Tahok Solo, Kuliner Pas di Musim Hujan

Tahok 'Pak Wagiman' salah satu dari penjual tahok yang bertahan di Kota Solo saat ini. Foto: yds

SOLO (Jatengdaily.com) – Kuliner satu ini mempunyai nama yang beragam, beda daerah beda nama. Ada yang menyebut wedang tahu, kembang tahu atau bunga tahu. Sedangkan di Solo, sejak puluhan tahun silam bernama tahok.

Berbeda nama namun sebenarnya sama, sebuah kuliner ringan berbahan dasar utama kedelai. Melalui proses pemasakan dan dipadu kuah jahe, menjadikan sebuah semacam bubur sumsum nan lembut menghangatkan.

Sekilas tahok memang seperti bubur sumsum. Apalagi saat dihidangkan di mangkuk, terlihat irisan-irisan kembang tahu berwarna putih dengan kuah jahe berwarna coklat. Sangat nikmat jika tahok disajikan dengan kuah yang sangat panas. Kian menghangatkan tubuh, apalagi disantap di musim hujan seperti saat ini.

Tahok terbuat dari bahan baku kedelai, sekilas seperti bubur sumsum namun rasanya jauh berbeda. Foto: yds

Pembuatan tahok ini memang terbilang rumit karena dilakukan semua secara alami, dan hampir sama dengan pembuatan susu kedelai. Kedelai dibersihkan dan dipisahkan dari kulitnya setelah sebelumnya direndam. Selanjutnya digiling dan disaring untuk diambil sari patinya atau kembang tahu. Agar sedikit lebih kenyal, sari kedelai ditambahi tepung hongkwe.

Untuk kuahnya, berbahan utama jahe. Direbus dengan campuran sejumlah rempah-rempah. Kuah ini berfungsi pula sebagai penghilang rasa wengur atau aroma menyengat dari kedelai.

Di Kota Solo era tahun 90-an banyak penjual tahok yang keliling dari kampung ke kampung. Para penjual menjajakan tahok dengan dipikul, dan membawa perangkat khas seperti dandang kotak, lodhong berisi jahe serta penciduk tahok berbentuk oval.

Namun kini kuliner legendaris ini sudah menjelang punah. Tercatat tinggal dua penjual di Solo, itupun sudah tidak berkeliling. Keduanya yakni Tahok Pak Wagiman di kawasan Kretek Gantung dan Tahok Pak Citro di Pasar Gede Solo.

Tahok Pak Wagiman kini buka mulai pukul 06.00 dan biasanya habis di sore hari. Khusus hari Minggu, pembeli harus datang pagi-pagi, karena jam 10.00 sudah habis.

Tahok menjadi salah satu kuliner yang menghangatkan, karena ada kuah jahenya. Foto: yds

Pak Wagiman dulunya juga penjual tahok keliling, dan sudah dilakoninya sejak tahun 1972. KIni Pak Wagiman berjualan menetap di poko utara Kretek Gantung, Jalan Kapten Mulyadi, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres.

Dengan usianya yang sudah 84 tahun dan kondisi kesehatan, Pak Wagiman kini sering digantikan anak tertuanya Parjan, untuk berjualan. Menurut Parjan, selain menggantikan berjualan dia juga harus menjalankan proses pembuatan tahok.

Diakuinya, untuk membuat tahok sangat sulit dan rumit serta butuh kesabaran. “Untuk buka jualan jam 06.00, saya sudah harus mulai masak pukul 01.00 WIB,” kata pensiunan PNS di Bekonang Sukoharjo ini.

Sulitnya membuat tahok, tambah Parjan, mungkin itu salah satu faktor kenapa jarang anak yang mau melanjutkan berjualan. Parjan sendiri juga baru membantu membuat serta berjualan tahok beberapa bulan terakhir, setelah dirinya pensiun dari PNS.

Diakui Parjan, tahok sebenarnya kuliner di Solo yang terbilang banyak diminati masyarakat. Banyak pembeli yang menjadikan tahok sebagai kuliner klangenan. “Banyak kok pelanggan bapak saya, yang datang dari jauh-jauh, atau dari kampung yang dulu sering dikelilingi bapak,” kata Parjan. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here