Puisi Bisa Jadi Perekat Kebinekaan

Gunoto Saparie (kiri) dan Didiek Soepardi

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Karya sastra, khususnya puisi, dapat menjadi perekat kebinekaan. Hal ini bisa terjadi kalau pembaca karya sastra mengalami pencerahan setelah membaca karya-karya sastra yang menampilkan kebinekaan atau keragaman dalam masyarakat Indonesia.

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie ketika menjadi narasumber dalam acara Lintas Semarang Malam RRI Semarang, Minggu malam, 5 September 2021. Selain dia, narasumber lain adalah Ketua Komunitas Kumandang Sastra Semarang Didiek Soepardi, dengan penyiar atau pemandu Aldy.

Gunoto mengatakan, di tengah ancaman polarisasi dan konflik dalam masyarakat, karya-karya puisi yang menampilkan tema-tema kebinekaan menjadi sangat penting. Karya-karya puisi bisa menjadi wahana pembelajaran tentang keragaman. Dalam khazanah sastra Indonesia, banyak kita temukan karya-karya puisi yang mengetengahkan multikultural, berupa keragaman budaya, etnis, agama, kearifan lokal, dan sebagainya.

“Kemajemukan dalam masyarakat adalah keniscayaan. Ia tidak dapat dielakkan dalam kehidupan kita. Karya-karya puisi seharusnya menjadi penjaga kebinekaan itu,” katanya.

Didiek Soepardi menambahkan, para penyair mendukung program pemerintah untuk menggalakkan gerakan literasi dalam masyarakat. Mereka mewujudkan dalam bentuk karya sastra, terutama puisi, yang mengungkapkan betbagai keragaman dalam masyarakat.

“Dalam hal meningkatkan minat baca para siswa, peran sekolah tentu sangat dibutuhkan. Para pendidik harus mampu menanamkan minat baca siswa sejak dini. Karya sastra mengungkapkan berbagai hal tentang dunia dengan segala sesuatunya. Tentu saja termasuk keragaman dan kebinekaan di negara kita,” ujar Didiek yang juga sering memakai nama pena Driya Widiana ini.

Pada kesempatan itu dibacakan sejumlah puisi yang menampilkan kebinekaan. Antara lain puisi berjudul “Kisah Malin Terantuk Batu” karya Kurniawan Junaedhie, “Kugenggam Erat Balon-Balon” (Wage Teguh Wijono), “Anak Bangsa” (Thomas Haryanto Soekiran).st