By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Festival Kali Tuntang Jadi Pengingat Sejarah dan Pelestarian Budaya Demak
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Festival Kali Tuntang Jadi Pengingat Sejarah dan Pelestarian Budaya Demak

Jatengdaily.com
Published: 31 Oktober 2026 11:13
Share
Wabup Demak KH Muhammad Badruddin didampingi Asisten 1 Sekda Umar Surya Suksmana dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Haris Wahyudi Ridwan memukul gong, menandai dimulainya Festival Kali Tuntang ke-8 tahun 2026. Foto : sari jati 
SHARE

DEMAK (Jatengdaily.com)- Festival Kali Tuntang ke-8 Tahun 2026 menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Demak menjaga warisan sejarah sekaligus memperkenalkan kesenian lokal kepada generasi muda. Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak tersebut berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, di kawasan pertigaan Jalan Singkil.

Wakil Bupati Demak KH Muhammad Badruddin mengatakan, Kali Tuntang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, kehidupan sosial, dan perkembangan masyarakat Demak. Keberadaan sungai tersebut menyimpan banyak cerita serta nilai kehidupan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Festival ini bukan sekadar ajang berkumpul dan menikmati pertunjukan seni, tetapi menjadi sarana mengenalkan kembali sejarah dan keberadaan Kali Tuntang, khususnya kepada generasi muda,” ujarnya saat membuka festival, Sabtu (31/10/2026).

Menurutnya, generasi muda perlu mengenal akar sejarah dan budaya daerah agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan zaman. Karena itu, masyarakat diajak menjaga tradisi, mengembangkan potensi budaya lokal, serta memberikan kesempatan lebih luas kepada anak muda untuk belajar dan terlibat dalam pelestarian budaya.

Badruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sungai. Menurutnya, kebanggaan terhadap sejarah Kali Tuntang harus diikuti kepedulian nyata untuk merawat kebersihan dan kelestariannya. Masyarakat diminta tidak membuang sampah sembarangan serta ikut menjaga lingkungan di sepanjang aliran sungai.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak Haris Wahyudi Ridwan menjelaskan, Kali Tuntang merupakan salah satu ikon daerah yang memiliki nilai sejarah penting. Pada masa kejayaan Kesultanan Demak, sungai di depan Pendopo Kabupaten Demak itu diperkirakan memiliki lebar 30 hingga 50 meter dan menjadi jalur transportasi yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan laut lepas. Bahkan, material pembangunan Masjid Agung Demak, termasuk kayu, konon diangkut melalui jalur sungai tersebut.

Perubahan terjadi pada masa kolonial Belanda ketika dilakukan pengendalian air dan pembangunan tanggul yang mengubah aliran utama sungai. Sedimentasi serta pengalihan aliran membuat sungai yang melintasi pusat pemerintahan Demak menjadi lebih kecil dan kemudian dikenal sebagai Kali Tuntang Lama.

“Festival ini kami selenggarakan untuk melestarikan budaya sekaligus mengenalkan kembali sejarah Kali Tuntang kepada generasi muda. Harapannya, setelah mengenal, masyarakat semakin mencintai dan ikut melestarikan budaya daerah,” kata Haris.

Festival kali ini menampilkan beragam kesenian dari grup dan sanggar seni di Kabupaten Demak, mulai dari karawitan, teater, tari, seni rupa, rebana zipin, macapat hingga barongan. Haris berharap kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menyampaikan pesan melalui pertunjukan. “Kalau kita tidak melestarikan, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kami ingin generasi muda mengenal dan meneruskan warisan budaya yang kita miliki,” tandasnya.

Selain pertunjukan seni pada siang dan malam hari, rangkaian festival berlangsung hingga Minggu (01/11/2026). Pemkab Demak berharap kegiatan tahunan tersebut terus berkembang, melibatkan lebih banyak komunitas dan pelaku usaha lokal, serta menjadi sarana memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan daerah.rie-she

DEMAK (Jatengdaily.com)– Karang Taruna Kabupaten Demak terus memperkuat peran pemuda dalam upaya penanggulangan bencana. Melalui gerakan tanggap bencana, organisasi kepemudaan ini mendorong seluruh anggotanya agar tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi bencana, tetapi turut hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Demak, Kresna Bayu Ilham Sumarno SH, mengatakan pemuda memiliki peran penting sebagai penolong pertama bagi warga terdampak bencana. Karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.

“Sebagai pemuda, ketika terjadi bencana kita tidak boleh hanya diam. Kita harus bergerak dan menjadi salah satu pihak yang pertama membantu masyarakat terdampak,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Saat ini, Karang Taruna Demak telah melakukan pemantauan terhadap potensi bencana di sekitar 249 desa. Pemantauan dilakukan secara berjenjang melalui pengurus Karang Taruna tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Salah satu fokusnya adalah membantu warga di wilayah terdampak kekeringan dengan menyalurkan bantuan air bersih.

Selain kekeringan, perhatian juga diarahkan pada potensi kebakaran yang meningkat saat musim kemarau panjang. Pengurus Karang Taruna di setiap wilayah diminta memantau kondisi lingkungan dan segera menyampaikan laporan apabila ditemukan titik-titik rawan bencana.

Kesiapsiagaan juga dilakukan untuk menghadapi musim hujan. Para pengurus turut memantau perkembangan kondisi saluran irigasi di wilayah masing-masing sebagai langkah antisipasi agar potensi genangan maupun banjir dapat diketahui lebih awal.

Kresna mencontohkan, ketika terjadi banjir akibat tingginya intensitas hujan di wilayah perbatasan Kebonagung dengan Purwodadi, Karang Taruna langsung bergerak memberikan bantuan. Begitu pula ketika bencana terjadi di dua titik wilayah Kecamatan Kebonagung dan Mranggen, bantuan berupa makanan siap saji dan air bersih disalurkan kepada warga terdampak.

“Kami sudah terorganisasi dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Jadi, ketika ada laporan kejadian bencana, seluruh jajaran bisa bergerak bersama untuk menyalurkan bantuan ke lokasi,” jelasnya.

Melalui gerakan Karang Taruna Tanggap Bencana, Karang Taruna Bergerak, Warga Selamat, Kresna berharap semakin banyak pemuda yang memiliki kepedulian dan kesiapan untuk membantu sesama. Menurutnya, kehadiran Karang Taruna bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan juga bagian dari kekuatan sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.rie-she

You Might Also Like

Sektor Pariwisata Jadi Basis Ekonomi Baru
Dokter Aristya Maulida Safuranti Raih Gelar Doktor di Untag Semarang, Soroti Penguatan Regulasi PBI JKN untuk Masyarakat Miskin
Sasar 6 Desa, SG Bagikan 12.500 Paket Prokes untuk Masyarakat Rentan
Persis Solo Akhirnya Bangun dari Tidur Panjang
Bareskrim Polri Panggil Wulan Guritno Besok Terkait Dugaan Promosi Judi Online
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?