By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Penguatan Moderasi Beragama di Indonesia
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Penguatan Moderasi Beragama di Indonesia

Last updated: 27 Desember 2023 23:03 23:03
Jatengdaily.com
Published: 27 Desember 2023 23:03
Share
SHARE

Oleh:Arnis Rachmadhani, Lilam Kadarin Nuriyanto, Rosidin

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

Sutrisno (2020) mengutip pendapat Max Weber, bahwa studi tentang tindakan sosial melibatkan pencarian pengertian subyektif atau motivasi di balik tindakan-tindakan tersebut.

Pemahaman mengenai pranata sosial harus memperhatikan tindakan manusia sebagai bagian utama dari kehidupan sosial. Weber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis: pertama Rasionalitas Instrumental, yaitu tindakan sosial yang didasarkan pada pemilihan rasional terkait tujuan dan alat yang digunakan untuk mencapainya.

Individu membuat pilihan berdasarkan kriteria dan mengevaluasi alat yang sesuai. Kedua, Rasionalitas Berorientasi Nilai, yaitu tindakan sosial yang hampir serupa dengan rasional instrumental, tetapi didasarkan pada nilai-nilai sebagai landasan.

Perbedaan nilai antar individu memengaruhi pemahaman dan makna tindakan. Ketiga, Tindakan Afektif, yaitu tindakan sosial yang dipengaruhi emosi, bersifat spontan, dan ekspresif tanpa refleksi intelektual.

Ekspresi emosional individu muncul secara alami. Keempat, Tindakan Tradisional, yaitu tindakan sosial yang dilakukan berdasarkan tradisi atau kebiasaan turun temurun tanpa perencanaan sadar.

Weber menekankan bahwa tindakan sosial mempertimbangkan perilaku orang lain.

Di dalam konteks ke-Indonesia-an, Jannah (2023) mengungkapkan istilah kerukunan seringkali sinonim dengan harmoni atau toleransi dan digunakan sebagai pedoman etika dalam berinteraksi.

Suatu keadaan atau kerangka sosial dikatakan rukun, menurut pandangan Niels Mulder, jika berada dalam kondisi seimbang, tenang, dan aman, tanpa ada perselisihan atau konflik, dan bersatu dalam tujuan saling bantu-membantu.

Indikator Moderasi Beragama
Lukman Hakim Saifuddin, saat menjadi Menteri Agama, merilis buku “Moderasi Beragama” pada 8 Oktober 2019. Buku ini membahas konsep moderasi beragama, urgensi bagi Indonesia, dan strategi implementasinya.

Perpres No. 18/2020 menetapkan Kementerian Agama sebagai pemimpin implementasi Penguatan Moderasi Beragama, mencirikan program-program Kementerian Agama sesuai Renstra 2020-2024 (KMA No. 18/2020).Terdapat empat indikator dalam keberhasilan moderasi beragama, yaitu;

Komitmen kebangsaan, dalam hal ini dapat diukur dengan tingginya penerimaan umat beragama terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945 dan regulasi di bawahnya, diterjemahkan sebagai ”cinta tanah air”;

Toleransi, dalam hal ini dikukur dengan tingginya sikap menghormatiperbedaan, memberikan ruang orang lain untuk berkeyakinan, untuk mengekspresikan keyakinannya, dan untuk menyampaikan pendapat, serta menghargai kesetaraan dan bersedia bekerja sama.

Kemudian antikekerasan, dalam hal ini dapat diukur dengan tingginya penolakan terhadap tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan; dan Penerimaan terhadap tradisi, dalam hal ini dapat diukur dengan tingginya penerimaan serta ramah terhadap tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamannnya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama (Tim kelompok Kerja Moderasi Beragama, 2020).

Selain itu dalam moderasi beragama terdapat tujuh muatan pesan keagamaan, yaitu:
Menjaga keselamatan jiwa, diaman setiap umat beragama harus berupaya mencegah hal-hal buruk yang dapat mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa manusia;
Menjunjung tinggi keadaban mulia, dimana setiap umat beragama harus menjadikan nilai-nilai moral universal dan pokok ajaran agama sebagaai pandangan hidup (world view) dengan tetap berpijak pada jati diri Indonesia.

