By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Geger Panas Bumi Ungaran: Mak Bedhundhuk di Tanah Dewa
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
GagasanTechnology

Geger Panas Bumi Ungaran: Mak Bedhundhuk di Tanah Dewa

Last updated: 3 September 2026 15:29 15:29
Jatengdaily.com
Published: 3 September 2026 15:07
Share
SHARE

Oleh: Gus Anis Maftukhin

ADA satu kata Jawa yang paling pas untuk warga lereng Gunung Ungaran saat ini:

Mak bedhundhuk

Tiba-tiba. Kaget. Njondhil

Seperti orang tidur kepati, alias angkler lalu diguyur air es.

Begitulah perasaan warga di kaki Gunung Ungaran. Terutama warga Dusun Ngonto, Desa Candi, Kecamatan Bandungan.

Kabar itu datang tanpa kulo nuwun Eksplorasi panas bumi. Geothermal.

Grup-grup WhatsApp warga langsung pating sliwer kabar. Pro dan kontra. Positif dan negatif.

Rata-rata cemas. Mereka mencari kebenaran. Bukan karena warga anti-pembangunan. Bukan.

Bukan pula alergi energi bersih. Tidak. Mereka hanya merasa: gunung tempat mereka hidup akan dibongkar, tapi mereka merasa tak pernah diajak bicara.

Ini bukan proyek kecil-kecilan. Ini proyek raksasa. Wilayah kerjanya 29.800 hektare. Membentang dari Kabupaten Semarang hingga Kendal. Targetnya 55 Megawatt (MW).

Nilai investasinya bikin mengkeret: 300 juta dolar AS. Sekitar Rp 5 triliun!

Bumi Ungaran akan dibor vertikal. Kedalamannya 1.900 hingga 2.200 meter. Menembus kerasnya batu vulkanik purba.

Kabar terbaru dari sejumlah aktifis lingkungan makin bikin ngelus dada.

Konon, pengeboran akan dilakukan di 12 titik. Dua belas!

Di permukaan tanah, lahan yang dibabat tidak main-main. Luasnya setara enam kali lapangan sepak bola. Bayangkan. Enam lapangan bola di lereng gunung! Hanya untuk menampung menara bor raksasa.

Itu baru di atas. Di bawah tanah, lebih ngeri lagi.

Pipa-pipa besi itu akan menjalar. Bercabang-cabang. Merayap sejauh 2 kilometer. Tepat di bawah fondasi rumah warga. Tepat di perut sumber air desa.

Bagi negara, Rp 5 triliun itu angka investasi. Bagi warga, besarnya proyek itu melahirkan pertanyaan: “Seberapa mahal harga yang harus kami bayar jika alam tempat kami numpang hidup ini rusak?”

Warga tidak sekadar parno. Ada ribuan nyawa di sana.

Di ring satu—hanya radius 1 kilometer dari kawah utama Gedong Songo—ada tiga dusun yang paling terancam.

Dusun Darum (90 KK), Dusun Ngipik (150 KK), dan Dusun Talun (300 KK).

Total ada sekitar 2.000 jiwa warga Desa Candi yang akan merasakan getaran rig raksasa itu tiap hari.

Ancamannya nyata. Setidaknya ada tiga ketakutan besar yang membayangi.

Pertama, Candi Gedong Songo.

Rencana titik bor itu sangat dekat. Hanya sekitar 500 meter dari Candi Gedong V.

Bayangkan. Sebuah mahakarya leluhur. Dibangun dari batu andesit. Tanpa semen. Hanya mengandalkan kuncian alam (interlock) dan gaya tarik bumi (gravity wall).

Lalu, tiap hari dihajar getaran frekuensi tinggi (continuous vibration) dari mesin bor 2.000 meter.

Kancingan purba itu bisa _modhal-madhil_ . Longgar. Retak. Lalu runtuh.

Mungkin insinyur bilang aman. Tapi candi bukan sekadar tumpukan benda mati. Ia adalah roh. Ia adalah warisan.

Kedua, ancaman krisis air.

Bagi orang kota, air itu tinggal putar keran. Bagi petani lereng gunung, air adalah nyawa

Gunung Ungaran adalah “spons” raksasa. Tandon air alami. Mengaliri Kecamatan Bandungan, Sumowono, Boja, hingga hilir Semarang dan Kendal.

Lebih dari 60.000 jiwa menggantungkan hidupnya pada tandon ini. Termasuk warga Desa Gonoharjo (Kendal) yang punya wisata Nglimut.

Bagaimana jika pipa baja pengeboran (casing) gagal atau retak? Apalagi ada jejaring pipa 2 kilometer di bawah sana. Air tanah dangkal milik warga bisa tersedot amblas ke reservoir bawah bumi. Mata air mati.

Warga tidak asal menebak. Mereka melihat Baturraden di lereng Gunung Slamet.

Di sana, eksplorasi awal membabat puluhan hektare hutan lindung. Akibatnya erosi parah. Sungai Prukut jadi banyu buthek . Cokelat pekat berlumpur. Ribuan ikan mati. Petani menjerit.

Warga Ungaran hanya bilang: “Jangan sampai nasib kami seperti Baturraden.”

Ketiga, gas beracun.

Panas bumi selalu punya _gawan bayi_ : gas korosif dan beracun.

Warga trauma melihat kasus Dieng. Tahun 2022, di Wellpad 28 Dieng, gas Hidrogen Sulfida ($H_2S$) bocor. Katup gagal berfungsi. Satu pekerja tewas. Puluhan orang muntah darah dan sesak napas.

Atap seng rumah warga Dieng juga hancur berkarat ditiup uap belerang. Sumur-sumur menghilang berubah asin dan payau.

Ancaman ini bisa meluas.

Di sabuk timur, ada Kecamatan Pringapus. Ada Kecamatan Bawen dan Ambarawa yang duduk tepat di atas Sesar Rawa Pening.

Air bertekanan tinggi yang disuntikkan kembali ke perut bumi (re-injection) berisiko memicu gempa mikro (Induced seismicity). Sesar yang semula ayem tentrem bisa bergeser.

Inilah masalah utamanya. Komunikasi yang mampat. Pembangunan tidak dimulai dari raungan alat berat.

Pembangunan dimulai dari rasa percaya. Kalau warga diajak bicara, mereka akan paham. Kalau informasi _mak bedhundhuk_ dan datang terlambat, yang mekar hanyalah kecurigaan.

Apalagi listrik interkoneksi Jawa-Bali saat ini masih surplus (oversupply).

Pemerintah Kabupaten Semarang dan Kendal tidak boleh diam. Harus segera turun gunung.

Bukan untuk memaksakan proyek. Buka peta. Buka dokumen AMDAL.

Jelaskan titiknya di mana. Jelaskan bagaimana menjaga candi dan air.

Rakyat tidak minta yang muluk-muluk. Mereka cuma tidak ingin jadi penonton—lalu jadi korban—di tanah wuih getih -nya sendiri.

Energi bersih memang penting. Tapi meminggirkan manusia dan alamnya bukanlah kemajuan.

Gunung Ungaran bukan cuma tambang panas bumi. Ia adalah rumah.

Dan rumah, sampai kapan pun, harus dijaga. Bersama-sama.

Penulis adalah Pemerhati Lingkungan, Pegiat Literasi Islam, Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang, Kabupaten Semarang.

You Might Also Like

Jokowi Cenderung Dukung Prabowo Subianto? “Mikul Duwur, Mendhem Jero”
Sisi Lain dari Kehidupan Normal
Ultah ke-17 Bina Finansia: Prestasi dan Tantangannya
Membaca Arah Pembangunan Kabupaten Tegal dari Angka ke Aksi
Membaca Angka-Angka di RAPBN 2026
TAGGED:di Tanah DewafypGeger Panas Bumi UngaranMak BedhundhukPengeboran bawah tanah
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?