah merugi.

Pendidikan bagi para perempuan, terutama yang tinggal di Sragen, mesti diutamakan. Dengan pendidikan yang memadai, perempuan diharapkan mampu meningkatkan taraf kehidupannya, terutama petani perempuan Sragen. Terciptanya proses pertanian yang lebih efektif dan efisien, diharapkan dapat dicetuskan dari pemikiran para petani perempuan.

Selain pendidikan, pelatihan jaringan internet bagi petani juga diperlukan. Setidaknya para petani mengerti teknologi informasi internet dan membentuk petani yang andal serta tidak gagap teknologi (gaptek). Para petani khususnya petani perempuan Sragen menjadi terbuka wawasannya dan mampu mengikuti harga pasar melalui jaringan online.

Hal ini dimaksudkan supaya petani tidak dibohongi para tengkulak atau pedagang soal harga karena di internet ada akses harga dan jaringan agrobisnis. Selain itu petani perempuan Sragen dapat mengenal manfaat penggunaan teknologi dan informasi, informasi pasar, serta pemasaran produk pertanian.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keseimbangan antara penggunaan tenaga petani perempuan Sragen dengan alat tanam padi juga perlu diperhatikan. Tetap memberdayakan tenaga petani perempuan yang dibekali dengan teknik menanam yang efektif dan efisien perlu diwujudkan di kabupaten Sragen.

Di satu sisi mendatangkan alat tanam padi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, satu alat tanam padi hanya mampu mengkover satu hektar sawah per harinya. Padahal luas area sawah di Sragen mencapai 40.121 hektare. Di sisi lain banyak rumah tangga yang menggantungkan penghasilannya dari sektor pertanian. Sayang sekali, bila mereka harus kehilangan penghasilan karena adanya kemajuan teknologi. Jatengdaily.com-yds

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Kemiskinan dan Pengangguran Terbuka Jadi Catatan Dewan untuk Dicarikan Solusi

‘Ekspedisi Seroja’ Salurkan Bantuan Banjir NTT