Kemudian menghormati harkat dan martabat kemanusiaan, dimana setiap umat beragama harus mengutamakan sikap memanuisakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan atas dasar kesetaraan hak dan kewajiban warga negara demi kemaslahatan bersama.

Selain itu juga memperkuat nilai moderat, dimana setiap umat beragama harus mempromosikan dan mengejawantahkan pengamalan cara pandang, sikap dan praktik keagamaan jalan tengah.

Mewujudkan perdamaian, dimana setiap umat beragama harus menebar kebajikan dan kedamaian, mengatasi konflik dengan prinsip adil dan berimbang serta berpedoman pada konstitusi;
Menghargai kemajemukan, dengan menjaga kebebasan akal, kebebasan berekspresi, dan kebebasan beragama, dimana setiap umat beragama harus menerima keragaman sebagai anugerah , dan karenanya bersikap terbuka terhadap perbedaan;
Menaati komitmen berbangsa, dimana setiap umat beragama harus menjadikan konstitusi sebagai paduan kehidupan umat beragama dalam berbangsa dan bernegara (Tim kelompok Kerja Moderasi Beragama, 2020).

Konsep Max Weber dalam Tindakan Sosial dengan merangkai konsep-konsep Weberian seperti rasionalitas instrumental, rasionalitas berorientasi nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional, kita dapat memahami lebih baik perbedaan dalam tindakan sosial yang mencerminkan komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi dalam konteks keberagamaan.

Adapun konsep Moderasi Beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia yaitu pandangan tentang komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi dalam konteks keberagamaan dapat dianalisis dengan merujuk pada teori tindakan sosial Max Weber, sebagai berikut.

Komitmen kebangsaan dapat dipahami sebagai tindakan sosial yang mencerminkan nilai-nilai subjektif individu terhadap cinta tanah air. Dalam klasifikasi Weber, ini dapat dihubungkan dengan tindakan berorientasi nilai di mana individu mempertimbangkan nilai-nilai (seperti cinta tanah air) sebagai landasan untuk tindakan mereka.

Toleransi dapat diartikan sebagai bentuk tindakan sosial berorientasi nilai, di mana individu mempertimbangkan nilai-nilai seperti menghormati perbedaan, memberikan ruang untuk keyakinan orang lain, dan bekerjasama sebagai landasan tindakan. Prinsip ini mencerminkan sikap dan pandangan hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Sikap anti kekerasan dapat dianalisis sebagai tindakan sosial yang mencerminkan penolakan terhadap cara-cara kekerasan. Ini dapat dihubungkan dengan tindakan afektif, di mana penolakan terhadap kekerasan tercermin dalam respons spontan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan emosi.
Penerimaan terhadap tradisi dalam perilaku keagamaan dapat dipahami sebagai tindakan tradisional.

Individu melakukan tindakan ini tanpa perencanaan sadar, mengikuti kebiasaan dan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Weber menekankan bahwa tindakan sosial mempertimbangkan perilaku orang lain, dan dalam konteks ini, tradisi masyarakat.

Dimana dari kedua unsur yaitu empat indikator keberhasilan moderasi beragama dan konsep Max Weber yang bisa dipetakan sebagai berikut ini:

Indonesia sebagai negara yang memiliki pulau-pulau dengan kebudayaan dan tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke identik dengan persatuan dan kesatuan yang berasal dari suku-suku yang melestarikannya.

Kehadiran konsep Moderasi Beragama yang ditawarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki harapan besar untuk mewujudkan harmonisasi toleransi kerukunan di Negara Kesatuan Republik Indomesia. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Kota Tegal Mengalami Deflasi 0,07 Persen
Pentingnya Pendidikan Entrepreneurship
Kota Tegal Hat Trick Deflasi 
Jika Memarahi Suami Berujung Pidana
Optimasi Model, antara Biaya dan Akurasi
TAGGED:di Indonesiapenguatan moderasi beragama
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?