in

Memilih Tidak Populer, Gus Men Lindungi Hak Nilai Manfaat Seluruh Jemaah Haji

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas

JAKARTA (Jatengdaily.com) – Pemerintah ajukan skema yang lebih berkeadilan dalam Biaya Penyelenggaran Ibadah Haji (BPIH) 1444 H/2023 M. Komposisi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang ditanggung jemaah dan penggunaan nilai manfaat (NM) dihitung secara lebih proporsional. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar nilai manfaat yang menjadi hak seluruh jemaah haji Indonesia, termasuk yang masih mengantri keberangkatan, tidak tergerus habis.

Pemanfaatan dana nilai manfaat sejak 2010 sampai dengan 2022 terus mengalami peningkatan. Bermula dari hanya 13% dari total Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) pada tahun 2010, penggunaan nilai manfaat terus naik hingga 49% pada 2019. Karena Arab Saudi menaikkan layanan biaya masyair secara signifikan jelang dimulainya operasional haji 2022 (jemaah sudah melakukan pelunasan), penggunaan dan nilai manfaat naik hingga 59%.

Berikut perkembangan BPIH 2010 – 2022: (sumber data: Paparan BPKH pada Media Briefing, 19 Januari 2023)

Tahun 2010: Nilai Manfaat 4,45 juta (13%) : Bipih 30,05 juta (87%) = 34,50 juta
Tahun 2011: Nilai Manfaat 7,31 juta (19%) : Bipih 32,04 juta (81%) = 39,34 juta
Tahun 2012: Nilai Manfaat 8,77 juta (19%) : Bipih 37,16 juta (81%)= 45,93 juta
Tahun 2013: Nilai Manfaat 14,11 juta (25%) : Bipih 43 juta (75%)= 57,11 juta
Tahun 2014: Nilai Manfaat 19,24 juta (32%) : Bipih 40,03 juta (68%) = 59,27 juta
Tahun 2015: Nilai Manfaat 24,07 juta (39%) : Bipih 37,49 juta (61%) = 61,56 juta
Tahun 2016: Nilai Manfaat 25,40 juta (42%) : Bipih 34,60 juta (58%) = 60 juta
Tahun 2017: Nilai Manfaat 26,90 juta (44%) : Bipih 34,89 juta (56%) = 61,79 juta
Tahun 2018: Nilai Manfaat 33,72 juta (49%) : Bipih 35,24 juta (51%) = 68,96 juta
Tahun 2019: Nilai Manfaat 33,92 juta (49%) : Bipih 35,24 juta (51%) = 69,16 juta
Tahun 2022: Nilai Manfaat 57,91 juta (59%) : Bipih 39,89 juta (41%) = 97,79 juta
Tahun 2023: Nilai Manfaat 29,70 juta (30%) : Bipih 69,19 juta (70%) = 98,89 juta (usulan)

Pada tahun 2010, nilai manfaat dari hasil pengelolaan dana setoran awal yang diberikan hanya Rp4,45 juta. Sementara Bipih yang harus dibayar jemaah sebesar Rp30,05 juta. Komposisi nilai manfaat hanya 13%, sementara Bipih 87%.

Dalam perkembangan selanjutnya, komposisi nilai manfaat terus membesar menjadi 19% (2011 dan 2012), 25% (2013), 32% (2014), 39% (2015), 42% (2016), 44% (2017), 49% (2018 dan 2019), serta 59% pada 2022. Kondisi ini sudah tidak normal dan harus disikapi dengan bijak.

Nilai manfaat bersumber dari hasil pengelolaan dana haji yang dilakukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Karenanya, nilai manfaat adalah hak seluruh jemaah haji Indonesia, termasuk lebih dari 5 juta yang masih menunggu antrean berangkat.

Mulai sekarang dan seterusnya, nilai manfaat harus digunakan secara berkeadilan guna menjaga keberlanjutan. Apalagi, kinerja BPKH juga masih belum optimal sehingga belum dapat menghasilkan nilai manfaat ideal.

Jika pengelolaan BPKH tidak kunjung optimal serta komposisi Bipih dan NM masih tidak proporsional, maka niilai manfaat akan terus tergerus dan tidak menutup kemungkinan akan habis pada 2027.

Jika komposisi Bipih (41%) dan NM (59%), dipertahankan, diperkirakan nilai manfaat habis pada 2027 sehingga jemaah 2028 harus bayar full 100%. Padahal mereka juga berhak atas nilai manfaat simpanan setoran awalnya yang sudah lebih 10 tahun.

Untuk itulah, Pemerintah dalam usulan yang disampaikan Gus Men saat Raker bersama Komisi VIII DPR, mengubah skema menjadi Bipih (70%) dan NM (30%). Mungkin usulan ini tidak populer, tapi Gus Men lakukan demi melindungi hak nilai manfaat seluruh jemaah haji sekaligus menjaga keberlanjutannya.

”Ini usulan pemerintah untuk dibahas bersama Komisi VIII DPR. Kita tunggu kesepakatannya, semoga menghasilkan komposisi paling ideal! Amin,” ujar Gus Menteri. St

Written by Jatengdaily.com

Tanggul Laut 10,64 Km di Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 Antispasi Banjir Rob di Kabupaten Demak

Untag Lakukan Visiting Professors di Universiti Kebangsaan Malaysia