Loading ...

Revitalisasi Taman Balekambang Solo, Menuju Pusat Kebudayaan

0
30kethoprak

Pentas kethoprak Balekambang Solo. Foto: dok/yanuar

SOLO (Jatengdaily.com) – Taman Balekambang menjadi salah satu objek wisata andalan Kota Solo selama ini. Bahkan di tahun 2019 mencatat jumlah kunjungan wisatawan Jateng 2,6 juta orang, cuma kalah dari Candi Borobudur.

Terlepas hal itu Taman Balekambang memang sarat sejarah sejak pendiriannya. Berlokasi di kawasan Jalan Ahmad Yani Solo, Taman Balekambang didirikan KGPAA Mangkunegara VII pada tanggal 26 Oktober 1921 dan dulunya bernama Partini Tuin dan Partinah Bosch.

Taman Balekambang terbagi dua area, di Partini Tuin sejak dulu sudah terdapat dua kolam, yakni kolam taman yang bisa digunakan untuk wisata perahu, dan kolam renang yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bermain air, di sebelah baratnya. Sedangkan Partinah Bosch kawasan taman yang ditanami pohon-pohon langka.

Di era tahun 1970-1990-an, Taman Balekambang juga sudah menjadi pusat kegiatan budaya. Ada gedung kethoprak dan Srimulat yang rutin manggung di tempat tersebut. Seiring berjalannya waktu, gedung tersebut sempat mangkrak bertahun-tahun. Dan sekitar 2008-an mulai ditata lagi.

Hingga kini Taman Balekambang menjadi jujukan wisatawan khususnya di hari Sabtu-Minggu. Pertunjukan kethoprak dan sendratari Ramayana menjadi agenda budaya di lokasi ini.

Menggembirakan, ketika pemerintah melalui Kementerian PUPR akan merevitalisasi Taman Balekambang menjadi pusat kebudayaan di Solo. Setidaknya, bisa mengembalikan pamor Balekambang yang sudah termasyur sejak puluhan tahun silam sebagai pusat kegiatan budaya.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, belum lama ini mengunjungi Taman Balekambang. Beberapa titik lokasi dicek, seperti gedung kesenian, panggung terbuka serta kolam.

“Perintah Pak Presiden ingin membuat suatu pusat kebudayaan Jawa. Saya ingin menerjemahkan perintah itu, ini cari rohnya apa,” katanya Basuki.

Diakuinya, bukan perkara mudah menerjemahkan perintah Presiden tersebut mengingat Taman Balekambang bukan hanya sebagai tempat pertunjukan, melainkan juga destinasi wisata bernuansa alam.

“Harus hati-hati betul menerjemahkan perintah beliau, ini ruang terbuka untuk publik, untuk masyarakat. Hati-hati mendesain, merevitalisasi. Tidak mungkin mengubah kawasan botanical yang luar biasa ini, mana ada yang seperti ini di kota lain, susah dicari,” katanya.

Di sisi lain ingin menjadikan Taman Balekambang sebagai pusat kebudayaan. Karena itu juga harus ditemukan roh kebudayaan yang ada di sini. “Gedung kethoprak bisa menjadi sarana pelestari kebudayaan di Taman Balekambang,” kata Basuki.

Direncanakan revitalisasi Taman Balekambang Solo ini akan dimulai pada tahun 2022. Menteri Basuki sendiri mengaku mempunyai kenangan di Taman Balekambang, karena sekitar tahun 1980-1984-an dia sering nonton grup lawak Srimulat di tempat tersebut. Saat itu Srimulat Solo diisi oleh pelawak andalannya Gepeng, Djujuk cs. yds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *