Menggugah Kesadaran: Refleksi Akhir Tahun tentang Pelecehan Verbal dalam Kehidupan

7 Min Read

Oleh Nia Samsihono

SEIRING  kita memasuki akhir tahun, adalah saat yang tepat untuk merenung tentang berbagai aspek kehidupan kita selama setahun ini. Salah satu aspek yang seringkali terlupakan, namun memiliki dampak yang cukup besar, adalah pelecehan verbal. Pelecehan ini tidak hanya mencakup tindakan verbal yang kasar, tetapi juga mencakup komentar merendahkan, cemoohan, atau bahkan ucapan-ucapan yang tampak sepele namun dapat menyakiti perasaan orang lain.

Pelecehan verbal dapat terjadi di berbagai lapisan kehidupan, baik di rumah, di tempat kerja, maupun dalam lingkungan sosial. Mungkin kita sering kali tidak menyadari dampaknya, namun kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk persepsi dan merusak hubungan. Oleh karena itu, refleksi akhir tahun ini mengajak kita untuk memeriksa perilaku kita sendiri dan sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap dampak pelecehan verbal dalam kehidupan sehari-hari.

Tindakan pelecehan verbal merupakan tindak kejahatan. Dalam era globalisasi dan teknologi informasi yang semakin maju, kehidupan manusia tak bisa lepas dari interaksi verbal. Namun, di balik kata-kata yang diucapkan, terkadang terselip kejahatan verbal yang bisa merusak kehidupan sosial dan psikologis seseorang. Kejahatan verbal bukanlah hal baru, namun pergeseran kehidupan ke ranah digital telah membawa dampak signifikan terhadap bentuk dan intensitas kejahatan verbal.

Kejahatan verbal merujuk pada tindakan menggunakan kata-kata atau bahasa untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain. Bentuknya bisa beragam, mulai dari pelecehan verbal, penghinaan, ancaman, hingga penyebaran berita palsu atau fitnah. Kejahatan verbal dapat terjadi di berbagai lapisan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Dampak kejahatan verbal dari sisi psikologis dapat menyebabkan trauma psikologis pada korban. Kata-kata yang menyakitkan dapat merusak rasa percaya diri, meningkatkan tingkat stres, dan bahkan memicu depresi atau kecemasan. Sedangkan dampak sosial kejahatan verbal bisa merusak hubungan sosial seseorang.

Ketika kata-kata kasar atau menghina diucapkan di depan umum atau di media sosial, reputasi seseorang dapat hancur dalam sekejap. Masih terdapat juga dampak profesional di lingkungan kerja, yaitu kejahatan verbal dapat mengganggu produktivitas dan kesejahteraan mental karyawan. Pelecehan verbal di tempat kerja dapat menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan merugikan bagi semua pihak yang terlibat.

Kejahatan Verbal di Era Digital dan di Kehidupan Rumah Tangga

Platform media sosial menjadi tempat yang subur bagi kejahatan verbal. Komentar negatif, penghinaan, dan pelecehan mudah tersebar luas dan sulit dihapus, meninggalkan jejak digital yang dapat merusak reputasi seseorang. Anonimitas di dunia maya memberikan keleluasaan bagi pelaku kejahatan verbal untuk beraksi tanpa takut konsekuensi.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami dan menyadari akan dampak kejahatan verbal tersebut bagi individu dan orang-orang di sekitarnya. Tentu saja pemerintah melakukan regulasi yang ketat terkait kejahatan verbal di dunia maya. Hukuman yang tegas dapat menjadi efek jera atau hukuman yang tepat bagi para pelaku kejahatan verbal itu.

Tentu saja masyarakat perlu menyadari sepenuhnya pada etika digital, baik dalam penggunaan media sosial maupun komunikasi daring (online). Penggunaan bahasa yang sopan dan penuh rasa tanggung jawab dapat membantu menciptakan lingkungan daring (online) yang lebih aman.
Selain kejahatan verbal secara digital juga terjadi kejahatan verbal berupa pelecehan verbal di kehidupan rumah tangga. Ini banyak terjadi di keluarga di Indonesia. Intensitas komunikasi pergaulan di kehidupan menciptakan pemikiran individu yang berkembang mengikuti zaman yang berlaku.

Faktor kesetaraan gender, kesenjangan ekonomi antargender, dan pendapatan individu memicu adanya konflik di dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga yang sering dianggap sebagai tempat yang penuh dengan kasih sayang, keamanan, dan dukungan telah berubah. Pelecehan verbal muncul karena adanya perubahan pola budaya di dalam kehidupan.

Meskipun tidak meninggalkan luka fisik yang terlihat, pelecehan verbal dapat merusak kesehatan mental dan emosional seseorang dalam jangka panjang. Pelecehan verbal di rumah tangga bisa berupa cercaan, hinaan, ancaman, atau bahkan pengabaian. Itu dapat menyebabkan stres, depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Korban mungkin mengalami rendah diri dan kesulitan untuk menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Perilaku pelecehan verbal seringkali merupakan bentuk dominasi dan kontrol. Pelaku cenderung menggunakan kata-kata untuk menegakkan kekuasaan mereka dan merendahkan pasangan hidup mereka. Ini menjadi penyebab utama pecahnya hubungan.
Pentingnya Kesadaran Diri

Refleksi akhir tahun adalah saat yang tepat untuk mengintrospeksi diri dan menilai sejauh mana kita dapat menjaga kata-kata kita. Terkadang, dalam momen kegelisahan atau frustrasi, kita mungkin cenderung meluapkan emosi dengan kata-kata kasar atau merendahkan.

Kesadaran diri menjadi kunci utama untuk mengatasi kecenderungan ini. Mempertanyakan niat di balik setiap ucapan dan memahami dampaknya dapat membantu kita menjadi lebih bijaksana dalam berbicara.

Mengubah Paradigma Komunikasi

Mengakhiri tahun dengan tekad untuk mengubah paradigma komunikasi kita adalah langkah positif. Alih-alih menggunakan kata-kata yang merendahkan, kita dapat memilih untuk berkomunikasi secara konstruktif. Memberikan umpan balik dengan cara yang membangun, menyampaikan kritik dengan penuh hormat, dan menghindari ucapan-ucapan yang bisa disalahartikan dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif.

Refleksi akhir tahun juga merupakan momen untuk membuat komitmen terhadap perubahan. Kita dapat menetapkan tujuan pribadi untuk menjadi lebih bijaksana dalam berbicara, mengendalikan emosi, dan mendukung orang-orang di sekitar kita. Selain itu, penting untuk mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang dampak pelecehan verbal serta mempromosikan budaya komunikasi yang positif.

Kebaikan dimulai dari dalam diri kita sendiri. Dengan meningkatkan kesadaran diri terhadap bahaya pelecehan verbal, kita dapat menciptakan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari. Semoga tahun mendatang menjadi kesempatan bagi kita semua untuk tumbuh sebagai individu yang lebih baik dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi semua orang.

*Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta. Jatengdaily.com-st

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.