MALANG (Jatengdaily.com)- Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengatakan, sedikitnya 127 orang meninggal dunia dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang. Korban meinggal dunia rata-rata adalah terdiri dari suporter Arema FC dan anggota polisi.
Kapolda jatim mengatakan, jika korban yang meninggal dunia di dalam stadion Kanjuruhan Malang tercatat sebanyak 34 orang. Sementara korban yang lain meninggal di rumah sakit pada saat proses pertolongan.
Kericuhan sendiri bermula saat para suporter menyerbu lapangan usai timnya kalah melawan Persebaya. Kerusuhan tersebut bermula saat ribuan suporter Aremania merangsek masuk ke area lapangan setelah Arema FC kalah. Diketahui dalam laga itu, Arema FC kalah dengan skor 3-2 atas Persebaya.
Pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan dan Stadion Kanjuruhan menggunakan empat mobil Polri dan barracuda. Sedangkan beberapa pemain Arema FC yang masih di lapangan lantas diserbu suporter.
Kondisi ini membuat polisi menembakkan gas air mata. Gas air mata juga ditembakkan ke arah tribun yang berujung membuat para suporter panik, berlarian, dan terinjak-injak.
Terpisah Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Irjen Pol (Purn) Erwin Tobing sangat menyesalkan kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, yang kemudian merembet di area di sekitar stadion.
”Seperti diketahui laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) yang berakhir 2-3 akhirnya berakhir ricuh. Ribuan Aremania mengamuk di dalam dan di luar stadion karena tim kesayangan mereka takluk dari Persebaya. Setelah mendapat laporan dari PT Liga Indonesia Baru, kami segera menyidangkan kasus ini. Arema bisa jadi dalam sisa pertandingan kompetisi BRI Liga 1 musim ini tidak diperkenankan menjadi tuan rumah. Selain itu sanksi lainnya juga menanti,’’ kata Erwin dikutip dari laman pssi. she
0



