By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Pengaturan Ruang Kota Perlu Memperhatikan Ekosistem Wilayah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Pengaturan Ruang Kota Perlu Memperhatikan Ekosistem Wilayah

Last updated: 12 Januari 2023 07:49 07:49
Jatengdaily.com
Published: 12 Januari 2023 06:32
Share
SHARE

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

Orang-orang Belanda memberi gelar Kota Semarang sebagai “Venesia dari timur” karena keindahan panorama yang dimilikinya dan keunikan geologinya yang jarang dimiliki kota lain, yaitu memiliki wilayah perbukitan (kota atas) dan lembah/daratan kota bawah yang berbatasan langsung dengan wilayah laut (pantai).

Namun tampaknya gelar karena keindahan panorama dan keunikan geologi yang dimiliki Kota Semarang tersebut lambat laun akan memudar, sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan perumahan dan permukiman pada kawasan Semarang bagian atas, wilayah perbukitan (kawasan “konservasi” atau “catchment area”) yang merupakan kawasan penyimpanan/sumber air bagi Kota Semarang.

Pemanfaatan ruang Semarang bagian atas untuk aktivitas permukiman, merupakan proses alih fungsi (konversi) dari lahan pertanian menjadi non pertanian yang kurang terkendali. Menurut data Dinas Kehutanan Jawa Tengah, ditunjukkan bahwa Kota Semarang memiliki lahan kategori kritis seluas 14.923 hektare, kemudian lahan yang masuk kategori lahan berpotensi kritis seluas 29.709 hektare, dan 10.612 hektare agak kritis.

Lahan-lahan kritis tersebut sebagian besar terletak di kawasan Semarang bagian atas. Lahan kritis tersebut dengan kemiringan lebih dari 45%. Dengan adanya konversi tersebut tentunya membawa konsekuensi dan berpengaruh/berdampak negatif terhadap lembah/daratan kota Semarang bawah sampai pada wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah laut (pantai).

Ilustrasi Tata Ruang

Pemanfaatan ruang Semarang bagian atas untuk aktivitas permukiman yang kurang/tidak terkendali, maka berkait erat dengan terjadi kerusakan wilayah dalam bentuk meningkatnya limpasan (run off) air yang mengakibatkan erosi, sedimentasi, pendangkalan pada sungai, saluran, embung dan pinggiran laut serta terjadinya tanah longsor pada daerah-daerah kritis jika musim hujan.

Tidak berfungsinya wilayah aliran sungai dengan baik, pada gilirannya kondisi lingkungan Kota Semarang bagian bawah mengalami degradasi lingkungan yang cukup memprihatinkan, seperti longsor, banjir, sedimentasi, abrasi, akresi, instrusi air dan rob serta membawa effect terhadap rusaknya kawasan-kawasan perumahan dan permukiman masyarakat. Artinya bahwa ancaman tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu tidak hanya terjadi di daerah hulu tetapi juga menghantui kawasan hilir.

Realita menunjukkan terjadinya longsor yang pada wilayah yang bertanah labil, seperti di Gumpilsari Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik. Kemudian sejumlah wilayah yang rawan longsor lainnya seperti longsor jalan tumpang (sampangan) serta peristiwa longsor yang berkaitan dengan adanya penambangan liar galian C.

Permasalahan lain di Semarang bagian bawah yaitu terjadinya banjir di Banjirkanal Timur, Muktiharjo Lor, Tanjung Mas, Semarang Utara dan Kaligawe yang merupakan area langganan banjir.

Curah hujan yang mengguyur Kota Semarang, akumulasi curah hujan yang tinggi dalam waktu yang relatif singkat saja, berdampak pada meningkatnya intensitas banjir. Apalagi curah hujan berlangsung beberapa hari berturut–turut, tentu yang terjadi meningkatnya intensitas banjir, meluasnya area banjir dan tingginya genangan. Tanggul laut di Pantai Marina Semarang jebol di 7 Titik.

Jebolnya tanggul tersebut membuat beberapa jalan menuju ke pantai terendam banjir dengan ketinggian lutut orang dewasa atau sekitar 80 cm. Air banjir masuk ke perumahan warga, juga menggenangi sejumlah jalan dan bangunan lainnya. Permasalahan banjir tampaknya tidak dialami di bagian Semarang bawah saja, namun Semarang bagian ataspun, di perumahan dinar indah Meteseh sudah beberapa kali terendam banjir. Banjir terjadi karena salah satu tanggul  jebol.

Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait permasalahan yang terjadi di Kota Semarang. Pertama, berkaitan dengan adanya tanggul yang jebol di beberapa tempat, maka kualitas pembangunan tanggul dipertanyakan, apakah perencanaannya (detail engineering design) kurang baik? Ataukah dalam pelaksanaan pembangunan tanggulnya yang tidak sesuai dengan DED? Atau ada hal-hal lain dalam pembangunan yang menyebabkan kualitas tanggul menjadi rendah?.

Kedua, berbagai bencana yang terjadi, sebagai akibat dalam implementasi pembangunan Semarang bagian atas, terdapat pemanfaatan ruang yang kurang/tidak memperhatikan dan mempertimbangkan tatanan geografi dan geologi (land dan soil) secara serius, matang dan menyeluruh. Pada gilirannya, Semarang bagian bawah banjir, sedimentasi, abrasi, akresi, instrusi air dan rob.

Tentu hal ini membawa effect terhadap rusaknya kawasan perumahan dan permukiman dan terganggunya aktivitas masyarakat. Artinya bahwa aktivitas manusia dengan membuat perubahan pada suatu wilayah, tanpa disadari telah merubah tatanan siklus hidrologi, pada gilirannya berdampak terhadap tatanan fungsi ekologi secara berkelanjutan. Sebenarnya arahan kawasan untuk pengembangan perumahan dan permukiman di Kota Semarang, secara kronologis telah ditetapkan dan tertuang pada Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 – 2031.

Ketiga, Jika benar pembangunan menyimpang dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah disepakati, kemudian muncul suatu permasalahan, maka hal itu memperlihatkan adanya suatu mekanisme dan proses yang tidak beres dalam pembangunan. Sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah rencana tata ruang susah untuk diterapkan ? ataukah memang aturan dibuat untuk tidak ditaati dan diselewengkan ?

Keempat, Jika suatu wilayah seperti bentuk wilayah (topografi), tanah dan vegetasi dimanfaatkan menjadi bangunan (tutupan lahan) tanpa memperhatikan siklus hidrologi, maka pemanfaatan lahan tersebut akan berdampak pada terganggunya ekosistem dan sistem hidrologis pada wilayah tersebut. Terganggunya ekosistem dan sistem hidrologis dapat berupa: berubahnya penangkapan curah hujan (catchment area), area resapan dan penyimpanan air menjadi sangat berkurang atau bahkan melimpah pada musim hujan.

Selain itu juga akan merubah bekerjanya fungsi wilayah aliran sungai, tidak sebagaimana mestinya. Wilayah aliran sungai (catchment area) gagal menjalankan fungsinya sebagai penampung air hujan yang jatuh dari langit, penyimpanan, dan pendistribusian air tersebut ke saluran, sungai maupun kanal. Yang terjadi berikutnya adalah banjir.

Oleh karenanya, secara ekologis Kota Semarang bagian atas perlu direhabilitasi khususnya pada lahan kritis dan wilayah konservasi, perlu adanya program penghijauan, seperti ditanami dengan tanaman keras seperti kayu-kayuan (jati, mahoni dan lainnya). Jenis-jenis tanaman lain yang dapat dijadikan tanaman penghijauan dan dapat mendatangkan manfaat ekonomi untuk masyarakat antara lain seperti jenis petai, tanaman buah-buahan seperti mangga, melinjo, sukun, rambutan, dan durian. Disamping itu juga diperlukan adanya program-program yang berkaitan dengan pengaturan ruang kota dengan memperhatikan ekosistem wilayah secara berkelanjutan.

Mestinya kita mulai sadar sesuai dengan bidang dan keahlian kita masing-masing, untuk melestarikan lingkungan, taat pada aturan yang sudah dibuat, untuk mencegah dan menghindari permasalahan yang akan dan dapat terjadi di kelak kemudian hari.

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T., Dosen Planologi FT UNISSULA, Anggota Dewan Pakar PKS Kota Semarang dan Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st

You Might Also Like

Jejak Pendidikan 78 Tahun Indonesia Merdeka
MUI: Shadiqul Ummah untuk Jateng Sehat dan Produktif
Persentase Penduduk Miskin di Jateng Naik
Petani Perempuan Sragen
Pengarusutamaan Kebudayaan di Jawa Tengah
TAGGED:ekosistem lingkunganekosistem wilayahpengaturan ruang kotaperlu perhatikan ekosistem
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?