Sekolah di Demak Mulai Simulasi Blanded Learning

Setiap siswa-siswi SD Negeri 5 Bintoro yang baru datang, diwajibkan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir di tempat disediakan pihak sekolah, sehubungan pelaksanaan simulasi blanded learning. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – SMP, SD, TK dan PAUD di Kabupaten Demak kembali melaksanakan simulasi pembelajaran blanded learning, Kamis (19/8/2021). Blanded learning merupakan metode belajar dengan proses belajar tatap kelas berpadu dengan proses e-learning atau pembelajaran campuran.

Di Kabupaten Demak sekolah dengan standar protokol kesehatan (ketat) itu diujicobakan pada 19-23 Agustus, seiring menurunnya status Kabupaten Demak pada level 2 terkait penanganan COVID-19.

Di antaranya terlihat di SD Negeri Bintoro 5 Demak. Sehari sebelum pembelajaran dilaksanakan, penyemprotan disinfektan dilaksanakan di setiap sekolah. Begitu pun saat masuk gerbang sekolah, siswa-siswi yang datang bermasker satu per satu mencuci tangan dengan sabun pada tempat yang sudah disediakan pihak sekolah.

Kepala SD Negeri Bintoro 5 Demak, Kingkin Purwoko mengatakan simulasi blanded learning diselenggarakan mendasar pada SE dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 420/4174. “Selain membatasi kehadiran siswa yakni 50 persen dari jumlah keseluruhan, jam pelajaran pun hanya empat jam masing-masing 30 menit,” terangnya.

Sementara 50 persen hadir di sekolah, 50 persen sisanya belajar secara daring di rumah. Begitu pula hari berikutnya, murid-murid yang sebelumnya daring, mendapat giliran masuk sekolah. Sedangkan yang hari pertama hadir, pada hari kedua giliran belajar secara daring di rumah.

Harapannya, dengan kedisiplinan seluruh stake holder sekolah yakni guru, siswa, tenaga kependidikan serta orang tua wali murid mentaati standar protokol kesehatan, level Kabupaten Demak terkait penanganan COVID-19 akan semakin turun. Sehingga pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan secara penuh seperti sebelum adanya wabah corona.

Terpisah Bupati dr Hj Eisti’anah menyampaikan, status Kabupaten Demak yang turun level menjadi 2 memang melegakan hati. Artinya sinergitas segenap elemen dalam pemberantasan COVID-19 berhasil.

“Namun demikian bukan berarti PPKM boleh menjadi kendor, karena naik turunnya level hanya angka. Terlebih vaksinasi di Demak baru 25 persen pada dosis pertama dari target 75 persen untuk dapat mencapai herd imunity,” kata bupati.

Terkait vaksinasi pelajar, saat ini di Demak memang baru sebagian kecil dilaksanakan. Jauh dari diharapkan, sehubungan minimnya ketersediaan vaksin. Meski demikian blended learning dengan segala aturan ketat terkait standar prokes dapat disimulasikan, sebagai persiapan pembelajaran tatap muka ketika kondisi benar-benar memungkinkan.

Di sisi lain, Ketua DPRD Demak H Fahrudin BS berpendapat, vaksinasi kelompok pelajar perlu didorong percepatannya. Sebab menurutnya, percepatan pembelajaran tatap muka sifatnya wajib.

Hal itu mendasar pada evaluasi hasil pembelajaran secara online atau daring selama 1,5 tahun yang dilaksanakan yang tidak maksimal. Sebab tidak semua materi pendidikan bisa disampaikan secara daring.

“Utamanya berkaitan pendidikan budi pekerti, tata krama, juga nasionalisme. Terlebih untuk jenjang kelas kecil seperti di sekolah dasar, yang lebih membutuhkan teladan guru untuk ditiru dibandingkan memahami materi secara ‘text book’,” ujarnya.

Namun demikian, wakil rakyat Dapil Mranggen dan Karangawen itu mendandaskan, disiplin prokes menjadi kewajiban demi keselamatan murid dan guru. Di samping penuntasan vaksinasi pelajar tentunya, seperti pelaksanaan vaksinasi dosis kedua di MTs MA NU Mranggen yang pelaksanaannya berkoordinasi Kodim 0716/Demak. rie-yds