
BLORA (Jatengdaily.com) – Pagi itu, udara di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora terasa berbeda. Di bawah langit biru cerah, deru drumband pelajar bersahut-sahutan dengan riuh tepuk tangan warga. Aroma tanah yang hangat berpadu dengan semangat yang menular — semangat literasi yang kembali menggema di Bumi Samin.
Dari 11 hingga 15 November 2025, Blora menjadi panggung besar bagi para pecinta literasi, pelajar, dan pegiat budaya. Festival Literasi Kabupaten Blora 2025 digelar dengan meriah, sekaligus menjadi momentum pengukuhan Bunda Literasi Kecamatan se-Kabupaten Blora. Tak hanya sekadar perayaan, acara ini adalah bentuk nyata tekad bersama untuk menyalakan kembali obor pengetahuan hingga ke pelosok desa.
Ratusan peserta dari berbagai kecamatan memenuhi area festival. Ada yang datang dengan pakaian adat, ada yang membawa buku, bahkan ada anak-anak kecil yang antusias mendengarkan dongeng di sudut tenda bacaan. Di tengah keriuhan itu, berdirilah sosok Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman, Bunda Literasi Kabupaten Blora, yang dengan senyum hangat menyapa para peserta.
“Gerakan literasi tidak boleh berhenti di kota,” ujarnya lantang di atas panggung. “Ia harus tumbuh di setiap desa, di setiap rumah, dan di setiap hati masyarakat Blora.”
Suara tepuk tangan bergemuruh. Di hadapan ratusan hadirin, Bunda Ainia melantik para Bunda Literasi Kecamatan — para perempuan tangguh yang akan menjadi motor penggerak literasi di daerahnya masing-masing.
“Bunda Literasi harus menjadi pelita. Menyala di tengah gelapnya ketidaktahuan, menuntun masyarakat agar literasi menjadi gaya hidup,” tambahnya dengan mata berbinar.
Di sisi lain, Kepala DPK Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustofa, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang seremonial, tetapi gerakan sosial yang menanamkan kesadaran tentang pentingnya belajar sepanjang hayat.
“Festival Literasi bukan hanya selebrasi. Ini adalah ajakan untuk terus membaca dunia, agar masyarakat Blora semakin maju,” ujarnya dengan nada tegas.
Festival ini memang dirancang bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk dirasakan. Dari pagi hingga malam, pengunjung disuguhi beragam kegiatan — bazar buku yang ramai dikunjungi siswa, seni tari dan barongan yang memadukan tradisi dan modernitas, hingga talkshow literasi bersama penulis dan pegiat budaya.
Namun, puncak kemeriahan terasa ketika Grand Final Pemilihan Duta Literasi Kabupaten Blora 2025 digelar. Sorot lampu panggung menerangi wajah-wajah muda yang penuh harapan. Setelah melalui proses panjang dan penjurian ketat, Agrinza Regina Nurfelis Nela dari SMA NU 1 Kradenan dinobatkan sebagai Juara Umum Duta Literasi Kabupaten Blora 2025.
Tangis haru dan senyum bangga bercampur saat namanya diumumkan. Ia berdiri di atas panggung dengan mata berkaca-kaca.
“Saya ingin membuat anak-anak di desa saya gemar membaca. Buku membuat saya bermimpi, dan saya ingin semua anak Blora punya mimpi yang sama,” ucap Agrinza lirih, namun penuh tekad.
Selain Agrinza, Mita Ayu Yolandani dari SMAN 2 Blora meraih Juara Favorit, Ridho Afif Khoirudin dari SMAN 1 Jepon mendapat Juara Inteligensi, Benedicta Najwa Lituhayu dari SMPN 1 Blora membawa pulang gelar Juara Bakat Terbaik, sementara Rizky Akbar Putra Basyari dan Muhammad Nabil Abrar Hartanto terpilih sebagai Juara Harapan I dan II.
Kemenangan mereka bukan sekadar gelar, tetapi simbol bahwa generasi muda Blora siap menjadi wajah baru literasi — anak-anak yang tidak hanya membaca buku, tapi juga menulis sejarah.
Festival Literasi Blora 2025 menutup rangkaian acaranya dengan pembacaan puisi bersama dan pertunjukan seni tradisi. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, para pengunjung masih enggan beranjak. Mereka duduk di antara tumpukan buku, berbincang, tertawa, dan berbagi cerita.
Di tengah kesederhanaan itu, tersimpan makna yang mendalam: bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi membaca kehidupan.
Melalui kegiatan ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berharap semangat literasi terus berakar kuat di Blora — tumbuh dari komunitas kecil, mengalir dari kampung ke kota, hingga menjadi kekuatan besar yang mengubah masa depan.
Dan di setiap halaman buku yang dibuka hari itu, terselip satu harapan sederhana namun abadi:
Blora yang gemar membaca, Blora yang terus belajar, Blora yang bercahaya. St



