SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dua wartawan Suara Merdeka, Setiawan Hendra Kelana dan Imam Nuryanto, resmi melangkah sebagai calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah periode 2025–2030.

Keduanya ditetapkan setelah menyerahkan berkas pendaftaran kepada Panitia Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI di Gedung Pers Jateng, Semarang, Kamis (2/10/2025).
Setiawan Hendra Kelana atau akrab disapa Iwan datang lebih dulu sekitar pukul 11.21 WIB. Ia tidak sendiri. Sejumlah kolega turut mendampingi, di antaranya Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Agus Toto Widyatmoko, fotografer senior Sutomo, serta wartawan senior Sunarto.
Dukungan itu terasa hangat, seolah menunjukkan bahwa pencalonan Iwan bukan sekadar langkah pribadi, tetapi juga harapan bersama.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.30 WIB, giliran Imam Nuryanto tiba dengan simpatisannya. Ia juga mendapat suntikan semangat dari rekan-rekan lama, seperti mantan Ketua Forum Wartawan Provinsi dan DPRD Jateng, Sunu Andhy Purwanto, serta wartawan senior Beno Siang Pamungkas.
Kehadiran mereka menambah warna persaingan yang diyakini akan berlangsung sehat.
Ketua Panitia Konferprov, Achmad Zaenal Muttaqin, menyatakan berkas kedua kandidat telah diverifikasi lengkap. Persyaratan seperti KTP, kartu PWI, kartu Uji Kompetensi Wartawan (UKW), hingga bukti pengalaman kepengurusan, semua terpenuhi.
“Dengan demikian, Setiawan Hendra Kelana dan Imam Nuryanto resmi menyandang status calon Ketua PWI Jateng periode 2025–2030. Keduanya berhak bersaing pada Konferprov PWI, 18 Oktober 2025 mendatang,” ujar Zaenal didampingi sekretaris panitia, Alkomari.
Siap Adu Visi
Usai penetapan, kedua calon menyampaikan visi masing-masing. Iwan menekankan pentingnya menjadikan PWI sebagai organisasi yang bermartabat, adaptif terhadap era digital dan kecerdasan buatan (AI), serta tetap menjadi rumah bersama insan pers Jawa Tengah.
“UKW tetap program mahkota PWI. Saya ingin memperkuat profesionalisme wartawan lewat pelatihan, seminar, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak. PWI juga harus hadir memperjuangkan kesejahteraan wartawan,” katanya.
Iwan menepis anggapan persaingan ini akan menimbulkan jarak dengan Imam. “Tidak ada istilah dulu kawan kini lawan. Mas Imam tetap partner saya di Suara Merdeka. Persaingan ini untuk kebaikan organisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Imam menegaskan pencalonannya dilandasi keinginan agar PWI tetap menjadi rumah besar yang hidup, terbuka, dan demokratis. Ia menawarkan program peningkatan kompetensi wartawan melalui berbagai pelatihan jurnalistik.
“Organisasi sebesar ini jangan sampai aklamasi. Persaingan sehat justru membuat PWI lebih dinamis. Apapun hasil pemilihan nanti, Mas Iwan tetap saudara,” ungkapnya.
Bagi Imam, PWI harus hadir bukan hanya sebagai wadah profesi, tetapi juga sebagai garda terdepan membela wartawan ketika menghadapi persoalan hukum terkait karya jurnalistik. Ia pun optimistis bisa meraih dukungan mayoritas pada hari pemilihan.
Kini, jelang Konferprov PWI Jateng 18 Oktober mendatang, atmosfer persaingan kian terasa. Namun, dari cara keduanya berbicara, jelas bahwa kontestasi ini bukan sekadar soal kursi ketua, melainkan tentang menjaga marwah organisasi dan masa depan wartawan di Jawa Tengah. St
0



