By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Belanja Bijak Perspektif Islam
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Belanja Bijak Perspektif Islam

Last updated: 3 Maret 2026 13:10 13:10
Jatengdaily.com
Published: 3 Maret 2026 13:10
Share
SHARE

Oleh Ahmad Rofiq

Sore ini, Selasa, 3/3/2026 saya mendapat kehormatan sebagai narasumber pada acara KURMA (Kupasan Ramadhan Penuh Makna) bersama Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah Bapak Muh Noor Nugroho di Ruang Utama Masjid Agung Jawa Tengah.Tema yang diusung adalah Belanja Bijak Jelang Idul Fitri.

Tema tersebut dimaksudkan, untuk menyampaikan literasi kepada masyarakat, di saat-saat kebutuhan meningkat, agar Bijak dalam ber-Belanja, cukup dengan memenuhi kebutuhan, tidak memenuhi keinginan/secara ekonomi, belanja yang terdorong karena iming-iming oleh modus dagang banyak took dengan seolah memberi diskon, seperti beli 2 dapat 1, padahal prinsip berdagang adalah tidak mau merugi. Kira-kira tarif harga barang sudah dinaikkan, agar oplah penjualan meningkat.

Karena itu, melalui renungan ini, mari kita cermati Bersama rambu-rambu Al-Qur’an dalam berbelanja, mengonsumsi makanan, dan berbusana. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-A’raf 31: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi jangan berlebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.

Rasulullah juga mengingatkan: “Makan, minumlah, berbusanalah, dan bersedekahlah, tidak sombong/angkuh, dan tidak berlebihan. Maka Sesungguhnya Allah mencintai apabila kenikmatan yang diberikan-Nya dilihat hamba-Nya” (Musnad Ahmad, 6421).

Dalam tata cara makan, Rasulullah saw sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Basith Muhammad menjelaskan setidaknya ada 23 (dua puluh tiga) etika makan (lihat Al-I’jaz al-‘Ilmi fît Tasyri’ al-Islami, h. 353-360) dan dikutip oleh nulonline.com:

1). Saat puasa beliau mengawali buka dengan makan buah kurma, jika tidak ada buah anggur, delima, minyak zaitun, buah tin, madu, susu atau air putih.

2). Makan berhenti sebelum kenyang, dan makan ketika lapar.

Mengisi perut berlebihan dapat menyebabkan rasa kantuk, malas beraktivitas, berat beribadah, bahkan dalam jangka panjang, bisa menimbulkan obesitas. Dalam hadits riwayat Ahmad, beliau menganjurkan agar kita menjadikan sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas.

3). Rasulullah saw mengingatkan agar kita tidak menghadiri undangan makan yang kita tidak diundang dan tidak mengajak orang lain.

4). Saat makan supaya berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar.Menurut Rasulullah saw, dalam kebersamaan ada keberkahan.

5). Jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang turut makan makanan kita adalah orang yang saleh, bertakwa, dan orang yang berpuasa.

6). Tidak makan sambil tiduran atau telentang. Tidak pula makan di tempat yang tersedia makanan tidak halal.

7). Tidak bersandar pada saat makan. Cara ini makruh dan kurang baik. Posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan serta menduduki kaki yang kiri.

8). Duduk dengan rendah hati di hadapan makanan dan makan dari bagian pinggir makanan, membasuh kedua tangan sebelum dan setelah makan.

9). Tidak pernah mencela makanan. Jika tidak suka makanan tertentu, Rasulullah saw mencontohkan cukup meninggalkannya.

10). Membaca basmalah sebelum makan. Dan jika lupa membacanya, bacalah di saat ingat, bismillahi fî awwalihi wa akhiri.

11). Selalu makan dan minum dengan tangan kanan. Sahabat Al-Akwa‘ menyebutkan, saat ada pria yang makan dengan tangan kiri, Rasulullah saw. langsung menegurnya, sebagaimana hadis riwayat Muslim.

11). Lebih dianjurkan makan dengan tangan karena lebih mempercepat proses pencernaan makanan dalam perut.

12). Tidak mengambil bagian pucuk atau bagian tengah makanan. Rasulullah saw dalam hadis Abu Dawud dan At-Tirmidzi, “Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka, makanlah di pinggir-pinggirnya, jangan di tengah-tengahnya.”

13). Rasulullah saw mengajarkan agar menghabiskan makanan yang ada di piring dan mengambil makanan yang terjatuh. Sebab kita tidak tahu pada makanan manakah keberkahan itu berada. Demikian seperti dalam hadits At-Tirmidzi.

14). Menunggu makanan tidak panas. Tidak bersendawa di saat makan. Tidak mengambil nafas atau mengeluarkannya dalam gelas minum. Rasulullah saw bersabda: “Jika salah seorang kalian minum, maka janganlah bernafas di dalam gelas. Namun, jauhkanlah gelas itu dari mulutnya.”

15). Melumat sisa-sia makanan yang masih menempel pada jari-jari. Demikian yang dilakukan Rasulullah saw sebagaimana riwayat Anas.

16). Tunjukkanlah rasa gembira kepada yang memasak dan mengajaknya makan bersama-sama. Jika ia tidak mau, ambilkan atau sisihkanlah untuknya sebagai pengormatan.

17). Selalu berbagi makanan dengan siapa saja, sebagaimana sabdanya, “Jika kalian memasak dalam sebuah wajan, maka perbanyaklah airnya agar tetangga kalian dapat turut menikmatinya.”

18). Hindari makanan-makanan beraroma tidak sedap, seperti bawang, jengkol, petai, kecuali setelah dimasak sempurna sehingga hilang baunya.

19). Hindari makan atau minum sambil berdiri kecuali dalam keadaan darurat.

20). Rasulullah saw. mencontohkan kepada kita untuk menggilir makanan atau minuman kepada orang lain. Beliau mengambil giliran yang terakhir setelah orang lain mendapatkannya.

21). Agar selalu membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut dan bersiwak atau menyikat gigi setelah makan.

22). Berdoa setelah makan, sebagai bentuk syukur kepada Allah, dan mengundang ampunan-Nya. “Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikanya sebagai rezeki bagiku tanpa daya dan kekuatan dariku.

Sebentar lagi Idul Fitri, agar supaya hasil puasanya kita berupa kesucian dan kesehatan, tidak berubah menjadi penyakit, janganlah “balas dendam” syukur kita berpuasa sunnah selama enam hari setelah 1 Syawal, yang pahalanya sama dengan puasa satu tahun.

Demikianlah 22 etika dalam Islam yang dicontohkan Rasulullah saw. Etika tersebut menjadi landasan bagi umatnya agar selalu mengerjakan segala sesuatu dengan norma-norma dan rambu-rambu syariat. Sehingga apa yang dilakukan umat Islam akan selalu berdampak baik dan membawa kemaslahatan. Semoga bermanfaat.

Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Direktur LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika-Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Pengertian Kemiskinan Itu Sangat Nisbi
Pandemi, Resesi dan Kemiskinan Jawa Tengah
Pekerja Informal: Penopang Ekonomi dalam Senyap
OKU dan Tantangan Ulama Masa Depan
Dampak dan Manfaat Inflasi Jawa Tengah
TAGGED:Belanja BijakPerspektif Islam
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?