By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Ustadz Das’at Latif: Memahami Ajaran Islam Tak Boleh Setengah-setengah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Ustadz Das’at Latif: Memahami Ajaran Islam Tak Boleh Setengah-setengah

Last updated: 26 April 2022 20:01 20:01
Jatengdaily.com
Published: 26 April 2022 20:01
Share
Ustadz Das'at Latif memberi tausiyah di MAJT. Pengajian akbar yang digelar ba'da shalat Subuh tersebut merupakan rangkaian kegiatan Ramadan, sekaligus memperingati Nuzulul Quran. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) menghadirkan penceramah nasional asal Makassar Ustadz Das’at Latif. Pengajian akbar yang digelar ba’da shalat Subuh tersebut merupakan rangkaian kegiatan Ramadan, sekaligus memperingati Nuzulul Quran.

Ustadz Das’at Latif mengatakan, ada tiga pedoman ajaran mendasar yang harus dilaksanakan umat untuk menuju akhlaq yang mulia. Ketiga pedoman itu sekaligus sebagai metode introspeksi diri ketika umat berkiprah di ranah budaya, sosial maupun dalam berpolitik praktis.

“Yang pertama adalah melaksanakan perintah Allah untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Secara menyeluruh. Tidak boleh secuil atau setengah-setengah,” kata Ustadz Das’at Latif ketika memberi tausiyah ba’da subuh di Masjid Agung Jawa Tengah, Selasa (26/4/2022).

Islam, lanjutnya, telah mengajarkan kepada umat untuk memahami Alquran dengan baik dan benar. Kalau memahaminya dengan baik dan benar, pasti apa yang dilakukan, tepat sasaran. Pemimpin ya melaksanakan kepemimpinannya dengan amanah. Masyarakat ya melaksanakan ketentuan perundang-undangan dengan benar. Prosesnya pun tidak menggunakan cara-cara yang salah seperti money politic, dan sebagainya. Sebab kalau prosesnya sudah ‘wani piro’, otomatis langkah berikutnya serba transaksional, untung rugi.

“Nah kalau sudah begini, hancurlah negara. Sebab rusaknya negara karena dipicu adanya money politic, suap menyuap ataupun transaksi ‘wani piro’. Apa pun kebijakan yang akan diundangkan, tak lepas dari akal jahat seberapa besar keuntungan materi yang didapatkan. Rusak lah negara ini. Ini tidak akan terjadi jika masyarakat benar-benar memahami, mendalami dan melaksanakan Islam secara kaffah,” tandasnya.

Ustadz Das’at Latif menjelaskan informasi kalau diulang-ulang, itu pasti mengandung nilai yang sangat penting. Begitu juga dalam Alquran pesan kepada umat untuk tidak mati kecuali dalam keadaan Islam, disebutkan berkali-kali. Ini, jelasnya, umat Islam harus selalu menunaikan ajaran Islam di mana dan kapan pun karena mati tidak tahu kapan akan terjadi. Dokter mati. Guru mati, pejabat mati. Ustadz juga mati. Pokoknya semua yang bernyawa pasti mati.

Kedua, lanjutnya, sholat itu dapat mencegah kemunkaran. Itu memang betul apalagi itu janji Allah. Lalu muncul pertanyaan kenapa sudah sholat kok masih saja berbuat jahat. Berbuat yang melanggar norma-norma kesusilaan.

“Sudah melaksanakan sholat. Bahkan bukan hanya sholat wajib. Tapi juga sholat sunnah, termasuk taraweh. Tapi kok ya masih saja berbuat maksiat. Masih saja suka menyakiti perasaan orang. Berpendidikan tinggi tapi adabnya tidak karuan, lupa kalau puncaknya ilmu adalah adab. Masih saja korupsi. Pacaran dengan istri orang. Nah, itu pasti ada yang salah dengan sholatnya,” tandasnya.

Kemudian, yang ketiga zakat. Seberapa susah dan sulitnya umat dalam mengais rezeki, dan seberapa mudah serta menumpuknya harta kekayaannya, tetap saja ada hak yang harus diberikan kepada orang lain. Termasuk kepada fakir miskin, ibnu sabil ataupun kepada janda-janda tua. Sebab kalau yang masih muda masih berpotensi untuk mencari penghasilan ataupun kawin lagi.

KH Hanief Ismail mewakili Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah menjelaskan kegiatan kuliah ba’da subuh oleh Ustadz Das’at Latief, adalah sebagai rangkaian kegiatan Ramadan 1443 hijriyah. Kyai Hanief berharap agar kegiatan ini bisa semakin membukakan hati agar lebih jernih dalam melihat semua permasalahan.

“Kami berharap kehadiran Ustadz Das’at Latief bisa menjadikan kita semua semakin mencintai NKRI sehingga negara selalu dalam keadaan aman dan nyaman. Menempatkan ummat Islam yang wasathoniyah, berada di tengah-tengah, karena tempat itulah tempat yang paling baik sebagaimana disabdakan nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallim,” jelasnya.st

You Might Also Like

Selamatkan 5.000 Santri Ponpes Al Zaytun, Kemenag Siapkan Mitigasi
ITB Semarang Beri Peluang Mahasiswa Baru lewat Jalur KIP Kuliah
THR Harus Dibayar Tepat Waktu dan Tak Boleh Dicicil
Pemkot Kucurkan Dana Pilwakot Rp 84 Miliar
Rekrutmen P3K, DPRD Demak Pastikan Tak Ada Pungutan
TAGGED:Peringati Nuzulul QuranTausiyah di MAJTUstadz Das'at Latif: Memahami Ajaran Islam Tak Boleh Setengah-setengah
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?