Oleh : Nur Khoirin YD
Beberapa hari lai kita akan memasuki bulan Ramadhan. Kehadiran bulan puasa Ramadhan selalu disambut dengan suka cita dan penuh harapan. Semua orang beriman selalu berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan (maghfirah).
Sejak bulan Rajab, di musholla dan di masjid-masjid dikumandangkan doa dan pujian ”Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna ramadhana” (Ya Allah, berkahi bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan). Nabi saw juga bersabda : ”Man fariha bidukhuli ramadhan harramallahu jasadahu ’alan niran” (siapa saja yang gembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka).
Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan juga disebutkan dalam hadits berikut : “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
Salah satu gambaran tentang kemulyaan dan indahnya bulan ramadlan, di antaranya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Salman Al Farisi menceritakan, bahwa Rasulullah saw setiap akhir bulan Sya’ban berkhuthbah : “Wahai para manusia, akan datang bulan agung yang mulia, bulan penuh berkah, di dalam bulan itu ada malam yang mulia lebih utama dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Allah mewajibkan puasa pada bulan ini (ramadlan), dan pada malam harinya disunnahkan melakukan shalat.
Barangsiapa melakukan amal kebajikan pada bulan ini maka pahalanya seperti melakukan ibadah fardlu di bulan lain. Ramadlan adalah bulan (menempa) kesabaran, dan orang yang sabar pahalanya adalah surga. Ramadlan adalah bulan pertolongan, ramadlan adalah bulan bertambahnya rizqi bagi mu’min. ramadlan adalah bulan rahmat, pertengahnnya ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari siksa neraka”.
Puasa populer dan diminati.
Konon banyak orang non muslim yang ikut melaksanakan puasa. Alasannya adalah karena ingin merasakan sensasinya lapar dan dahaga, sensasinya berbuka, dan sensasinya makan sahur. Orang sudah biasa lapar karena telat atau tidak sempat makan, tetapi bisa langsung makan kapan saja, tidak ada yang melarang.
Sedangkan lapar karena puasa, meskipun lemah lunglai tidak bertenaga dan dihadapannya hidangan ada, tetapi ia baru boleh makan ketika maghrib tiba. Orang makan enak juga sudah biasa, tetapi makan berbuka ketika perut sangat lapar, maka nikmatnya luar biasa. Setelah berbuka, badan kembali segar, hati kita merasa senang dan puas, karena ternyata kita mampu berjuang melewati rintangan yang berat tanpa halangan. Keberhasilan yang diperoleh tanpa perjuangan, maka nikmatnya kurang.
Tetapi keberhasilan yang dicapai dengan perjuangan dan air mata, maka nikmatnya membekas. Inilah sensasi puasa yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah yang lain, seperti shalat, zakat, dan ibadah haji sekalipun.
Mengapa ibadah puasa sedemikian populer dan diminati?. Padahal ibadah yang paling berat?. Ibadah shalat tidak boleh berbicara hanya beberapa menit saja. Ibadah zakat cukup menyerahkan sebagian harta kepada amil, malah bisa bisa masuk koran segala. Ibadah haji meskipun berat dalam biaya dan tenaga, tetapi selama pelaksanaannya serasa enjoy, bisa makan minum dan bahkan berbelanja.
Sedangkan ibadah puasa, harus menahan lapar dan dahaga sehari penuh. Juga tidak boleh berhubungan suami istri disiang hari. Klau bukan karena niat yang kuat untuk mendapatkan ampunan dan kemulyaan dari Allah, maka sungguh jarang ada yang kuat untuk melaksanakannya. Tetapi beratnya puasa ini justru menimbulkan sensasi yang diminati.
Dakwah bil hikmah
Membuminya ibadah puasa ini adalah karena keberhasilan pendekatan yang efektif dalam mendakwahkan puasa. Puasa tidak hanya didakwahkan dengan dalil kutiba alaikumusshiyam (diwajibkan atas kamu puasa).
