Lailatul Qadar dan Kebahagiaan Hakiki

Oleh: Ahmad Rofiq

TEMA renungan atau taushiyah Ramadhan yang menarik di sepuluh hari terakhir adalah lailatul qadar. Mengapa, karena sejak awal kehadiran Ramadhan, sebagai bulan penuh berkah dan pahala dilipatgandakan, karena di dalamnya dijanjikan malam yang kemuliannya melebihi 1000 bulan. Pada malam itu, Malaikat turun ke bumi bersama Jibril untuk menebar kasih sayang dan mengaur segala urusan (qadar atau taqdir baru) bagi hamba-hamba Allah yang berikhtiar menjemput dan mendapatkan kemuliannya (QS. Al-Qadar (97): 3-5.

Tidak ada dalil atau riwayat yang pasti tentang kapan malam lailatul qadar itu. Yang jelas Rasulullah saw menganjurkan supaya umatnya menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Utamanya di malam-malam ganjil. Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa lailatul qadar hadir pada malam 27 Ramadhan. Sebagaimana perintah Rasulullah saw kepada ‘Sayyidati ‘Aisyah ra: “Taharrau lailata l-qadri fii al-‘asyri l-awakhir min Ramadhan” artinya “Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah ra.).

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata: “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa: “Rasulullah saw bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya” (Riwayat Muslim).

Masih dalam Riwayat dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau” (Muttafaqun ‘alaih). Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan: “Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27” (Riwayat Muslim).

Dalam kitab I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan. (1). Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29; (2). Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21; (3). Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27; (4). Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25; dan (5). Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.

Jika hasil renungan dan pendapat Al-Ghazali yang digunakan, karena 1 Ramadhan 1442 H adalah hari Selasa (13/4/2021), maka kemungkinan lailatul qadar akan jatuh dan kemuliaan itu diturunkan pada malam 27 Ramadhan. Tentu pendapat Al-Ghazali bisa benar bisa salah, karena tidak ada yang bisa memastikannya. Karena itulah, manusia pun harus ‘berburu’ malam Lailatul Qadar. Rasulullah juga “berburu” malam Lailatul Qadar. Caranya dengan meneladani Rasulullah saw untuk beriktikaf, bermunajat, dan menghidupkan sisa-sisa malam Ramadhan sampai dengan akhir.

Jika kita hanya berburu di malam 27 Ramadhan saja, boleh jadi Anda akan mendapatkannya, akan tetapi kemungkinan melesetnya juga bisa terjadi, karena itu hak “prerogatif” Allah, akan tetapi jika kita selalu berjaga dan menghidupkan malam-malam di sepuluh hari terakhir, maka kita dapat “memastikan” untuk mendapatkan kemuliaan dan keberkahan malam Lailatul Qadar itu, yang lebih baik dan mulia dari 1.000 bulan setara dengan 83,33 tahun. Insyaa Allah itu akan melahirkan kebahagiaan hakiki, dan itu butuh “kesadaran batin dan hati yang tinggi” untuk mampu merasakannya.  Sementara, kita tidak tahu pasti, apakah umur kita akan sampai 83,33 tahun atau tidak. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui.

Semoga “radar” dan “sinyal” kesadaran keimanan kita, mampu menangkap dan merasakan kebahagiaan hakiki itu, meskipun mungkin hanya beberapa saat. Hanya fadhal dan kemurahan Allah saja yang akan membukakan mata hati dan batin kita. Insyaa Allah.  Hadana Allah wa ittakum ajma’in. Allahumma Innaka ‘Afuwwun Kariim, tuhubbu l-‘Afwa fa ‘fu ‘anna 3x ya karim.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Alumnus Madrasah TBS Kudus, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com–st