1.000 Guru Kota Pekalongan Ikut AKGB

4 Min Read
Suasana asesmen di Pekalongan yang diikuti 1000 guru. Foto:dok

PEKALANGAN (Jatengdaily.com) – Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menggandeng Yayasan Guru Belajar (YGB) dan Komunitas Guru Belajar Kota Pekalongan menggelar Asesmen Kompetensi Guru Belajar (AKGB) pada Sabtu, 31 Agustus 2024 hingga Minggu, 1 September 2024, di SMK Negeri 2 dan SMK Negeri 3 Kota Pekalongan. Total ada 1000 guru jenjang PAUD, SD, dan SMP yang mengikuti. Ini berarti, semua guru di Kota Pekalongan di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Pekalongan mengikuti AKGB.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan Zainul Hakim menjelaskan, hasil asesmen akan digunakan sebagai dasar identifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi guru. Dia menyebutkan akan ada pemetaan mengenai kompetensi guru apa saja yang perlu ditingkatkan dan perlu dipertahankan di daerahnya.

“Asesmen seperti ini sangat dibutuhkan oleh kami, untuk mempermudah keputusan langkah apa yang perlu diambil. Hasil tiap guru, tiap kecamatan, pasti berbeda level kompetensinya. Kita analisis potensi dan kebutuhan guru,” lanjut Zainul seraya menambahkan bahwa nanti disusun program-program peningkatan kualitas setelah dipetakan dari asesmen ini.Jadi kita ambil langkah, ambil kebijakan memang ada dasarnya yang jelas, dasarnya data.

Menurut Zainul, kompetensi yang diukur adalah kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian. Empat kompetensi tersebut wajib dimiliki oleh guru berdasar Perdirjen GTK No. 2626 Tahun 2023.

Dengan hasil asesmen dan tindak lanjutnya ini, harapannya pemerataan kompetensi guru di setiap instansi itu bisa terwujud,” tutur Zainul.

Sita, guru SD Kraton Kidul, salah seorang peserta mengatakan, AKGB menjadi sarana dirinya memahami dirinya sendiri. Dia berharap, asesmen ini benar-benar ada tindak lanjutnya.

“Awalnya, kan mengerjakan soal seperti ujian, tapi berulang disampaikan kalau asesmen ini tidak menentukan nasib karier kita sebagai guru kok. Ini bukan uji kompetensi, ujian kenaikan jenjang, dan sebagainya,” jelas Sita.

“Justru pada akhirnya tadi merasa jadi lebih mengenal diri sendiri ketika mengerjakan soal-soal itu. Apalagi yang kepribadian. Harapannya ya ada kelanjutannya setelah ini,” tambahnya.

Marsaria Primadonna, Ketua Kampus Guru Cikal, salah satu unit YGB yang menjadi pelaksana AKGB, menjelaskan, AKGB merupakan asesmen diagnosis sekaligus formatif untuk guru. Sebagai asesmen diagnosis, AKGB dapat menjadi acuan pengembangan diri.

Sedangkan sebagai asesmen formatif, AKGB dapat dijadikan latihan guru atau calon guru mempersiapkan diri sebelum mengikuti berbagai seleksi pengembangan karier dari Kemendikbudristek seperti Uji Kompetensi Guru (UKG), Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
AKGB juga membantu pemerintah daerah memprioritaskan program pengembangan kompetensi guru tertentu.

Banyak pelatihan guru dan banyak guru yang perlu ditingkatkan kompetensinya tapi anggaran terbatas. Dengan AKGB, pemda dapat menentukan prioritas sesuai kebutuhan.

“Semoga semakin banyak sekolah atau pemerintah daerah yang sadar kalau asesmen sebelum menentukan program belajar itu sangat penting. Ya sama seperti kita ke murid, asesmen dulu baru tentukan strateginya. Dengan demikian, apa yang dilakukan akan lebih efektif,” ujarnya.

Yayasan Guru Belajar sendiri merupakan lembaga philanthropic intermediary yang memberdayakan guru menjadi penggerak perubahan melalui kolaborasi beragam organisasi penggerak: keguruan, kepemimpinan, jaringan sekolah/madrasah. Yayasan Guru Belajar bergerak melalui Kampus Guru Cikal, Kampus Pemimpin Merdeka, dan Cerita Guru Belajar, serta berkolaborasi aktif dengan Teach First Indonesia.St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.