Tidak hanya melalui pendekatan normatif dan teologis, sebagai salah satu rukun Islam, wajib hukumnya, dosa bagi yang meninggalkannya, pahala surga bagi yang melakukan, dan siksa neraka bagi yang meninggalkan. Tetapi dengan pendekatan filosofis dan rasional, yaitu dengan mengungkapkan maqasidut tasyri’(maksud hukum yang mendalam), asrarut tasyri’(rahasia syari’ah yang tersembunyi), dan hikmatut tasyri’(hikmah yang tersirat).
Puasa dikaji secara ilmiah dari berbagai sudut pandang dan aspek; aspek medis, psikis, dan sosial. Kemudian semua menghasilkan kesimpulan yang saling mendukung dan menyempurnkan. Secara medis puasa menyehatkan fisik, secara psikologis puasa menyehatkan jiwa, puasa dapat menumbuhkan kepedulian sosial, puasa melatih kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab, puasa meningkatkan etos kerja, dan temuan-temuan ilmiah lain yang positif.
Bahkan para ahli non muslim juga ikut mengkaji puasa dalam perspektif mereka, sehingga hasilnya lebih obyektif dan tanpa prasangka.
Peran media dalam mendakwahkan puasa juga sangat penting. Koran, majalah, tv, medsos, wa, internet, radio, baliho, spanduk, dll. Meskipun barangkali niat utama mereka adalah untuk merebut pasar, seperti supermarket dihiasi aksesori nuansa ramadhan, lagu-lagu rohani Islam.
Pengusaha memanfaatkan momen untuk memperbaiki citra, dalam rangka meningkatkan kepercayaan pasar. Politisi juga pasang iklan untuk menaikkan popularitas dalam rangka mendongkrak perolehkan suara. Tetapi ini semua memberi nuansa syi’ar Islam, dan turut mempopulerkan ibadah ramadhan, sehingga semakin dimengerti dan diminati.
Meniru puasa.
Ajaran-ajaran Islam yang lain mestinya harus didakwahkan dengan cara seperti puasa ini, agar menjadi populer dan diminati. Seperti zakat, larangan riba, minuman keras dan narkotika, larangan zina, korupsi, suap, monopoli, dan ajaran-ajaran syari’ah lainnya.
Dakwah dengan pendekatan normatif, mendahulukan dalil, halal haram, pahala dosa, sah tidak sah, untuk sekarang ini dirasa kurang efektif, dan bahkan memberi kesan yang tidak baik. Menimbulkan kesan negatif pada sebagaian orang luar. Kesan mereka, ajaran Islam itu rumit, ribet, banyak aturan, sedikit-sedikit dosa dan haram. Ini berakibat orang luar tidak tertarik, orang dalam juga dilanda bosan dan lari.
Kebenaran ajaran Islam harus kita buktikan dengan kajian-kajian ilmiah dan penelitian yang mendalam. Hal ini sudah banyak dibuktikan oleh hasil penelitian. Sudah terbukti minuman keras dan narkoba akan merusak akal, jiwa, banyak yang mati mendem, zina seks bebas akan menimbulkan virus HIV, aids, merusak rumah tangga, dan menghancurkan martabat, babi membawa flu babi, H1N1, dan menularkan karakter-karakter buruk, anjing menularkan rabies, riba akan menimbulkan ketidakadilan, kezaliman, dan merusak tatanan ekonomi.
Seluruh perintah dan larangan Syari’ah pasti tujuannya adalah untuk mewujudkan maslahat dan menghindari mafsadat.
Oleh karena itu, marilah kita dakwahkan ajaran Islam yang indah ini, dengan cara-cara yang menarik. Insyaallah ajaran Islam akan menjadi solusi bagi semua problem kehidupan. Orang mengamalkan Islam dengan penuh kesadaran dan bukan lagi sebagai beban rutinitas yang memberatkan.
Materi Khutbah Jum’at di Masjid Al Hasib BPK Jawa Tengah, Tanggal 27 Sya’ban 1445H/8 Maret 2024
Prof. Dr. H. Nur Khoirin YD., MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Ketua Nazhir Wakaf Uang BWI Jawa Tengah/Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Syari’ah/Nazhir Kompeten. Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang. Jatengdaily.com-St


