Poros Barat Dinilai Gagal Merespons Pandemi Covid-19

Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang Prof Dr Mudfzakir Ali foto bersama dengan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Dr Agus Riyanto SIP MSi dan para dosen usai menggelar Seminar Nasional Politik dan Hubungan Internasional (Senas Polhi) Ke-3, di Kampus Unwahas, Semarang, Kamis (02/09/2021).Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pengamat politik Dr Ali Martin SIP MSi menilai Poros Barat dianggap gagal dalam memberikan respons tepat guna pada saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Di lain pihak China yang dianggap melakukan kesalahan sebagai penyebab terjadinya pandemi ini mulai menunjukkan respons yang lebih baik.

‘’Konstelasi politik global akan berubah sebagai implikasi dari pandemi Covid-19, mulai dari pemetaan kekuatan negara dan aliansinya, sampai dengan arah politik luar negeri banyak negara. Pandemi ini akan membuat terjadinya pergeseran kekuatan global yang semula Amerika Serikat dan Eropa dianggap sebagai poros utama dari barat, sekarang perlahan bergeser pada poros timur,’’ tegas Ali Martin dalam Seminar Nasional Politik dan Hubungan Internasional (Senas Polhi) Ke-3, yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) di Kampus Jl Menoreh Tengah X, Semarang, Kamis (02/09/2021).

Dekan Fisip Dr Agus Riyanto SIP MSi menjelaskan, seminar tersebut diselenggarakan secara luring dan daring. Sebagai pembicara kunci Menteri Sekretaris Negara Prof Dr Pratikno MSoc.Sc. Pembicara lainnya yaitu Prof Dr Tirta N Mursitama PhD, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Binus University, Dr Ali Martin SIP MSi dan Rektor Unwahas Prof Dr Mudzakir Ali.

Ketika membuka seminar tersebut Mudzakir Ali mengingatkan, dibalik musibah pasti ada rahmah atau barokah. ‘’Dalam Al-Quran sudah diterangkan musibah pandemic Covid-19 ini tidak terjadi begitu saja. Semua atas izin Allah Swt Tuhan Sang Pencipta. Jadi kalau hari ini masih ada yang bilang pandemic ini konspirasi itu merupakan pemahaman jahiliyah yang harus diluruskan,’’ tegasnya.

Menurut Ali Martin, dalam menghadapi pandemi ini China berperan signifikan dalam kerja sama pengadaan alat-alat medis di banyak negara, termasuk vaksin. ‘’Kerja sama dalam bidang riset kesehatan juga sedang intensif dilakukan oleh China. Jadi pandemi ini akan membawa pengaruh kemana-mana termasuk kehidupan politik nasional dan internasional,’’ tegas dosen Fisip Unwahas itu.

Senada dengan Ali Martin, Menteri Sekretaris Negara Prof Dr Pratikno MSocSc mengatakan, pandemic membawa pelajaran penting. ‘’Covid-19 sebagai penyakit berbahaya dan menular tidak ada satu pun orang aman dan tidak ada satu pun negara yang aman dari pandemi itu. Maka akan terjadi perubahan dari kompetisi menjadi kooperasi atau kerja sama. Kebersamaan menjadi penting,’’ tegasnya.

Apabila semua negara berkompetisi berebut vaksin dan obat, Pratikno yakin tidak akan keluar dari pandemi Covid-19. ‘’Sudah terbukti, negara yang merasa kuat ternyata kasus positif Covidnya naik terus. Jadi butuh kerja sama sekarang,’’ tegasnya.

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) dari Binus University Prof Dr Tirta N Mursitama PhD mengatakan, pandemi Covid-19 membawa krisis kesehatan yang berdampak pada segala aspek seperti ekonomi, politik dan lingkungan.

‘’Negara mengutamakan kepentingan domestik masing-masing. Kritik terhadap organisasi internasional semakin besar dan berkembangnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah sebagai respons dari penanganan krisis Covid,’’ katanya.

Pandemi menurutnya membuat masing-masing negara mementingkan kepentingan nasionalnya sendiri-sendiri dengan tujuan yang sama yaitu menghentikan penyebaran virus Covid-19. ‘’Hal ini menurunkan rasa percaya diri terhadap globalisasi yang menjadi salah satu driven factor untuk kerja sama internasional beberapa decade terakhir. Pandemi digunakan untuk membangun citra positif negara jika berhasil mengendalikan penyebaran virus dengan baik,’’ katanya.

Menurut Prof Tirta, Amerika Serikat dinilai lambat dan hal ini menunjukkan kurang mumpuninya pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dalam menangani Covid-19. ‘’Amerika Serikat kurang aktif dalam memberikan bantuan kesehatan dalam masa krisis ini dan ini memberikan ruang bagi China untuk mengisi kekosongan tersebut. Presiden Joe Biden berfokus pada pemulihan aspek kesehatan dan ekonomi domestik sebagai prioritas utama,’’ katanya.

Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan menurut Tirta menyebabkan Taliban mengambil alih pemerintahan Afghanistan. ‘’Hal ini disebabkan oleh miskalkulasi pemerintah Amerika Serikat terhadap kondisi politik Afghanistan, nation-building dan meremehkan kemampuanTaliban,’’ katanya.

China mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 dengan melakukan lockdown pada Q1 2020 yang mengakibatkan ekonomi China mengalami kontraksi sebesar 6.8%. Namun dengan aksi cepat ini, pada Q1 2021 perekonomian China tumbuh sebesar 18,3% YoY (BBC, 2021) ‘’China menggunakan ‘health silk road’ dengan memberikan bantuan medis kepada negara lain antara lain Italia, negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara. Strategi lain dari health silk road adalah melalui vaccine diplomacy terutama bagi negara-negara yang menjadi partner di Belt and Road Initiative (BRI). st