By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Tim PkM USM Beri Edukasi Berbasis Budaya di Sanggar Belajar Indonesia di Malaysia
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Tim PkM USM Beri Edukasi Berbasis Budaya di Sanggar Belajar Indonesia di Malaysia

Last updated: 14 Mei 2025 08:19 08:19
Jatengdaily.com
Published: 14 Mei 2025 05:16
Share
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (PkM USM) memberikan edukasi berbasis budaya dengan tema "Simulasi Pasar Tradisional Indonesia" di Sanggar Belajar Indonesia, Kuala Lumpur, Malaysia, baru-baru ini.Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (PkM USM) memberikan edukasi berbasis budaya dengan tema “Simulasi Pasar Tradisional Indonesia” di Sanggar Belajar Indonesia, Kuala Lumpur, Malaysia, baru-baru ini.

Tim PkM USM terdiri atas Ketua Faisal Yusuf, B.A., M.M., M.B.A., anggota Dr. M.M. Shinta Pratiwi, M.A., Andi Nur Cahyo, S.Pd., M.Pd., dan Desika Nurjannah, S.Pd., M.MPar.

Menurut Faisal, kegiatan diikuti 30 anak-anak diaspora Indonesia usia 7-12 tahun.
Tujuan kegiatan untuk mengatasi tantangan rendahnya literasi ekonomi dan numerasi, serta keterbatasan pemahaman budaya Indonesia di kalangan anak-anak diaspora.

”Literasi numerasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang penting bagi perkembangan anak-anak, yang mempengaruhi kemampuan problem solving dan logika mereka,” katanya.

Dia mengatakan, kegiatan tersebut menggunakan pendekatan experiential learning dengan metode role-play, di mana anak-anak berperan sebagai pedagang dan pembeli dalam simulasi pasar tradisional.

Materi yang diajarkan meliputi literasi ekonomi dasar membahas tentang pemahaman konsep jual-beli, penentuan harga, dan promosi produk.

Kedua, numerasi Praktis meliputi penggunaan uang mainan (rupiah dan ringgit), penghitungan kembalian, dan penjumlahan sederhana.

Ketiga, edukasi budaya yakni mengenalkan komoditas khas Indonesia seperti buah-buahan, jajanan pasar, dan kerajinan tangan.

”Anak-anak sangat antusias. Namun, salah satu highlight yang cukup mencengangkan adalah adanya anak usia 8 tahun yang masih belum bisa menghitung dan menulis angka dengan benar. Hal ini menjadi pengingat pentingnya edukasi dasar bagi anak-anak diaspora yang mungkin kurang mendapat akses pendidikan berkualitas,” ujar Faisal.

Dia mengatakan, hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan numerasi dan literasi ekonomi anak-anak. Data evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata kemampuan numerasi dari 8,5 menjadi 9,2 (skala 10) setelah kegiatan.

”Meski hasilnya positif, kegiatan ini juga mengungkap tantangan edukasi bagi anak-anak diaspora, terutama dalam keterampilan dasar seperti berhitung dan menulis. Salah satu peserta, anak usia 8 tahun, diketahui belum mampu menghitung angka dengan benar dan mengalami kesulitan menulis angka secara rapi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi numerasi dan literasi sejak dini, terutama bagi komunitas diaspora yang memiliki keterbatasan akses pendidikan formal,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihaknya merekomendasikan untuk meningkatkan modul edukasi melalui pengembangan materi yang lebih sederhana dan visual. Selain itu juga menjalin kolaborasi dengan pakar pendidikan yakni dengan melibatkan psikolog anak dan ahli pedagogi budaya.

”Kami juga menyarankan untuk replikasi program yaitu mengadopsi kegiatan serupa di komunitas diaspora lainnya di Malaysia dan negara lain,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, katanya, Universitas Semarang menunjukkan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan, sekaligus memperkuat peran pendidikan informal berbasis budaya di komunitas diaspora.

”Kami berharap, model serupa dapat direplikasi di negara-negara lain dengan populasi diaspora tinggi seperti Singapura, Arab Saudi, dan Hong Kong,” tandasnya. St

You Might Also Like

Sukses Amankan Kelistrikan Natal, Dirut PLN Pimpin Siaga Pergantian Tahun
Sambut Menekraf/Kabekraf Teuku Riefky di Cikeas Art Gallery, SBY Tunjukkan Karya-karyanya
Warga Terdampak Parah Banjir Lahar di Sumbar Direlokasi
Raih Gold Medal, Siswa MIM Goes Thailand
Sebelas Kelompok Genk Motor di Batang Dibubarkan
TAGGED:di Sanggar Belajar IndonesiaOrtu di MalaysiaTim PkM USM Beri Edukasi Berbasis Budaya
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?