Oleh: Grahanisa Rahmahida, S.ST
Statistisi Ahli Muda BPS Kota Semarang
SEIRING dengan melandainya kasus Covid-19 di Tanah Air, sejumlah sektor mulai menggeliat. Terlebih lagi, jumlah warga yang mendapat vaksinasi Covid-19 terus meningkat. Dengan berkurangnya jumlah kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mulai dikendurkan kendati penerapkan protokol kesehatan tetap menjadi kewajiban. Sektor pariwisata pun mulai menunjukkan kebangkitan.
Pelaku industri perhotelan dan pariwisata pada awal-awal pandemi mengaku mengalami penurunan omzet yang drastis, bahkan bisa mencapai 100%, alias tidak ada pemasukan sama sekali karena harus ditutup. Hal tersebut tentunya menjadi pukulan telak bagi dunia bisnis perhotelan dan pariwisata Indonesia. Dengan dampak yang seperti itu, bahkan para pemilik bisnis terpaksa harus merumahkan karyawannya.
Sebagai salah satu sektor yang terdampak sangat dalam saat pandemi, saat ini sektor pariwisata berupaya keras mencari solusi yang tepat untuk dapat kembali bangkit dari keterpurukan dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Sebelum pandemi terjadi, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian domestik.
Pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat. Sektor pariwisata dinilai memiliki andil cukup besar dalam pendapatan devisa negara, termasuk dalam penciptaan kesempatan kerja. Sejak 2013-2019 setiap tahun kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional terus menanjak.
Pada tahun 2019, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,8%. Nilai tersebut meningkat 0,30 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Tak hanya itu, sektor pariwisata di Indonesia juga telah menjadi andalan devisa negara. Pada tutup buku 2018, sektor ini mampu menyumbang devisa terbesar dengan nilai mencapai lebih dari USD19,2 miliar. Devisa terbesar sektor wisata ini disumbang dari Bali dengan kontribusi mencapai 40%. Disusul Jakarta dengan 30% dan Kepulauan Riau (Kepri) dengan kontribusi 20%.
Perlu diketahui, dari data BPS hingga akhir 2021 kunjungan wisman tercatat hanya mencapai 860 ribu orang atau turun 74 persen dibanding 2020. Menghadapi kenyataan berkurangnya wisatawan asing, maka wisatawan nusantara menjadi harapan sekaligus roda penggerak pariwisata Indonesia di masa pandemi.
Saat ini, kondisi mulai sedikit membaik. Beberapa kegiatan masyarakat yang menggunakan fasilitas perhotelan mulai berjalan lagi, seperti acara pernikahan ataupun seremonial tertentu yang diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat tentunya.
Pemerintah sudah mengupayakan beberapa komitmen yang bermaksud untuk mendukung bangkitnya sektor pariwisata, antara lain program perlindungan sosial pekerja pariwisata, pemberian stimulus ekonomi bagi pelaku usaha di sektor ini, dan relokasi anggaran di Kementerian Pariwisata.
Di bidang perhotelan sendiri, pemerintah memberikan dukungan berupa pembiayaan minimum untuk pemeliharaan agar hotel tetap layak beroperasi, penyediaan kredit modal kerja dengan bunga rendah untuk pemeliharaan hotel, dan juga dukungan dari pemerintah daerah.
Untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata, pemerintah juga telah menerbitkan banyak kebijakan yaitu insentif, diskon pajak, hingga memberikan subsidi kepada para pelaku industri pariwisata. Hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan sektor pariwisata dalam negeri, dengan cara mampu beradaptasi dengan aturan yang sudah diterbitkan pemerintah, yaitu taat protokol kesehatan saat sedang melakukan aktivitas.
Salah satu upaya agar tetap membuat wisatawan tertarik di tengah pandemi, yaitu dengan virtual tourism atau wisata virtual yang dapat menjadi salah satu alternatif. Wisata virtual ini menjadi bentuk transformasi dan adaptasi menghadapi pandemi dengan memanfaatkan teknologi, sambil menunggu pemulihan dunia pariwisata yang belum signifikan. Wisata virtual menjadi jawaban sementara untuk calon wisatawan agar tetap tertarik berwisata saat kondisi membaik.
Gagasan wisata virtual saat ini telah mulai dan terus dikembangkan oleh berbagai pihak, seperti Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Pemda, serta masyarakat. Konten yang ada dalam wisata virtual ini pun cukup beragam, mulai dari panorama alam, museum, pagelaran dan pentas seni, budaya adat, hingga suasan kehidupan metropolitan di Indonesia yang tersedia dalam bentuk gambar dan video.
Harapannya keberadaan wisata virtual ini mampu membuat calon wisatawan merasa seperti berada di destinasi yang mereka inginkan. Hal ini sama saja dengan menawarkan pengalaman coba sebelum membeli yang dapat mendorong rasa ingin bepergian.
Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan sektor pariwisata di Indonesia semakin bangkit dan menggeliat seperti saat sebelum pandemi datang. Jatengdaily.com-yds


