Belajar dari Masa Lalu, Mengubah Masa Kini, Menyongsong Masa Depan

7 Min Read

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

“Surah Al-‘Ashr mengingatkan manusia rugi kecuali beriman, amal saleh, nasihat kebenaran, dan kesabaran. Masa lalu pelajaran, kini kesempatan ubah, depan hasil usaha sungguh-sungguh. Man jadda wajada, man yazra’ yahsud”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka Surah Al-‘Ashr dengan firman Nya yang sangat agung: demi waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”

Ayat yang sangat singkat ini sering kita dengar dan hafal, tetapi jika direnungkan dalam-dalam, kandungannya mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Allah bersumpah dengan masa (waktu), karena di dalamnyalah seluruh perjalanan hidup manusia berlangsung: ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di antara ketiga dimensi waktu itu, manusia diuji, dinilai, dan akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Waktu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Waktu tersusun dari tiga bagian: masa lalu (past), masa kini (present), dan masa depan (future). Ketiganya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan setiap manusia.

Tidak ada seorang pun yang tidak punya masa lalu. Orang baik maupun orang jahat, orang salih maupun pendosa, semuanya memiliki lembaran cerita di belakang mereka. Ada yang indah, ada yang kelam, ada yang membanggakan, ada pula yang memalukan.

Tidak ada seorang pun yang tidak punya masa depan. Selama seseorang masih diberi hidup, selama napas masih berhembus, pintu untuk melangkah ke depan tetap terbuka. Orang yang dulunya buruk masih bisa menjadi baik, dan orang yang sejak dulu baik tetap diuji agar mampu mempertahankan kebaikannya sampai akhir hayat.

Dan kini, semua orang hidup di masa kini. Inilah titik penentu. Masa lalu tidak bisa diulang, masa depan belum datang, tetapi masa kini adalah ruang di mana manusia dapat memilih, berusaha, dan berubah. Di sinilah manusia menentukan apakah ia termasuk golongan yang merugi atau golongan yang beruntung sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-‘Ashr.

Allah menegaskan bahwa secara umum manusia berada dalam kerugian. Kerugian di sini bukan sekadar rugi harta atau kedudukan, tetapi kerugian hakiki: rugi umur, rugi kesempatan beramal, rugi karena jauh dari ridha Allah, bahkan rugi di akhirat kelak. Namun, Allah juga menyebutkan pengecualian, yaitu orang-orang yang: beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan Saling menasihati dalam kesabaran. Artinya, kerugian bisa dihindari, selama manusia mau mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, dan budaya saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Masa lalu bukan vonis, tetapi pelajaran. Masa kini adalah kesempatan. Masa depan adalah hasil dari apa yang kita usahakan.

Masa Lalu Bukan Akhir, Tetapi Awal Perubahan

Sering kali seseorang merasa terikat oleh masa lalunya. Ada yang merasa hina karena dosa-dosa yang dulu dilakukan. Ada yang merasa tidak layak berubah karena lingkungan yang kelam. Ada pula yang terjebak dalam penyesalan tanpa berani melangkah. Padahal, dalam Islam, masa lalu yang kelam tidak menutup pintu kebaikan di masa depan.

Betapapun buruknya masa lalu, selama seseorang bertobat dan kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh, kesempatan menjadi hamba yang mulia tetap terbuka. Banyak teladan dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa masa lalu bukanlah penentu akhir kehidupan seseorang.

Menyongsong Masa Depan yang Lebih Baik

Masa lalu telah berlalu dan tidak bisa diubah, tetapi bisa dijadikan pelajaran. Masa depan belum datang, tetapi bisa disiapkan. Masa kini adalah waktu yang tepat untuk berubah. Sebab itu, menyongsong masa depan yang lebih baik berarti memanfaatkan masa kini dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa prinsip yang bisa kita pegang:

Pertama, Jangan terlalu larut dalam kesedihan karena masa lalu yang kelam atau lingkungan buruk. Pengalaman traumatis dan keterbatasan bukan alasan untuk menyerah atau berhenti berusaha. Justru dari kesulitan itulah banyak orang besar lahir, seperti Abraham Lincoln dan Oprah Winfrey yang tumbuh dari kemiskinan serta rintangan besar hingga membentuk ketangguhan mereka; demikian pula Salahuddin Al-Ayyubi, sultan Muslim yang bangkit dari latar belakang sederhana untuk merebut Yerusalem, Muhammad Ali, petinju legendaris Islam yang mengatasi diskriminasi rasial dan kemiskinan menuju kejayaan dunia, Tan Malaka yang dari pengasingan dan kemiskinan menjadi pemimpin revolusioner Indonesia, serta B.J. Habibie yang melewati keterbatasan ekonomi untuk menjadi insinyur jenius dan presiden inovatif.

Kedua, Berubah dan bangkit jauh lebih indah daripada diam dan hanya bermimpi.
Mimpi tanpa usaha hanya akan menjadi angan-angan. Sebaliknya, langkah kecil tetapi nyata akan mengubah arah hidup seseorang. Perubahan tidak selalu harus besar dan tiba-tiba. Terkadang, perubahan dimulai dari hal-hal kecil: memperbaiki shalat, menjaga lisan, mengurangi maksiat, menambah bacaan Al-Qur’an, serta memperbaiki hubungan dengan orang tua dan sesama.

Ketiga, Man jadda wajada. “Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa kesungguhan adalah kunci. Dalam urusan dunia maupun agama, Allah mencintai hamba yang bersungguh-sungguh berusaha. Keberhasilan tidak datang kepada orang yang hanya berangan-angan tanpa tindakan.

Keempat, Man yazra’ yahsud. “Siapa yang menanam, dia akan menuai.” Kehidupan ibarat ladang. Apa yang kita tanam hari ini akan kita panen suatu saat nanti. Jika kita menanam kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan amal saleh, maka kelak kita akan memanen pahala dan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika kita menanam keburukan, kedzaliman, dan kelalaian, maka kita juga akan menerima akibatnya.

Kesimpulan

Surah Al-‘Ashr mengingatkan bahwa manusia secara umum dalam kerugian, kecuali yang beriman, beramal saleh, saling nasihat kebenaran, dan kesabaran. Waktu masa lalu pelajaran, masa kini kesempatan, masa depan harapan adalah ujian hidup. Jangan terikat masa lalu kelam; tobat dan usaha sungguh-sungguh (man jadda wajada) membuka jalan perubahan. Tanam kebaikan hari ini (man yazra’ yahsud) untuk panen berkah dunia-akhirat.

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.

  • Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik Unissula Semarang.
  • Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Masyarakat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah.
  • Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st
0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.